Kapan Waktu Ideal Untuk Ber-KB?

Oleh: Rezza Aji Pratama 28 Januari 2017 | 09:16 WIB
/Ilustrasi

Bagi pasangan suami istri, memiliki anak tentu menjadi hal yang sangat didambakan. Kendati demikian, memiliki momongan tentu harus direncanakan dengan matang. Salah satunya dengan menjalani program keluarga berencana (KB) agar bisa mengontrol kapan waktu yang tepat bagi sang ibu untuk mengandung.

Program KB dilakukan dengan memasang alat kontrasepsi baik pada pria maupun wanita. Kendati demikian, jenis perangkat yang tersedia saat ini memang lebih banyak ditujukan untuk wanita. Lantas kapan waktu yang tepat untuk memasang alat kontrasepsi?

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Emi Nurjasmi mengatakan waktu ideal untuk mengikuti program KB adalah setelah melahirkan. Ketika masih berada di klinik atau rumah sakit, dia menyarankan agar sang ibu menanyakan kepada petugas medis untuk memang alat kontrasepsi tersebut. Menurutnya, pemasangan bahkan bisa dilakukan sekitar 2-3 jam setelah melahirkan.

“Jadi biar sekalian dan tidak repot bolak-balik,” ujarnya.

Salah satu alat kontrasepsi yang direkomendasikan bagi ibu pasca melahirkan adalah intra uterine device (IUD) atau yang dikenal dengan istilah spiral. Alat KB jenis ini berbahan plastik berbentuk T yang dimasukkan ke dalam rahim. KB spiral dikenal efektif hingga 10 tahun untuk mencegah kehamilan.

Emi menjelaskan KB spiral direkomendasikan bagi ibu yang telah melahirkan karena bersifat jangka panjang sehingga tidak merepotkan. Dengan demikian, ibu bisa fokus dalam merawat anaknya tanpa harus khawatir hamil kembali tidak lama setelah melahirkan. Idealnya, jarak antar kehamilan adalah 4-5 tahun.

Emi menuturkan KB spiral tidak akan menimbulkan dampak lanjutan dan tidak mempengaruhi hubungan seksual. Kendati demikian, dia mengakui alat ini biasanya akan mempengaruhi siklus haid.

Selain bermanfaat dalam membantu merencanakan kehamilan, program KB juga mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi itu sendiri. Saat ini, di perkirakan terdapat 126 kasus kematian ibu per 100.000 orang. Prorgam KB dipercaya bisa menurunkan angka tersebut hingga 25% dan 18% untuk kasus kematian bayi.

Mitos KB

Program KB saat ini memang belum sepenuhnya berhasil. Hal ini salah satunya disebabkan oleh banyaknya persepsi miring soal alat kontrasepsi yang beredar di masyarakat. Deputi Bidang Advokasi Pergerakan dan Informasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencaa Nasional (BKKBN) Abidinsyah Siregar mencontohkan persepsi miring yang beredar misalnya anggapan bahwa pil kontrasepsi bisa membuat steril.

 Selain itu, ada juga mitos yang menyebutkan penggunaan implan KB di lengan bisa menyebabkan kelumpuhan. Padahal, Abidinsyah menegaskan kabar tersebut belum tidak berdasarkan fakta.

Penggunaan kondom juga masih dianggap tabu bagi masyarakat. Padahal, emi menuturkan kondom tidak hanya efektif mencegah kehamilan tetapi juga mencegah penyakit menular seperti HIV/AIDS.  

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend (29/1/2017)

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer