Kalbar Harus Waspadai Ancaman Naiknya Harga Bawang Merah

Oleh: Yanuarius Viodeogo 10 April 2017 | 15:56 WIB
Petani memanen bawang merah di Dempet, Demak, Jawa Tengah, Selasa (14/3)./Antara-Aji Styawan

Bisnis.com, PONTIANAK - Kalimantan Barat harus mewaspadai tekanan inflasi dari kelompok volatile food atau bahan makanan khususnya dari komoditas bawang merah, pada April 2017 ini.

Asisten Direktur Bank Indonesia Perwakilan Kalbar Adhinanto Cahyono mengatakan, komoditas tersebut biasanya rentan menyumbang inflasi pada April 2017 ini setelah berdasarkan pantauan lima tahun terakhir.

“Bulan ini diprakirakan Kalbar mengalami inflasi karena kalau dilihat pola histroris selama 5 tahun terakhir, ada tekanan inflasi bersumber dari potensi kenaikan harga kelompok bahan makanan, terutama bawang merah dan jeruk di bulan-bulan ini,” kata Adhinanto kepada Bisnis.com, Senin (10/4/2017).

Dia mengatakan, kendati sempat mengalami deflasi tetapi bila dicermati masih bakal tetap terjadi risiko dan ada tantangan yang harus dihadapi dalam pengendalian karena munculnya inflasi.

Maka dari itu, dia berharap Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan koordinasi kepada pemerintah daerah di provinsi ini untuk memitigasi risiko kenaikan harga dan kelancaran distribusi pasokan bahan pangan strategis komoditas tersebut.

Adhinanto mengatakan, pada Maret 2017 kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 1,56% (month to month). Penyumbangnya adalah penurunan harga telur ayam ras, ikan kembung, sawi hijau, kangkung dan bawang putih.

“Di sisi lain, terjadi kenaikan harga daging ayam ras, minyak goreng, dan ikan teri sehingga bisa menahan deflasi kelompok bahan makanan,” ujarnya.

Selain itu, menurut Adhinanto, penahan deflasi juga muncul dari kelompok tarif listrik sebesaar 0,66% kendati di saat bersamaan harga tiket angkutan udara dan tarif pulsa ponsel turun.

Editor: Fajar Sidik

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer