INTERNATIONAL WOOLMARK PRIZE: Desainer Toton Melenggang ke Final

Oleh: Wike Dita Herlinda 23 Januari 2017 | 17:26 WIB
Kain tenun jadi andalan TOTON (foto ilustrasi)./.Antara

Bisnis.com, JAKARTA– Label fesyen TOTON yang dimotori duo perancang Toton Januar dan Haryo Balitar, mewakili wilayah Asia Pasifik untuk ronde final International Woolmark Prize kategori busana wanita di kota Paris, Prancis.

Kepesertaan mereka dilakukan setelah memenangkan ronde Asia di Hong Kong pada 12 Juli 2016. Negara lain yang ikut dalam ronde Asia adalah Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan Tiongkok.

TOTON merupakan salah satu label yang telah terkurasi menjalani program pengembangan kapasitas Indonesia Fashion Forward (IFF), yang diselenggarakan Jakarta Fashion Week (JFW).

Femina Group (penyelenggara JFW) adalah mitra IWP untuk menyaring peserta lomba ini, dan sempat mengajukan delapan nama, sebelum akhirnya pihak IWP memilih TOTON. Selain itu dipilih dua label Indonesia lain, yaitu Major Minor Maha dan Vinora.

Dalam kreasi yang dipersembahkan pada ronde Asia, TOTON menggunakan benang wol Merino, yang kemudian diproses menjadi kain tenun dengan melibatkan perajin dari Garut, Jawa Barat.

Untuk ronde final, TOTON menarik inspirasi dari rockcave painting dan pakaian bangsawan Jawa dan Bali.

Kunjungan ke Gua Leang-Leang di Makassar, Sulawesi Selatan, ternyata masih memberi kesan kuat bagi Toton. Dalam konferensi pers di Gedung Femina beberapa waktu lalu, Toton mengakui, salah satu persiapan TOTON adalah pelatihan khusus yang diselenggarakan oleh The Woolmark Company terkait wol.

Pelatihan tersebut sangat berguna, terutama untuk menambah pengetahuan tentang pengolahan bahan wol.

Meski mengikuti kategori busana wanita, TOTON justru mempertimbangkan bangkitnya isu feminisme, dan koleksi ini sendiri banyak dipengaruhi siluet busana pria. Dengan inspirasi tersebut, TOTON ingin mengangkat kesan wanita yang kuat dengan warna yang feminin dan bentuk yang tetap lembut.

“Teknik dan tekstur yang diperlihatkan TOTON membuat kita melihat wol dengan perspektif baru. Kontemporer dan relevan,” kata Christopher Raeburn, yang merupakan juri dalam babak regional Asia.

Dia menambahkan TOTON berhasil menjembatani konteks atau identitas lokal dengan selera internasional yang kontemporer. “Perspektif inilah yang diperlukan dalam ranah industri mode sekarang, di mana terlalu banyak produk yang mirip.”

IWP diselenggarakan oleh The Woolmark Company, perusahaan asal Australia yang dimiliki asosiasi petani wol. Australia adalah pemasok kain wol terbesar di dunia untuk dunia tekstil dan garmen.

IWP sudah diselanggarakan sejak 1953. Tak sedikit alumni pemenang The Woolmark Prize yang kini diakui sebagai pemain unggul dalam ranah mode global, misalnya Yves Saint Laurent dari Prancis, Karl Lagerfeld dari Jerman, Rah1ul Mishra dari India, serta Public School dari Amerika Serikat.

Banyak pula nama besar yang sempat hadir dalam panel penjurian, seperti Donatella Versace, Frida Giannini, Franca Sozzani, dan Victoria Beckham.

Untuk bisa dinominasikan dalam The Woolmark Prize, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut adalah desainer menswear ataupun womenswear, solo atau tim kecil yang terdiri dari maksimal tiga orang, warga negara Indonesia, memiliki maksimal 6 tahun pengalaman dalam bisnis mode dan maksimal 30 outlet ritel, serta siap memproduksi koleksinya dalam jumlah besar.

Pemenang The Woolmark Prize memang diwajibkan menjual koleksi mereka ke mitra Woolmark.

Satu periode kompetisi membutuhkan waktu selama 21 bulan, mulai dari proses nominasi, penjurian, sampai akhirnya karya-karya para pemenang dijual di berbagai ritel yang bermitra dengan Woolmark.

Tak tanggung-tanggung, semuanya merupakan ritel bergengsi, seperti Saks 5th Avenue New York, Harvey Nichols London, dan Isetan Jepang.

Editor: Linda Teti Silitonga

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer