DIRUT BANK BUKOPIN SYARIAH: Semua Sistem Penting

Oleh: Novita Sari Simamora & Roni Yunianto 04 Februari 2015 | 13:46 WIB

Bisnis.com, JAKARTA: Dalam dunia perbankan, kerap dijumpai figur bankir yang berasal dari keluarga besar yang memiliki profesi yang sama. Salah satunya adalah Riyanto. Dirut Bank Syariah Bukopin ini juga satu dari sebagian bankir yang beruntung karena memiliki pengalaman komplit. Di perbankan konvensional maupun syariah. Apa saja pandangannya terkait industri, gaya dan kiatnya memimpin? Bisnis meawancarainya dalam satu kesempatan baru-baru ini. Berikut petikannya:

Bisa dijelaskan progres perbankan syariah saat ini, dan secara umum sejauh mana terjadi pergeseran nasabah dari konvensional ke bank syariah di tahun-tahun mendatang?

Pergeseran dana tergantung pada kebutuhan. Dana akan meningkat sejalan dengan ketersediaan dan gencarnya teknologi informasi dan komunikasi.  Banyak pengusaha dan masyarakat yang mengalihkan dananya ke perbankan syariah dan dana semakin baik. Walaupun mereka enggak sepenuhnya mengalihkan dana.
Nasabah juga membeli produk syariah dan kita akan terus melihat. Ini tercermin dari rata-rata pertumbuhan bisnis syariah yang lebih tinggi dibandingkan dengan bisnis [bank] konvensional. Hanya saja pada 2014 ada penurunan, mana kala syariah lebih rendah daripada yang konvensional dan ini situasional. Ini karena adanya tekanan likuiditas di bisnis bank.
Efeknya bagi bank syariah menjadi lebih terasa dan Bank Syariah Bukopin sebagai bank syariah baru, [dan bagi kami] ketika ada tekanan ini menjadi langsung terasa. Dari sisi prospek, prospeknya sangat besar. Bahwa bank syariah akan berkembang serta bisa menjadi salah satu alternatif jasa perbankan yang berkembang, dan tentunya ini akan lebih baik.

Bagaimana dengan peluang perbankan syariah di pasar kawasan, Asean misalnya?

Kami juga terus menggali apa saja kebutuhan konsumer, kebutuhan masyarakat. Dalam mekanismenya, semua sudah kami rangkum. Bahkan ini sudah kami sampaikan ke otoritas, dan kini menjadi kajian di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ada pula agenda yang terus kami susun untuk upaya memperbaiki pengelolaan bisnis.

Boleh dipaparkan, apa yang dibahas bersama otoritas?

Misalnya saja, loan to value (LTV), pengelolaan dana haji, ketentuan pembukaan cabang, penetapan kolektibilitas, pencatatan akuntansi dan banyak hal yang terkait dengan sumber daya insani (SDI). Banyak juga masukan yang disampaikan industri karena ini didasarkan pada pengalaman kami di lapangan. Kini OJK sedang membuat suatu kajian dan nantinya akan mengarah pada aturan konvensional. Kami berharap ada insentif, untuk memberikan dukungan kepada kami. Karena kami menyadari dari sisi usia, misalnya, Bank Syariah Bukopin masih relatif muda dan kami masih kecil. Kami melihat, kami masih membutuhkan perlindungan dan dorongan untuk tumbuh menjadi lebih baik.

Sebenarnya seberapa tertinggal Indonesia dengan negara kawasan dalam hal perbankan syariah?

Indonesia masih jauh tertinggal dari Malaysia. Kalau di Malaysia porsinya sudah 10%, sedangkan porsi syariah di Indonesia baru 4%. Malaysia lebih mendukung industri syariah dengan kebijakan yang mendorong bank syariah dan kelihatannya kita ketinggalan jauh.

Bagaimana karakteristik profesional di Bank Syariah Bukopin? 

Bank Syariah Bukopin banyak diisi oleh profesional asal Bank Bukopin dan itu sangat mewarnai dan enggak sama 100% dengan Bukopin. Bank Syariah Bukopin memiliki karakter syariah dan kekeluargaan yang lebih menonjol.

Bagaimana Anda mengawali karier?

Awalnya saya bergabung di Bank Bukopin pada 1988, sampai 2009. Lalu pada 2009, masuk dengan program Management Development Program (MDP) 3. Saya sudah memulainya mulai dari bagian operasional pembiayaan, langsung pegang outlet, pernah menjabat kepala divisi risk management, pernah juga di bagian divisi remedial. Pernah merangkap menjadi Direktur Utama Bukopin Finance, sekaligus merangkap di kepala divisi perencanaan keuangan. Lalu pernah juga menjadi sekretaris perusahaan Bukopin.

Bekerja di mana sebelum di Bank Bukopin?
Pernah di Indosteel sekitar dua tahun.

Selama di Bank Syariah Bukopin pernah membawahi berapa cabang?

Awalnya cabang Bank Syariah Bukopin cuma dua yakni di Sidoarjo  dan Samarinda. Lalu pada 2010, Bank Syariah Bukopin melakukan pemisahan dari induk, spin off, lalu buka cabang di Semarang, Yogyakarta,  Solo, Makassar dan kini akan buka cabang lagi.

Bagaimana cara Bank Syariah Bukopin memilih lokasi yang strategis untuk membuka cabang?

Terkait dengan masalah mencari lokasi yang sesuai dengan Bank Syariah Bukopin, bank harus berada di lokasi yang strategis dan itu enggak mudah. Karena saya sendiri  harus langsung turun ke lapangan dan banyak liku-likunya. Lihat. Putuskan. Harus cepat. Tantangan kedua, penyiapan sumber daya insani (SDI) dan infrastruktur. Ini bukan sesuatu yang baru dan ini relatif saat pembukaan outlet.

Bisa dijabarkan, apa yang menjadi visi Anda dalam lima tahun ke depan?

Lima tahun ke depan kami ingin membangun Bank Syariah Bukopin menjadi salah satu bank yang unggul dari sisi pelayanan. Kami concern dengan itu. Apalagi melihat persaingan bank-bank yang akan semakin meningkat. Artinya, kalau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diberlakukan pada 2020. Ini ajang untuk meningkatkan persaingan.

Sekarang, hanya bank yang memiliki keunggulan yang mampu menghadapi MEA. Ini sesuatu yang enggak mudah, karena perbankan di Asia dari sisi permodalan banyak memiliki keunggulan daripada di Indonesia. Kita punya waktu lima tahun untuk mempersiapkan itu.

Apa saja yang perlu dipersiapkan?

Yang perlu diperbaiki dari sisi sumber daya manusia (SDM) dan persaingan layanan. Ini sangat membantu. Maka dari itu, teknologi informasi akan jadi hal penting untuk merealisasikan visi.  Teknologi informasi akan membantu bank syariah dalam mengelola risiko.
Kami sangat merasakan bahwa usaha bank mengalami peningkatan teknologi informasi yang semakin canggih, dan jasa layanan bank, maka ini akan meningkatkan risiko bank. Pengelolaan risiko juga jadi concern kami untuk mewujudkan keunggulan dari sisi pelayanan.

Anda tergolong eksekutor yang cepat ya?

Saya melihat situasi dan ada hal-hal yang perlu cepat [dieksekusi]. Ada risk management dan ada hal-hal yang lebih, ini dilihat dari sisi keamanan. Oleh karena itu, proses bisnis yang ada ini perlu diikuti dan tergantung pada jenis pekerjaan dan keputusan yang diambil. Ini tergantung pada kebiasaan dan proses. Jadi tahapan dan prosesnya harus jelas.
Saya meyakini itu. Proses menjadi sangat penting, apalagi dalam bisnis perbankan. Ini bisnis yang memiliki tingkat risiko tinggi. Kecepatan juga menjadi sangat penting. Semua sudah dalam sistem dan sangat jelas.

Bisa dijelaskan, penerapan model sistem yang dimaksud?

Semua sistem penting. Sistem yang kita butuhkan mengukur karyawan dan key performance indicator (KPI) dan serta proses kerja yang ada.

Sejauh mana KPI dan promosi diterapkan?

Dalam me-review karier, ada yang namanya sistem pengelolaan sumber daya insani dan intinya semua karyawan yang ada harus diberikan satu kesempatan yang sama serta reward.  Sistem sangat penting dan mengurangi subjektivitas. Kalau sistem enggak kuat bisa menimbulkan subjektivitas. Ini termasuk sistem dalam hal mengukur kesempatan karier yang ada. Setiap tahun harus ada review dan sesuai dengan kontribusi, semua sama.

Bagaimana kaderisasi dijalankan?

Bank Syariah Bukopin memiliki talent management. Semua karyawan di bank kami di-assessment untuk mengetahui kemampuan masing-masing karyawan. Pengembangan karier disesuaikan dengan talent yang ada. Ini belum semua selesai. Paling tidak, ini memberikan kesempatan bagi seluruh karyawan.
Misalnya, ada pertanyaan, siapa yang mau jadi pemimpin cabang, maka mereka harus kejar persyaratan yang ada dan itu harus terjawab.

Boleh di-share, value yang Anda pilih sebagai pegangan hidup?

Sebagai umat muslim, kita diminta menjalankan hidup sesuai tuntunan Rasulullah. Dan itu saya laksanakan dan menjadi pedoman bagi saya.

Definisi sukses, menurut Anda?

Saya ukur sukses dari kepribadian, dan kepuasan. Saya akan merasa sukses kalau saya bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi pribadi, keluarga, agama dan masyarakat. Banyak ya ukurannya.  Untuk keluarga, tentunya agar saya mampu memberikan sesuatu, materi, pendidikan. Saya juga akan merasa sukses kalau saya dapat membantu orang sekitar, baik saudara, teman serta lingkungan tempat saya bekerja.

Apa obsesi Anda yang belum terwujud?

Saya sangat bersyukur dengan segala yang ada. Ibu saya kepala sekolah, ayah saya bankir di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Kakek, buyut dan adik-adik saya juga bekerja di bank. Kami tujuh bersaudara dan saya anak laki-laki yang paling besar. Saat [masa] sekolah, saya ingin sekali menjadi direksi. Saya ingin menjadi orang yang lebih baik.

Bagaimana kiat Anda menjaga kebugaran?

Olahraga. Cukup tidur dan mengelola stres. Selain itu, mengelola aktivitas dengan istirahat yang cukup dan hiburan. Liburan bersama keluarga. Biasanya kami pergi ke kampung halaman, terkadang jalan ke Bandung, atau Bogor. Saya suka jalan-jalan, ha-ha-ha.

Apa pengalaman atau peristiwa yang berkesan bagi Anda?

Saya terlahir sebagai manusia yang sangat beruntung. Banyak kejadian yang membuat saya sukses. Apalagi kalau mengingat kehidupan di kampung yang serba terbatas. Saya juga pernah hampir tewas dalam kecelakaan saat di kampung dan dengan pertolongan Allah saya bisa selamat. Saat saya tinggal di daerah Cicanas, sempat hampir mati, apalagi dengan tinggal di lokasi yang banyak premannya. Pernah juga ditodong oleh preman. Saya juga pernah main di sungai, saat itu air sangat deras. Saya terbawa arus. Hanyut. Ada juga teman-teman saya yang hilang. Saat terbawa arus, saya menggenggam akar pohon dan selamat

Sumber : Bisnis Indonesia (4/2/2015)

Editor: Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkini Lainnya