Kelas Menengah Pacu Outbound di Asia Pasifik

Oleh: Amanda Kusumawardhani 14 Februari 2017 | 11:53 WIB
Atraksi flying fox di Tirta Nirwana Songgorti, berlokasi di Batu Wisata, Malang./Bisnis.com-Yanuarius Viodeogo

Hal tersebut didasarkan pada laporan berjudul Mastercard Future of Outbound Travel in Asia Pacific yang mengestimasi rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia Pasifik mencapai 6% setiap tahunnya dalam jangka waktu lima tahun mendatang.

Adapun, negara berkembang di Asia Pasifik yang dimaksud antara lain China, India, Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, Vietnam, Bangladesh, Myanmar, dan Sri Lanka.

“Pertumbuhan kelas menengah mendorong pertumbuhan wisata outbound di Asia Pasifik. Ini juga memunculkan tren lain, yakni keberadaan wisatawan millennial Asia, perkembangan teknologi, dan infrastruktur,” kata Senior Vice President Mastercard Advisors Asia Pasific Eric Schneider, mengutip keterangan resminya, Senin (13/2).

Tak hanya itu, dalam surveinya, Mastercard juga memperkirakan wisatawan Asia Pasifik akan terus memicu pertumbuhan pariwisata global sehingga menciptakan beragam kesempatan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan melalui pengembangan produk di sektor industri jasa dan pariwisata.

Jika dirinci, China akan menjadi negara dengan jumlah wisata outbound terbesar pada 2021 yakni 103,4 juta kunjungan. Jumlah tersebut memberikan kontribusi mencapai 40% dari total keseluruhan wisata outbound di Asia Pasifik.

Posisi kedua diraih oleh Korea Selatan dengan jumlah kunjungan 25,6 juta, India 21,5 juta, Jepang 19,4 juta, dan Taiwan 16,3 juta pada periode yang sama. 

Sementara itu, Myanmar diproyeksikan menjadi negara wisata outbound yang mengalami pertumbuhan tercepat 10,6% per tahun dalam jangka lima tahun mendatang, diikuti dengan Vietnam 9,5%, Indonesia 8,6%, China 8,5%, dan India 8,2%.

Untuk kategori negara maju di Asia Pasifik, pertumbuhan tercepat dialami oleh Korea Selatan 3,8%, diikuti oleh Singapura 3,5%, Australia 3,5%, dan Selandia Baru 3,4%.

Berdasarkan penelitian tersebut, wisata outbound akan tumbuh lebih cepat dibandingkan PDB riil. Di negara-negara berkembang, pertumbuhan wisata outbound cenderung lebih tinggi dari pertumbuhan PDB riil dibandingkan dengan negara-negara maju, kecuali Jepang.

RASIO NAIK

Pada 2021, seluruh negara maju di Asia Pasifik, kecuali Jepang, akan memiliki rasio jumlah perjalanan wisata outbound  lebih dari 100% dibandingkan total jumlah rumah tangga. Rumah tangga di Singapura misalnya memiliki rasio hingga 693,6%.

Semakin tinggi rasio maka kecenderungan rumah tangga untuk berwisata ke luar negeri semakin tinggi.

Khusus negara berkembang, Mastercard memprediksi Malaysia akan mencatatkan rasio tertinggi yaitu 198,7% pada 2021. Lalu diikuti oleh India 7,3%, Bangladesh 7,4%,  Myanmar 14,6%, dan Indonesia 15,4%.

“Negara dengan rasio terendah mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan yang kuat terhadap wisata outbound di negara-negara ini dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan,” ucap Schneider.

Laporan ini didasarkan atas Mastercard Survey on Consumer Purchasing Priorities – Travel edisi 2011 hingga 2016. Data mengenai wisata outbound periode 2013- 2015 diambil dari papan statistik nasional mengenai negara-negara yang relevan.

Untuk proyeksi periode 2015 dan 2016, tim Mastercard mengkalkulasinya dengan menggunakan estimasi berdasarkan Mastercard Asia Pacific Destinations Index edisi 2016.

Sumber : Bisnis Indonesia (14/02/2017)

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer