Saatnya Nelayan Kubu Raya Pakai Mesin Perahu Berbahan Bakar Gas Elpiji...

Oleh: Yanuarius Viodeogo 17 Mei 2016 | 17:00 WIB
Saatnya Nelayan Kubu Raya Pakai Mesin Perahu Berbahan Bakar Gas Elpiji...
Amin (kaos polo biru) bersama Agus Kuswandono (batik merah dan topi) bersama rombongan dari Kementerian Koordinator Maritim saat memperkenalkan mesin genset berbahan bakar gas elpiji, Kamis 12 Mei 2016./JIBI - Yanuarius Viodeogo
Penampakan menarik saat menyaksikan hampir belasan perahu bermesin 5-10 Gross Ton hilir mudik menggunakan bahan bakar tabung gas. Perahu-perahu itu hilir mudik mengangkut dan menurunkan penumpang. Ada pula nelayan yang baru pulang dari laut, di Dermaga Sungai Kakap.
 
Penggunaan tabung gas ‘melon’ volume 3 Kilogram sebagai bahan bakar di perahu itu, langsung disaksikan rombongan Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya yang dipimpin Deputi Bidang Koordinator SDA dan Jasa Agus Kuswandono.
 
Sang penemu, Amin juga mau menunjukkan kepada rombongan kementerian bahwa dengan adanya alat konverter kit itu sekarang sebagian nelayan di Kabupaten Kubu Raya sudah tidak lagi mengandalkan bensin sebagai bahan bakar mencari ikan karena pemakaiannya yang boros.
 
Selain itu, dengan alat bermerk Amin Ben Gas (ABG) ini, sudah bisa digunakan untuk kebutuhan jenis mesin lain seperti mesin pakan pencacah abon ikan, mesin perontok padi, pompa air dan genset.
 
Konverter kit adalah alat untuk mengubah sistem bahan bakar mesin dari sebelumnya menggunakan bensin yang dikonversikan ke gas. Mekanismenya, selang dari tabung gas menuju karburator melalui injector  mengaliri gas menuju ruang bakar mesin.
 
Alat ini sudah masuk generasi ke 9 yang memungkinkan nelayan 100% cukup menggunakan tabung gas pengganti bensin. Sebelumnya, generasi dari 1-8 masih menggunakan bensin sebagai cadangan kalau gas habis.
 
Generasi sekarang, sebagai perbandingan untuk sekali pergi pulang melaut, nelayan harus membawa 7-8 liter bensin dengan ongkos Rp51.600 tetapi melalui konverter kit cukup membawa 1 tabung gas seharga Rp18.000.
 
Penyempurnaan terus dilakukan oleh Amin terhadap alat temuannya pada generasi sekarang dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Perubahan mencolok pada konverter kit sekarang bisa digunakan untuk mesin-mesin berselinder 2.
 
Namun, dia tidak ingin berhenti di situ saja. Amin berharap perjuangannya pada tataran mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah yakni, mau menganggarkan pembelian alat itu dan dibagikan kepada nelayan seluruh Tanah Air secara gratis.
 
Apalagi, alat itu sudah mendapatkan legalitas Standardisasi Nasional Indonesia (SNI) pada Maret 2016 lalu sebagai syarat bisa diproduksi secara massal.
 
“Sekarang pabrik (PT. Fajar Cipta Wacana) siap memproduksi 2.000-3.000. Pemerintah lewat anggarannya mesti belanja dan membagikan kepada nelayan-nelayan. Bukan nelayan yang membelinya,” kata pria asal Kubu Raya tersebut, belum lama ini.
 
Untuk mendapatkan label itu perlu proses yang panjang. Hampir 4 tahun dirinya untuk mendapatkan SNI. Setelah mengantongi SNI sekarang, alat itu bisa diproduksi massal oleh pabrik.
 
Sebelum mendapatkan SNI, alat itu diproduksi dari tangan siswa-siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) sehingga dinilai mengesampingkan tingkat keamanan dan daya tarik.
 
Amin mengatakan, setelah mampu diproduksi dalam jumlah banyak, baru Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang telah membagikan ratusan konverter kit untuk nelayan di 3 kabupaten pesisir Sulawesi Utara dan nelayan di Aceh. Sementara di Kalbar sudah 1.000 unit lebih konverter kit dibagikan ke nelayan.
 
Agus Kuswandono mengatakan, perlu langkah sinergi antar kementerian guna memassalkan konverter kit Ben Gas itu agar nelayan bisa mengurangi ketergantungan bahan bakar minyak (BBM) dan mulai beralih ke gas.
 
“KKP punya program membagikan 3.200 kapal yang sekitar 2.500 kapal punya mesin 5 GT-10 GT itu bisa pakai konverter kit. Tapi ini kan konverter kit yang menangani Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), jadi tugas kami kumpulkan penggede-penggede (pejabat kementerian terkait) untuk bahas ini,” kata dia.
 
Dia berharap ada kelanjutan dari Peraturan Presiden No 126/2015 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk Kapal Perikanan Bagi Nelayan Kecil.
 
Dalam perpres itu, salah satu pointnya adalah tabung gas diperbolehkan untuk kebutuhan transportasi hingga batas waktu 2018. “Setelah tahun itu, jangan sampai gas hilang. Ini semua tergantung pemerintah karena pemerintah yang mengatur.”
 
Selain itu, pemerintah daerah juga berperan penting menganggarkan pembelian alat itu untuk memassalkan penggunaannya karena bisa digunakan untuk mesin-mesin lainnya.
 
 

Editor: Yoseph Pencawan

Berita Terkini Lainnya