Pertambangan Bakal Diserbu

Oleh: Oktaviano DB Hana 18 Maret 2017 | 08:07 WIB
/Ilustrasi

JAKARTA — Perusahaan pembiayaan di industri keuangan nonbank bakal memacu penyaluran dana ke sektor pertambangan lantaran diprediksi bertumbuh signifikan pada tahun ini seiring dengan penguatan harga komoditas.

Plt. Direktur Eksekutif Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank) Susiwijono Moegiarso memperkirakan sepanjang tahun ini peningkatan harga komoditas akan berlanjut, “Harga komoditas dunia diperkirakan mulai rebound pada 2017. Memang masih akan fluktuasi, tetapi kami optimistis,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (15/3).

Susiwijono mengklaim keyakinan serupa juga datang dari para pelaku usaha di sektor pertambangan. Tidak hanya di sektor batu bara dan migas, peningkatan juga terjadi pada sejumlah harga komoditas, seperti minyak sawit dan karet. Pasalnya, peningkatan harga migas menjadi pemicu bagi peningkatan harga komoditas lain.

“Meski harganya diproyeksi masih akan di bawah rata-rata sepanjang 2010-2015.”

Sepanjang 2017, ujarnya, Indonesia Eximbank menargetkan pembiayaan ekspor mampu bertumbuh hingga 18,7% (year on year) atau mencapai Rp105,09 triliun.

Guna merealisasikan target itu, pihaknya berfokus pada lima sektor dan sejumlah komoditas unggulan. Sektor pertambangan dan komoditas batu bara menjadi salah satu fokus dari lembaga keuangan khusus milik negara yang didirikan dengan berdasar Undang-Undang No.2/2009 tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia itu.

Sepanjang 2016, pembiayaan LPEI ke sektor pertambangan mencapai Rp10,8 triliun. Realisasi itu mencapai 12,20% dari total pembiayaan yang tercatat Rp88,53 triliun pada akhir tahun lalu.

Dua sektor yang lebih dominan adalah manufaktur dengan realisasi pembiayaan senilai Rp42,5 triliun dan produk agri senilai Rp11,5 triliun.

Sektor jasa konstruksi dan pengangkutan yang masing-masing berkontribusi Rp5,8 triliun dan Rp5,7 triliun melengkapi lima sektor unggulan.

“Tahun lalu harga batu bara terdorong naik karena permintaan yang meningkat dari Eropa dan China. Selain itu, produk mining lainnya juga baik, seperti emas dan lainnya,” ujarnya.

Susiwijono menilai sepanjang pada tahun ini kelima sektor tersebut akan menjadi kontributor utama dalam peyaluran pembiayaan ekspor LPEI.

Direktur Pelaksana I Indone sia Eximbank Dwi Wah yudi mengatakan rerata per tumbuhan pembiayaan ke lima sek tor tersebut mencapai 20% setiap tahunnya.

Dia optimistis kelima sektor tersebut masih akan bertumbuh pada kisaran tersebut hingga akhir 2017. Dia menyatakan LPEI akan berfokus pada pembiayaan hilirisasi sektor pertambangan agar membantu penciptaan nilai tambah bagi ekspor nasional.

“Sepanjang 2017 kami akan fokus hilirisasi, pembiayaan terkait pendirian smelter untuk sejumah komoditas seperti nikel, bouksit dan lainnya.”

Direktur Utama PT Candra Sakti Utama Leasing (CSUL Finance) Suwandi Wiratno optimistis penguatan kembali sektor pertambangan membuka potensi yang signifikan bagi penyaluran pembiayaan pada segmen alat berat sepanjang 2017.

MEMBAIK

Dia mengatakan pada Januari dan Februari 2017 permintaan fasilitas kredit untuk pembiayaan alat berat ter bilang baik. Bahkan, dia memperkirakan CSUL Finance mampu merealisasikan pembiayaan sekitar Rp600 miliar – Rp700 miliar pada akhir kuartal I/2017. Realisasi itu, jelasnya, akan jauh di atas pencapaian perseoran pada triwulan pertama 2016.

“Tiga bulan pertama tahun lalu mungkin baru Rp300-an miliar. Jadi, awal tahun ini bisa tumbuh lebih dari 30%,” kata Suwandi, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia atau APPI.

Suwandi mengatakan sepanjang tahun ini pihaknya mematok penyaluran pembiayaan sekitar Rp2 triliun – Rp2,2 triliun. Target pertumbuhan itu dipatok dengan menimbang proyeksi pertumbuhan ekonomi.

Apalagi, sejak Oktober 2016 penyaluran pembiayaan alat berat sudah mulai meningkat kembali seiring perbaikan kinerja komiditas batu bara. Pada tahun ini pun pembiayaan pada segmen tersebut masih berpotensi tumbuh.

Direktur Pemasaran PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo memperkirakan permintaan pasar terhadap pembiayaan kendaraan niaga akan meningkat.

Hal itu diperkirakan terjadi pada semester kedua tahun ini seiring pemulihan kinerja sektor pertambangan dan perkebunan.

“Kami perkirakan porsi pembiayaan kendaraan niaga di tahun ini bisa mencapai kisaran 30% atau meningkat jika dibandingkan porsi pembiayaan tahun lalu yang berkisar 27%,” ujarnya.

Sumber : Bisnis Indonesia (18/3/2017)

Editor: Gita Arwana Cakti

Berita Terkini Lainnya