SPEKTRUM BISNIS: Indonesia & Putri Kecantikan

Oleh: Mia Chitra Dinisari 09 November 2016 | 06:52 WIB
SPEKTRUM BISNIS: Indonesia & Putri Kecantikan
Mia Chitra Dinisari./.Bisnis

Setelah lebih dari dua dekade Indonesia mengikuti ajang pemilihan putri kecantikan tingkat dunia, akhirnya torehan prestasi diraih pada tahun ini Lewat Ariska Putri Pertiwi yang sukses menyabet gelar juara Miss Grand International 2016, menjadi kali pertama

Indonesia mencatat sejarah kemenangan jawara di ajang semacam ini. Ika, begitu dia akrab disapa, sukses mengalahkan perwakilan empat pesaing ketatnya yaitu perwakilan dari Filipina, Thailand, Puerto Rico, dan Amerika Serikat.

Perempuan kelahiran Lhokseumawe 21 tahun silam ini juga sukses menggondol predikat Best in National Costume di ajang kontes kecantikan yang bertujuan untuk ikut serta menciptakan perdamaian dan menghentikan peperangan.

Sebelum memenangi Miss Grand International 2016, Ika adalah pemenang runner up ke-3 di ajang Putri Indonesia 2016. Kesuksesan perempuan yang pernah terpilih sebagai Gadis Sampul 2009 ini seolah juga menyulut semangat perempuan lainnya dalam ajang pemilihan putri kecantikan lainnya. Adalah Felicia Hwang, perempuan kedua yang berhasil menorehkan prestasi, sebagai juara ke-3 di Miss International 2016.

Keberhasilan ini seolah menjadi penawar dahaga setelah penantian sekian lama. Belasan wakil dikirimkan ke ajang kontes kecantikan perempuan seperti Miss Universe, Miss World, Miss Earth, dan juga Miss Grand International, akhirnya membuahkan hasilnya.

Dalam catatan sejarah kontes kecantikan, Indonesia pertama kali mengikuti ajang kecantikan pada 1974 di Miss Uni verse, dan pada 1982 di Miss World. Bahkan di Miss Grand International sendiri, Indonesia baru mengirimkan wakilnya pada 2013.

Namun, keikutsertaanya baru terpublikasikan pada 1994 dan 2005.

Sejak kali pertama ikut serta dalam Miss Universe 1974, dengan pemenang pertama Nia Kurniasi Ardikoesoema pelaksanaan selalu dilakukan tertutup, hingga akhirnya pada 1994 mulai dilakukan secara terbuka.

Miss Universe adalah ajang kecantikan yang diikuti oleh pemenang Putri Indonesia yang mungkin menjadi paling menjanjikan. Seperti Ariska Putri Pertiwi yang merupakan runner up Putri Indonesia 2016, dan Felicia Hwang yang juga peraih runner up ke-1 atau Putri Indonesia Lingkungan, dan Putri Intelegensia di ajang yang dikelola oleh Yayasan Putri Indonesia tersebut.

Sama nasibnya dengan Miss Universe, keikutsertaan Indonesia di ajang Miss World juga baru dilakukan secara terbuka pada 2004, padahal Indonesia sudah mengirimkan wakilnya yakni Andi Botenri sejak 1982.

Puluhan tahun ikut aktif, Indonesia hanya mampu menembus hingga 10 besar. Di Miss Universe misalnya, prestasi terbaik yang mampu ditembus hanya di babak 15 besar. Sedangkan di Miss World Indonesia sempat meraih juara runner up ke-2 dalam ajang Miss World 2015, lewat Maria Harfanti.

Bahkan, nama Indonesia bakal tenggelam dari puluhan perempuan cantik dari seluruh penjuru dunia yang ikut serta. Bukan karena kurang cantik, atau kurang pintar. Namun mungkin juga hal tersebut disebabkan oleh faktor keberuntungan yang belum datang.

Namun tahun ini seharusnya menjadi titik kebangkitan Indonesia setelah sekian lama tidur. Untuk memastikan eksistensinya bukan hanya sekadar ikut meramaikan saja. Apalagi perjuangan mendapatkan persetujuan dan pengakuan dalam negeri bukanlah perkara mudah dilakukan.

Jadi setidaknya, pembuktian jadi jawara akan menunjukkan keseriusan bahwa ajang ini bukan hanya semata pamer keindahan tubuh dan kecantikan perempuan saja.

Kemenangan ini juga seharusnya dijadikan momen untuk mengangkat nama Indonesia menjadi negara yang dikenal di dunia.

Apa pasal? Karena ajang kecantikan ini juga diikuti oleh perwakilan dari seluruh dunia. Otomatis, mereka yang bergerak di bidang fesyen, kecantikan dan tetek
bengek yang terlibat di ajang ini, menjadi melek nama Indonesia yang mungkin selama ini tenggelam oleh kepopuleran nama Bali atau lokasi wisata eksotis lainnya di Indonesia.

Akankah kemenangan ini mengikis pandangan miring soal buruknya keikutsertaan Indonesia di pentas kecantikan dunia yang selama ini dianggap tidak sesuai dengan budaya ketimuran?

Semestinya keberhasilan ini juga dipandang sebagai salah satu kebanggaan negara bisa dikenal dunia dari sisi positif. Tanpa menanggalkan norma-norma ketimuran
tentunya.

Editor: Linda Teti Silitonga

Berita Terkini Lainnya