Perjalanan Ke Daerah Terluar di Kaltim: Menyusuri Medan Tempur Si Pengangkut BBM & Pangan (1)

Oleh: Nadya Kurnia 21 Februari 2017 | 19:33 WIB
Aktivitas pengangkutan kayu di sepanjang hulu sungai.

Bisnis.com--Kecamatan Long Apari merupakan daerah terluar dan terdepan Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia. Terdiri dari 10 desa, Long Apari merupakan bagian dari Kabupaten Mahakam Ulu.

Perjalanan menuju Long Apari diakui banyak orang, cukup berat. Bila berangkat dari Kota Balikpapan, dibutuhkan sekitar 10 jam perjalanan untuk tiba di Melak, Kabupaten Kutai Barat, untuk melanjutkan perjalanan melalui jalur sungai.

Kondisi jalan pun tak bisa dibilang nyaman dilewati. Selain kontur yang berbukit-bukit dan berkelok-kelok tajam, juga masih banyak kerusakan aspal yang mengganggu laju kendaraan.

Hingga saat ini, untuk mencapai Long Apari dan kecamatan lain di kabupaten terluar Kaltim itu, perjalanan harus ditempuh dengan menyusuri hulu Sungai Mahakam, yang terbentang dari Kutai Barat hingga desa terluar Mahakam Ulu.

Oleh karena itu, tak banyak yang bisa dan mau berkunjung ke sana. Menurut pengakuan penduduk setempat, gubernur bahkan belum pernah menginjakkan kakinya ke daerah tersebut.

Dari Melak, perjalanan dilanjutkan dengan penyusuran hulu Mahakam selama kurang lebih 8 jam, menggunakan perahu kayu atau speed boat dari Dermaga Tering.

Sepanjang penyusuran hulu sungai, penumpang dapat melihat hutan belantara Kalimantan yang sangat rimbun, dengan tebing setinggi kurang lebih 50 meter dan bebatuan di sepanjang pinggiran pantai.

Dengan jarak pandang jauh, akan terlihat kontur perbukitan dan pegunungan yang ditutupi pepohonan hijau. Terdapat pula beberapa air terjun.

Akan dijumpai pula kapal-kapal pengangkut kayu dan kayu-kayu gelondongan yang diapungkan begitu saja di atas sungai. Menuju hulu, akan terlihat beberapa aktivitas pendulangan emas.

Permukiman penduduk setempat juga akan terlihat di sepanjang perjalanan. Pola permukiman penduduk Mahakam Ulu memang cenderung mendekati pinggiran sungai.

Umumnya, penyusuran sungai akan berhenti pada pos-pos tertentu, biasanya di Kecamatan Long Bagun dan Long Pahangai. Pemberhentian dilakukan untuk mendata penumpang, buang air kecil di toilet terapung, dan mengganti motoris (pengemudi perahu).

Sebab, hanya penduduk asli (suku dayak) yang kenal baik medan yang harus ditempuh dan bisa mengendarai perahu serta speed boat melintasi riam-riam (aliran air deras) ganas.

Riam-riam berarus kencang itu dikenal dengan nama riam panjang dan riam udang, saat kondisi air sungai tengah pasang, riam-riam itu akan membentuk lipatan gelombang besar. Riam udang bahkan membentuk 12 lipatan saat sungai pasang.

Aren, salah satu penduduk asli yang bekerja sebagai motoris yang sering diandalkan untuk mengantar tamu-tamu pemerintah kabupaten, menceritakan bagaimana perjalanan melewati riam saat air tengah pasang.

"Tidak mungkin penumpang ikut melintasi riam, jadi penumpang harus turun, hanya motoris yang menyeberang. Penumpang jalan kaki di pinggir sungai sekitar 15 menit, kemudian naik speed lagi," bebernya.

Bila air sedang normal, tutur Aren, penumpang masih bisa tetap berada di atas kapal menikmati sensasi riam-riam ganas itu. Namun bila musim kemarau tiba, air akan surut dan tak ada perahu yang bisa melewati sungai.

"Jadi kalau mau mengangkut BBM, atau sembako, harus berhenti di Long Bagun untuk melanjutkan perjalanan darat dengan kendaraan, masuk hutan, tidak bisa mobil biasa melewati," sambungnya.

Karena inilah, harga-harga barang di Long Apari pada musim kemarau bisa mencapai berkali-kali lipat dari harga normal. Selain kendaraan yang terbatas, jumlah muatan yang bisa diangkut pun terbatas.

Setelah melewati dua riam ganas, penyusuran sungai akan kembali lenggang dan normal. Sekitar dua hingga empat jam berikutnya, barulah perahu akan tiba Kecamatan Long Apari.


Editor: Fajar Sidik

Berita Terkini Lainnya