IMPOR BAHAN BAKU: Pengusaha Minta Gunakan Kapal Tramper

Oleh: Sri Mas Sari 12 Mei 2017 | 02:57 WIB
IMPOR BAHAN BAKU: Pengusaha Minta Gunakan Kapal Tramper
Kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu (1/4)./JIBI-Nurul Hidayat

JAKARTA – Pelaku usaha pengalengan ikan di Bitung, Sulawesi Utara, meminta izin untuk mengimpor bahan baku menggunakan kapal tramper demi efisiensi. 

Sekjen Asosiasi Pengalengan Ikan (Apiki) Kota Bitung Franky Tumion mengatakan impor sesungguhnya merupakan opsi jangka pendek yang dibutuhkan untuk mengatasi kekurangan pasokan bahan baku dari lokal selama dua tahun terakhir.

Kelangkaan itu muncul setelah adanya penataan transshipment dan larangan operasional kapal eks asing. 

Pemerintah, ujar Franky, memang mengizinkan unit pengolahan ikan (UPI) di Bitung mengimpor. Sayangnya, realisasi impor selama ini terbentur keinginan pemerintah yang mengharuskan pengapalan menggunakan kontainer, padahal tidak efisien. 

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan realisasi impor hasil perikanan  di Bitung selama 2016 hanya 280 ton atau 0,8% dari izin yang diberikan sebanyak 21.750 ton. "Kalau kami pakai kontainer, kualitasnya enggak terjamin. Itu re-stuffing berapa kali?" katanya,  saat dihubungi Bisnis, Kamis (11/5).

Kapal tramper, kata Franky, dapat memuat langsung hasil tangkapan di fishing ground untuk selanjutnya dikapalkan langsung ke Bitung. Di Kota Cakalang, terdapat tujuh perusahaan pengalengan ikan. Angka itu separuh dari jumlah perusahaan pengalengan ikan di Tanah Air. 

KKP sejauh ini belum memberikan jawaban terhadap usulan itu. Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Nilanto Perbowo justru mempertanyakan mengapa UPI di Bitung tidak memenuhi kebutuhan bahan baku dari pasokan lokal. Padahal, kata dia, mekanisme kapal penyangga semestinya dapat mencukupi kebutuhan bahan baku. 

"Kenapa ada 64 kapal pengangkut, tapi yang beroperasi cuma 14 atau 16 kapal? Saya pernah datang ke mereka, ngobrol, katanya terlalu mahal inilah, mahal itulah, sementara harga ikan kita, nilainya naik," ujarnya. 

Sebagai contoh inefisiensi impor menggunakan trainer, Franky menjelaskan, kapal penangkap berbendera Filipina yang mempunyai area penangkapan (fishing ground) Samudra Pasifik harus membongkar hasil tangkapannya untuk dimuat di kapal penampung.

Kapal penampung itu lalu kembali ke negeri asal, kemudian ikan dibongkar dan dimuat ke kapal kontainer. Kapal kontainer itu lantas masuk ke Indonesia dan berlabuh di Jakarta, Surabaya, atau Makassar karena perusahaan pelayaran besar tak singgah di Bitung. 

Dari salah satu kota besar itu, ikan kemudian dipindahkan ke kontainer lokal untuk diangkut ke Bitung. Proses ini dipandang Apiki Bitung tidak efisien dari segi waktu maupun biaya, serta merusak mutu karena ikan dibongkar beberapa kali.

Pengoperasian kapal ro-ro rute Bitung-Davao pun dinilai pelaku usaha tidak dapat mengakomodasi kebutuhan pabrik pengalengan ikan karena tidak terinstalasi dengan rantai pendingin (cold storage).

Sumber : Bisnis Indonesia (12/5/2017)

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya