Merawat Tenun Kebangsaan Anies Baswedan

Oleh: Arif Budisusilo 21 April 2017 | 19:14 WIB
Pemimpin Redaksi & Direktur Pemberitaan Bisnis Indonesia Arif Budisusilo/Sketsa-Husin Parapat

SEHARI menjelang coblosan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, saya beserta tim manajemen Bisnis Indonesia silaturahim dengan pengusaha kawakan Mochtar Riady, pendiri Grup Lippo.

Pak Mochtar menerima kami di kantornya, Mochtar Riady Institute of Nanotechnology, di jantung kawasan Lippo Karawaci, Tangerang, Banten, Selasa (18/4) sore.

Tentu, saya perlu memastikan pertemuan kami tidak ada kaitan dengan Pilkada DKI. Bahkan mendiskusikan soal Pilkada pun tidak. Presdir Bisnis Indonesia, Lulu Terianto, mengatakan ingin belajar.

Dan itu yang kami peroleh. Terbukti, di usia 88 tahun saat ini, cara Pak Mochtar melihat persoalan bisnis, geostrategi, dan makroekonomi, begitu tajam.

Konglomerat yang tengah menanti kelahiran cicit yang bakal menjadi anggota ke-101 keluarga besarnya itu tampak selalu mengikuti perkembangan jaman. Istilah anak muda sekarang: tetap relevan.

Itu tercermin dalam gurita bisnis Grup Lippo. Pak Mochtar adalah salah satu taipan terkaya Indonesia, pendiri kerajaan bisnis Lippo, pembangun sejumlah bank besar seperti Bank Panin, BCA, Bank Lippo (kini CIMB Niaga) dan belakangan Bank Nobu.

Pak Mochtar beserta putranya yang dimotori James Riady, memiliki kerajaan bisnis properti, jaringan rumah sakit Siloam, jaringan Sekolah dan Universitas Pelita Harapan, serta jaringan ritel terbesar saat ini, Hypermart.

"Setiap tahun kami membuka 25 cabang Hypermart di seluruh Indonesia," ujar Pak Mochtar tanpa memberi kesan nada bangga ataupun meninggikan diri, ketika kami ngobrol di ruang kerjanya itu.

Di industri berbasis digital, keluarga Mochtar Riady memiliki mataharimall.com, lalu di bisnis media ada Berita Satu Media Holding, yang dikomandoi oleh cucu Pak Mochtar, Hendry Riady. Hendry adalah putra James Riady.

Itu sekelumit saja, untuk tidak menyebutkan keseluruhan.

Kesan saya, intuisi bisnis Pak Mochtar dilandasi basis pengetahuan yang mendalam, mengikuti kemajuan jaman, dan sekali lagi relevan.

Bukan cuma bisnis tradisional dan konvensional, tetapi juga bisnis digital, yang dikendalikan oleh perubahan perilaku konsumen karena kemajuan teknologi.

Dan bukan hanya urusan yang berkaitan dengan konsumen langsung (end user), bahkan pada hulunya, teknologi nano.

Maka, Pak Mochtar begitu mengalir ketika bicara pengembangan material chips yang membuat sebuah merek handphone bikinan China kini jauh lebih baik, tahan panas. Begitu pun baterenya.

Juga terdengar cerita renyah soal keberhasilan China dibandingkan dengan Jepang dalam ekonomi digital, dan juga keunggulan Amerika. Bukan cuma mengulas Amazone dan Alibaba hingga Alipay, juga soal keberhasilan Intel yang sekarang disaingi Huawei dalam teknologi chips, dan ketertinggalan Tokyo dalam perilaku digitalnya dibandingkan dengan Beijing dan Shanghai.

Mengapa Jepang relatif tertinggal soal digital dibandingkan China dan Amerika? Pak Mochtar bilang, bukan karena ketidaksiapan mengadopsi perkembangan teknologi terbaru, tetapi keengganan untuk berubah.

Kalau pengusaha Ciputra pernah mengatakan entrepreneur butuh dasar wawasan yang kuat, saya menemukan hal itu pula ketika ngobrol sekitar 1,5 jam dengan Mochtar Riady.

Maka lengkaplah sudah: Intuisi bisnis yang tajam, wawasan yang kuat, integritas yang teruji, ditambah lagi tim yang mumpuni. Satu tambahan catatan saya: pragmatis dalam bertindak, sekaligus cakap dalam memotivasi seluruh karyawan.

***

Sehari setelah berguru ke Mochtar Riady, hampir dipastikan hasil Pilkada DKI tinggal menunggu ketok palu KPU.

Pasalnya, Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang lekat dengan sapaan Anies-Sandi unggul dengan selisih suara signifikan, di atas 15%, jauh meninggalkan rivalnya, petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Sjaiful Hidayat alias Ahok-Djarot.

Meskipun angka itu baru berasal dari hasil quick count, hasil hitung cepat semacam itu hampir tidak pernah meleset secara metodologi statistik.

Anies serta-merta dibanjiri ucapan selamat. Dalam pidato kemenangan, Anies siap meneruskan program-program yang baik dari pendahulunya begitu mulai bekerja Oktober nanti, sambil berjanji untuk mengembalikan keadilan di tengah masyarakat Ibu Kota.

Saat pidato akseptansi, Ahok pun siap mendukung Anies. Ia berjanji bekerja serius hingga akhir masa tugasnya enam bulan ke depan, dan akan mewariskan administrasi yang tertata sekaligus menuntaskan sejumlah proyek infrastruktur di Ibu Kota Jakarta agar siap diresmikan oleh penggantinya.

Kedua tokoh itu pun lantas bertemu. Anies tak terlihat jumawa, begitu pula Ahok tampak legowo. Tidak ada nada kemasygulan. Saya kira, ini sebuah keteladanan kepemimpinan, yang patut disyukuri. Ini kemenangan warga Jakarta.

Maka, pada Rabu malam, saya menulis di akun twiter pribadi (@absusilo). “Mestinya setelah Pilkada DKI ini tidak lagi ada pendukung Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Yang ada adalah warga Jakarta, Indonesia Raya. #JakartaHebat”.

Kita tahu dan mengalami, pemilihan gubernur DKI Jakarta selama enam bulan terakhir ini diwarnai begitu banyak gesekan. Bukan hanya oleh sebab isu etnis, tapi juga agama.

Dua kutub relawan dan pendukung pasangan Cagub dan Cawagub bertarung keras melalui media sosial. Hal itu tidak hanya menimbulkan suasana gaduh, tapi bahkan juga penuh intrik, dan berisik.

Internet telah memfasilitasi aneka kabar bohong, fitnah, penyebaran hoax dan fake-info, dengan bahan bakar isu etnis dan agama. Akibatnya, suhu sosial politik memanas. Lebih repot lagi, pemanasan suhu politik tidak hanya berdampak lokal di Jakarta, bahkan seluruh Indonesia.

Maka dari itu, begitu Pilkada selesai, dan kedua rival baik Anies maupun Ahok tampak berpelukan mesra, semestinya semua kegaduhan tersebut segera berlalu.

Meski banyak pihak pesimis, bahwa upaya pemulihan keadaan itu sulit dilakukan, saya kok optimis kita bisa mengakhirinya.

Di situlah, peran Ahok maupun Anies akan begitu besar untuk bisa membangun kembali suasana yang harmonis antarwarga. Ahok dan Anies, saya rasa, telah berusaha memulainya.

Setidaknya, kita pantas berharap Anies yang dikenal sebagai perajut tenun kebangsaan, akan merealisasikannya saat memimpin Ibu Kota.

***

Secara tidak langsung, cerita Pak Mochtar Riady mengilhami harapan saya untuk masa depan Jakarta di bawah kepemimpinan Anies-Sandi kelak.

Begini saja supaya lebih sederhana. Banyak pihak kini menebak-nebak, berspekulasi, sekaligus bereksperimen, kira-kira bakal seperti apa nanti kondisi Jakarta pasca Pilkada.

Di antara belantara spekulasi, saya kok yakin Jakarta akan baik-baik saja. Setidaknya, itu harapan saya yang tinggal di seputar Jakarta, dan mungkin harapan banyak warga di Ibu Kota.

Mungkin saja, malahan, Jakarta akan menjadi lebih baik lagi, tentu dengan berbagai catatan dan prasyarat.

Pertama, Anies dan Sandi yang akan memimpin Jakarta benar-benar mampu merawat tenun kebangsaan di Ibu Kota. Gejala perpecahan dan risiko disintegrasi antar elemen warga Jakarta yang mulai muncul sejak Pilkada berlangsung, semestinya bisa diredam.

Sukses Anies dalam mengelola sekaligus memobilisasi seluruh komponen warga Ibu Kota dalam merawat tenun kebangsaan agar tidak tercabik-cabik, menjadi faktor penentu stabilitas sosial-politik, yang akan memengaruhi daerah lainnya di seluruh nusantara.

Kita tahu Jakarta adalah magnet, dan Pilkada lalu sudah berasa seperti Pilpres. Maka, kegagalan merawat tenun kebangsaan di Ibukota akan menjadi malapetaka.

Kedua, sukses pertama perlu diikuti sukses berikutnya, memperbaiki dan meningkatkan kapasitas Ibukota sebagai barometer kota bisnis, ekonomi dan industri.

Jakarta perlu naik kelas menjadi kota modern, sekaligus manusiawi. Gubernur Ahok telah memulai meningkatkan kualifikasi itu, meski belum sepenuhnya selesai. Mas Anies tentu diharapkan dapat menuntaskan pekerjaan yang belum benar-benar selesai tersebut.

Selain itu, kita berharap Mas Anies dapat bertindak pragmatis dalam menjadikan Jakarta lebih relevan, tidak hanya untuk tempat hunian warganya, tetapi juga sebagai kota tujuan bisnis.

Tentu Gubernur Anies tidak bisa bekerja sendiri. Birokrat Jakarta perlu memiliki wawasan bisnis yang lebih kuat, bekerja profesional, dan adaptif terhadap perubahan.

Pembangunan Jakarta --dalam berbagai aspek mulai dari tata kota, infrastruktur dan pemanfaatan teknologi-- perlu merujuk standard kota modern lainnya di dunia, seperti New York, Tokyo atau Beijing sebagai acuan alias benchmarking.

Bolehlah kita berharap, sebagai seorang motivator dan “orang pergerakan”, Anies punya kapasitas untuk melakukan perubahan-perubahan itu.

Hanya upaya-upaya itu, yang akan menjadikan Jakarta lebih maju lagi, karena warganya memiliki peluang kerja dan penghasilan yang lebih baik, kecuali yang terjadi nanti sebaliknya.

Nah, bagaimana menurut Anda? (*)

Editor: Redaksi

Berita Terkini Lainnya