Kualitas Penyaluran Kredit Perbankan 2017 Diprediksi Positif

Oleh: Ropesta Sitorus 03 Februari 2017 | 00:18 WIB
Ilustrasi: Seorang karyawan bank tengah merapikan uang/Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Tren perbaikan kualitas penyaluran kredit bank diperkirakan yang terjadi sejak akhir tahun lalu diperkirakan akan terus berlangsung pada 2017.

Analis Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja mengatakan tingkat kredit bermasalah (non performing loan / NPL) diproyeksikan akan turun akibat adanya dorongan dari sejumlah faktor. 

"Rasio [NPL] akan turun, karena ada perbaikan dalam pertumbuhan perekonomian kita yang tahun ini diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu dengan beberapa penopang seperti kenaikan harga komoditas," katanya, Kamis (2/2). 

Dilihat dari trennya, rasio pertumbuhan tahunan penyaluran kredit perbankan pada tahun lalu sempat menunjukkan perlambatan dengan titik terendahnya pada September, yakni sebesar 6,4% secara y.o.y. 

Sedangkan dari kualitas aset, rasio NPL 2016 memang tercatat meningkat dibandingkan 2015, yakni dari 2,49% menjadi 2,93%. 

Akan tetapi, bila dilihat lebih rinci, rasio NPL bulanan sempat meningkat ke level 3% mulai Mei hingga November. Namun, pada Desember 2016, rasio NPL kembali turun ke level di bawah 3% atau sebesar 2,93%. 

Perbaikan kualitas penyaluran kredit dipicu peningkatan harga komoditas secara global, terutama minyak kelapa sawit dan batu bara yang selama ini merupakan kontributor terbesar pertumbuhan perekonomian. 

"Dua komoditas ini yang menopang growth di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Dengan pertumbuhan yang sudah mulai membaik, nanti akan ada dampaknya ke sektor lain," katanya. 

Perbaikan rasio kredit bermasalah ini juga ditopang pertumbuhan penyaluran kredit perbankan di segmenkorporasi dan konsumer serta dipengaruhi percepatan belanja pemerintah. 

Untuk kredit konsumer akan ditopang oleh bidang properti yang diharapkan bangkit dari tren stagnanisasi pada tahun lalu, terutama untuk kredit pemilikan rumah. 

"Interest rate sudah mulai turun, ada yang 7,75% karena mereka mau merebut pasar. Itu lebih aman, karena agunannya berupa rumah," katanya. 

Dari sisi korporasi, Tjandra melihat adanya peningkatan keinginan dari beberapa segmen untuk melakukan ekspansi dan membeli tanah di area industri. Optimisme pebisnis tersebut juga diyakini akan menular ke sektor lain. 

Adapun, dari sisi pemerintahan, komitmen pemerintah terkait penambahan investasi dalam proyek-proyek infrastruktur yang cukup tinggi menjadi katalis yang mampu menggerakkan aliran kredit ke bidang terkait seperti sektor usaha pertanian. 

"Dengan adanya pertumbuhan di berbagai bidang itu, NPL diharapkan sudah menurun dibandingkan 2016 dan kenaikan pencadangannya tidak sebesar tahun lalu."

Ekonom PT BCA Tbk David Sumual mengatakan optimisme perbankan dalam menyalurkan kredit juga dipengaruhi pertumbuhan kinerja ekspor. 

"Harusnya dengan ekspor yang meningkat, keyakinan bank dalam memberikan kredit juga harusnya pulih, seiring dengan pulihnya keyakinan bisnis para pelaku usaha," kata David. 

Bank Indonesia mencatat kredit per Desember 2016 sebesar Rp4.401,9 triliun, atau tumbuh 7,8% secara y.o.y. 

Editor: Mia Chitra Dinisari

Berita Terkini Lainnya