Amnesti Pajak Bikin Ngiler Asing

Oleh: Ipak Ayu H Nurcaya 17 Maret 2017 | 08:28 WIB
Aktivitas pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Senin (6/3)./JIBI-Abdullah Azzam

JAKARTA — Sejumlah pemangku kepentingan di industri properti bersepakat bahwa kebijakan pengampunan pajak memperbesar peluang pengembang asing menyasar pembeli asal Indonesia. Apalagi, kondisi industri properti Indonesia sedang berada dalam kondisi yang belum stabil. Helix Homes America LLC, misalnya.

Perusahaan yang menjual rumah tapak di Chicago, Indianapolis, dan Detroit Amerika Serikat itu menargetkan pembeli asal Indonesia bisa membeli 30 unit setiap bulan.
Chief Marketing Officer Asia Pacific Region Helix Homes America LLC Hans Herwin menuturkan, harga rumah yang ditawarkan perusahaan bervariasi, mulai dari US$65.000–US$150.000 per unit dengan imbal hasil berkisar 9,25% per tahun.

“Kalau dikonversi ya, kira-kira dengan uang Rp600 jutaan—Rp800 jutaan, konsumen sudah dapat memiliki rumah di sana dengan luas lahan mulai dari 300 meter persegi,” ujarnya, Kamis (14/3). Herwin menuturkan, Helix tak hanya menawarkan harga rumah yang terjangkau dibanding kan dengan pengembang asing lainnya, perusahaan
juga me na warkan sebuah kepastian da lam berinvestasi properti bagi ma syarakat Indonesia dengan dibe ri kannya perusahaan asuransi yang menjamin.

Hal itu, paparnya, merupakan alternatif bagi investor karena belum ada pengembang Indonesia yang memberi jaminan langsung perusahaan asuransi. Selain jaminan asuransi atas produk unit milik investor, perusahaan juga memberi berbagai kemudahan pelayanan seperti proteksi aset dan perlindungan  ke kayaan bersih, pelayanan minimalisasi pajak AS, pembebasan pajak tahunan dan penyerahan, penilaian kembali pajak properti, serta pembukaan rekening bank di AS.

“Kami hadir membawa alternatif sekaligus peluang menjalankan investasi yang pasti. Saat ini dari total penduduk di Amerika Serikat hanya 63% yang tercatat memiliki rumah,  selebihnya lebih senang menyewa,” ujar Herwin. Selain Helix, pengembang asing yang gencar menawarkan da gangannya adalah Crown Group asal Australia, Bahkan,
per usa haan itu telah mendirikan kan tor perwakilan di Jakarta serta akan mengembangkan bis nis nya di Indonesia. Crown me nar getkan dapat meraup dana Rp450 miliar dari pembeli asal Indonesia untuk proyek Waterfall di Sydney.

Selain itu, pengembang asal Malaysia M101 Holdings Sdn. Bhd. yang menargetkan penjual an sebesar 100 juta ringgit dari pasar Indonesia dari proyek ke tiga perusahaan, yakni
M101 Skywheel di Kampung Bharu, Kuala Lumpur.

HAL WAJAR

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit mengata kan, gencarnya pengembang asing mengambil konsumen di Indonesia menjadi hal yang wajar dengan kondisi saat ini. Akan tetapi, menurutnya, dari total investor kelas atas paling hanya 5% yang terbiasa membeli produk di luar negeri sebab hanya sedikit faktor yang membuat investor memutuskan membeli.

“Paling utama karena ikatan bisnis, misal, memiliki kantor cabang di Amerika [AS], mereka akan tertarik untuk beli properti juga. Selebihnya karena psikologis saja, mungkin pernah tinggal di satu negara tersebut atau berencana menyekolahkan anaknya di  sana,” kata Panangian. Dia menambahkan, jika tak ada faktor- faktor tersebut pengembang asing dipastikan tetap kesulitan bersaing dengan produk milik pengembang lokal.

Panangian mencontohkan, untuk investor yang tidak bersahabat dengan properti luar biasanya memiliki kecenderungan berinvestasi sebanyak-banyaknya di negeri sendiri. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya apartemen menengah atas serta rumah toko mewah kosong di kawasan elite Jakarta. “Kalau investor yang tidak akrab belanja  di luar negeri akan tetap memilih koleksi unit di sini.”

Senior Associated Director Capital Markets and Investment Services Colliers International Aldi Garibaldi pun menilai, meski tetap ada pasar bagi pengembang asing, hal itu dipastikan tak akan berpengaruh terhadap penurunan penjualan produk lokal. Menurutnya, Colliers pernah membuka divisi khusus yang melayani investasi produk di luar negeri, tetapi sudah tidak berjalan lagi sejak 2 tahun lalu.

“Mungkin waktu itu kami salah strategi atau produk, tetapi intinya pengembang asing yang mau dapat pembeli di sini harus sudah punya strategi khusus agar sesuai ekspektasinya 

Editor: Mia Chitra Dinisari

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer