PENAWARAN SAHAM TERBATAS: Bosowa Pertahankan Kepemilikan di Bukopin

Oleh: Surya Rianto 10 Mei 2017 | 02:07 WIB
Bank Bukopin/Bisnis.com

JAKARTA – PT Bosowa Corporindo, selaku pemegang saham pengendali PT Bank Bukopin Tbk. menegaskan akan tetap mempertahankan kepemilikan saham pada bank tersebut seiring dengan rencana penawaran saham terbatas.

Chief Executive Officer Bosowa Corporindo Sadikin Aksa mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk tetap mempertahankan kepemilikan saham pada Bank Bukopin.

“Kami akan usahakan untuk melakukan suntik modal lagi, tetapi untuk merealisasikan rencana itu juga harus melihat perkembangan bisnis,” ujarnya kepada Bisnis pada Selasa (9/5).

Saat ditanya mengenai dana yang disiapkan untuk mempertahankan porsi kepemilikan saham di Bukopin, Sadikin tidak menyebutkan angka secara detail.

Bosowa Corporindo adalah pemegang saham pengendali dari Bank Bukopin dengan kepemilikan sebesar 30% dari total keseluruhan saham. Bosowa menjadi pemegang saham pengendali Bank Bukopin sejak 2015.

Pemegang saham Bank Bukopin lainnya antara lain, Koperindo sebesar 18,09%, Negara Republik Indonesia sebesar 11,43%, dan sisanya dimiliki oleh publik.

Di sisi lain, Bank Bukopin baru kembali mendapatkan persetujuan rencana aksi korporasi penerbitan saham baru atau rights issue oleh pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham kemarin.

Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardy mengatakan, permintaan persetujuan kembali aksi rights issue kepada pemegang saham dilakukan kembali, setelah aksi korporasi itu pada tahun lalu urung terjadi. Pada tahun lalu, aksi korporasi itu tidak terealisasi karena belum menemukan mitra strategis yang cocok.

Beberapa mitra strategis yang tertarik disebut ingin memiliki kepemilikan saham mayoritas. Namun, beberapa pemegang saham perseroan ada yang ingin tetap mempertahankan kepemilikan dan mengambil hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

“Jadi, ada yang kurang sesuai di sana, kan sulit untuk memenuhi keinginan dari kedua belah pihak,” ujarnya.

Di sisi lain, kebutuhan perseroan untuk rights issue adalah untuk menjaga tingkat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) menjadi sekitar 18%.

Glen menjelaskan, pada tahun lalu perseroan menghitung ada kebutuhan dana sekitar Rp3 triliun untuk mendorong CAR perseroan menjadi sekitar 18% dibandingkan dengan saat itu yang berada pada posisi 13,5%.

“Jadi, dalam rencana tahun lalu, kami menargetkan dapat menghimpun dana senilai Rp3 triliun,” jelasnya.

Namun, kondisi pada tahun ini sedikit berbeda, posisi CAR perseroan sudah menanjak ke kisaran 17%. Rasio kecukupan modal perseroan naik setelah menerbitkan obligasi subordinasi senilai Rp1,4 triliun pada awal tahun ini.

Glen pun menuturkan, dengan begitu dalam rights issue pada tahun ini dari segi target nilai dana yang dihimpun akan sedikit berbeda.

“Rencana rights issue kami butuhkan untuk menjaga rasio kecukupan modal, terutama meningkatkan modal inti tier-1,” ujarnya.

HARGA SAHAM

Sementara itu, harga penerbitan saham baru bank berkode emiten BBKP itu berpotensi mencapai Rp734.

Analis PT Koneksi Kapital Marolop Alfred Nainggolan mengungkapkan bila rights issue dilakukan maksimal 30% dari jumlah saham dengan target dana Rp2 triliun maka harga minimal bisa mencapai Rp734. Alfred menilai harga rights issue Grup Bosowa ini terbilang cukup murah.

“Book value BBKPS FY2016 sebesar Rp1.056 per saham, jadi bila dibandingkan dengan harga minimumnya Rp734 per PBV-nya 0,7x, di bawah satu," ungkapnya, Selasa (9/5).

Meskipun harga saham BBKP berada di level Rp640, Alfred memperkirakan harga rights issue BBKP bisa mencapai Rp734. Pada perdagangan Selasa (9/5), saham BBKP turun 5 poin atau 0,78% menuju level Rp635.

Head of Research PT Infovesta Utama Wawan Utama mengungkapkan penyerapan rights issue sangat bergantung dengan tujuan dari penggunaan dana. Dia mengungkapkan bila rights issue untuk membayar utang perusahaan, maka penyerapan berpotensi kurang baik.

Alasannya, kondisi itu membuat saham investor ritel terdilusi. Namun, bila agenda penerbitan saham baru untuk menambah modal perusahaan, katanya, investor berpotensi merespon positif walaupun terjadi dilusi pada saham investor ritel.

Sampai kuartal I/2017, perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 7,94% menjadi Rp281,54 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Pertumbuhan laba bersih perseroan didukung oleh kenaikan kredit yang sebesar 7,46% menjadi Rp67,12 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu, sedangkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) naik sebesar 15,88% menjadi Rp88,5 triliun.

Editor: Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer