BI Optimalkan Kliring Obligasi Negara

Oleh: Novita Sari Simamora 20 Maret 2017 | 13:04 WIB
Bank Indonesia./.

Bisnis.com, JAKARTA--Untuk meningkatkan transaksi obligasi negara di pasar sekunder, Bank Indonesia mengoptimalkan penyelenggaraan kliring obligasi negara.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng mengungkapkan bank sentral bekerja sama dengan PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) sebagai penyelenggara kliring atas transaksi Obligasi Negara di pasar sekunder, baik yang ditransaksikan melalui bursa maupun di luar bursa (over the counter).

Sugeng menyampaikan bahwa penunjukan KPEI merupakan upaya mendukung rencana pemerintah untuk membuka alternatif perdagangan obligasi negara dalam rangka meningkatkan aktivitas, diversifikasi investor, efisiensi, dan transparansi perdagangan Obligasi Negara di pasar sekunder.

"Kami berharap kerja sama ini mengembangkan pasar surat utang di Indonesia untuk menjadi semakin maju dan berkembang," ungkapnya di Jakarta, Senin (20/3/2017).

Dia mengungkapkan penunjukan KPEI merupakan dukungan Bank Indonesia terhadap rencana implementasi Electronic Trading Platform (ETP) untuk transaksi SBN di luar bursa, yang pada akhirnya diharapkan dapat mendukung pengembangan pasar surat utang di Indonesia, agar semakin maju dan berkembang.

Sugeng mengungkapkan penyelenggaraan kliring transaksi obligasi ritel Indonesia (ORI) penting dilakukan agar terbentuk informasi harga kepada investor, menciptakan mekanisme pembentukan harga lebih transparan, serta meningkatkan efisiensi dan likuiditas di pasar yang mencerminkan kondisi pasar surat utang yang efisien.

Hingga pertengahan Maret 2017, total kepemilikan (outstanding) surat berharga negara (SBN) yaitu sebesar Rp1.895,68 triliun. Sementara itu, total SBN yang ditransaksikan di pasar sekunder selama tahun 2016 tercatat sebesar Rp7.527 Triliun (mencapai 400% dari outstanding).

Sugeng menilai meningkatnya transaksi di pasar sekunder menjadi penting  sehingga perlu perluasan kerja sama penyelenggaraan kliring obligasi negara. Dia menambahkan kualitas data transaksi pasar sekunder perlu digenjot, mengingat perdagangan obligasi negara di pasar sekunder hampir 100% dilakukan over the counter.

 

Editor: Linda Teti Silitonga

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer