Tutup Tahun Kredit Menciut

Oleh: Annisa Sulistyo Rini & Surya Rianto 20 Januari 2017 | 08:55 WIB
Karyawan menata uang rupiah di cash center sebuah bank./JIBI-Abdullah Azzam

JAKARTA— Bank Indonesia menyebutkan pertumbuhan kredit pada Desember tahun lalu kembali menyusut dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 7,9% secara tahunan.

Pada November 2016, pertumbuhan penyaluran kredit perbankan tercatat 8,5% (year on year/yoy). Pada bulan ke-11 ini, pertumbuhan kredit masih tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya setelah mencapai titik terendah pada September 6,4% (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan, pada akhir 2015 kredit tumbuh lebih tinggi, yaitu sebesar 10,1% (yoy) karena banyak permintaan kredit untuk membayar pajak akhir tahun.

Pada akhir tahun lalu, sambungnya, permintaan kredit untuk membayar pajak tidak setinggi tahun sebelumnya, sehingga pertumbuhan kredit yang dibukukan pun lebih rendah.

“Pertumbuhan kredit bank dari data preliminary sebesar 7,9%, kira-kira di tengah perkiraan kami yang sebesar 7%-9%. Desember 2015 kredit tumbuh tinggi karena banyak pinjaman untuk bayar pajak, akhir tahun lalu kredit untuk pajak lebih rendah, makanya turun,” katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis (19/1).

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyebutkan bahwa realisasi kredit akhir tahun sekitar 9%. Hal itu sama dengan yang disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan yang diproyeksikan kredit 2016 mencapai 9%.

Di sisi lain, saat kredit mencatatkan penurunan pertumbuhan, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) industri perbankan mengalami perbaikan, yakni sebesar 2,98% dari bulan sebelumnya yang sebesar 3,2%.

Kendati pertumbuhan kredit pada akhir tahun lalu hanya tumbuh sebesar 7,9% (yoy), Juda menyatakan, pihaknya tetap optimistis memandang pertumbuhan kredit bank pada tahun ini. BI memproyeksi pertumbuhan penyaluran pembiayaan perbankan di kisaran 10%-12%.

Sementara itu, Juda menyebutkan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan pada November 2016 tercatat sebesar 8,4% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 7,7% (yoy). “Untuk DPK kami proyeksi tumbuh 9% hingga 11% di tahun ini,” ujar Juda.

Dari kalangan bankir, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pertumbuhan kredit perseroan sampai akhir 2016 berada di kisaran 10% sampai 11% secara tahunan.

“Untuk DPK, kami tumbuh lebih bagus sekitar 12%. Jadi, akhir tahun lalu cukup longgar," katanya.

Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Haru Koesmahargyo sempat menyebutkan sampai akhir 2016 pertumbuhan kredit perseroan berada pada kisaran 15% sampai 16%.  

“Hal itu pun setelah melihat pencapaian sampai November 2016 yang juga tumbuh 16%. segmen usaha mikro kecil menengah menjadi pendorong utama,” terangnya.

Sementara itu, Survei Perbankan yang diterbitkan BI menyebutkan pertumbuhan kredit pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada November 2016 dan akhir 2015.

Perkiraan responden terhadap rerata pertumbuhan kredit pada tahun ini mencapai 13,1% secara tahunan atau meningkat dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan kredit pada bulan ke-11 tahun lalu dan akhir 2015.

Optimisme pertumbuhan kredit ini terutama didorong oleh meningkatnya kondisi likuiditas perbankan, masih berlanjutnya penurunan suku bunga kredit, dan kondisi ekonomi yang diperkirakan semakin membaik.

Beberapa bankir pun menyebutkan target pertumbuhan penyaluran kredit mereka yang tak jauh beda dari target yang ditetapkan oleh pihak regulator.

Direktur Utama PT Bank Muamalat Tbk. Endy Abdurrahman mengatakan perseroan menargetkan pertumbuhan pembiayaan yang berada di rentang 9% hingga 13% secara tahunan.

“Pembiayaan kami targetkan enggak jauh beda dengan yang disampaikan OJK, antara 9% sampai 12% atau 13%,” katanya.

Sumber : Bisnis Indonesia (20/1/2017)

Editor: Gita Arwana Cakti

Berita Terkini Lainnya