BATU BARA KOKAS : RI & India Fokus di Papua

Oleh: Lucky L. Leatemia 15 Mei 2017 | 02:00 WIB
BATU BARA KOKAS : RI & India Fokus di Papua
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintasi sungai Mahakam, di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu 23/4)./JIBI-Paulus Tandi Bone

JAKARTA — Kerja sama eksplorasi batu bara kokas atau coking coal antara Indonesia dan India akan difokuskan di wilayah Papua sekaligus membuka peluang adanya wilayah pertambangan baru.

Peluang kerja sama tersebut akan dilakukan dengan Central Mine Planning & Design Institute (CMPDI) dan Central Institute of Mining and Fuel Research (CIMFR). Hasil tersebut diperoleh setelah Kementerian ESDM mengirimkan tim ke India untuk menindaklanjuti rencana kerja sama yang telah dinyatakan sebelumnya.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan, eksplorasi tersebut akan dilakukan di area-area yang selama ini terindikasi memiliki sumber daya batu bara, tetapi belum dikembangkan. Artinya, area-area tersebut saat ini masih belum dioperasikan oleh perusahaan.

"Fokusnya untuk yang wilayah baru di Papua. Jadi nanti akan dieksplorasi sampai tahap bisa operasi produksi," katanya, akhir pekan lalu.

Aset-aset pertambangan yang telah terbukti memiliki sumber daya batu bara kokas masih berada di Kalimantan. Sebagian besar wilayah tersebut kebanyakan dipegang oleh izin usaha pertambangan (IUP) yang masih berada dalam tahap eksplorasi.

Sujatmiko menjelaskan, perusahaan India yang membutuhkan kokas dari Kalimantan dipersilakan melakukan kerja sama secara bisnis.

"Mereka [India] kan sedang butuh banyak. Sambil nunggu eksplorasi yang di Papua, kalau mau langsung kerja sama dengan yang sudah ada di Kalimantan boleh-boleh saja," ujarnya.

/DI SUMATRA/

Sementara itu, Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menuturkan, sumber daya batu bara yang telah dieksplorasi mayoritas memang berada di Sumatra dan Kalimantan. Oleh karena itu, perlu eksplorasi pendahuluan dan eksplorasi detail untuk mengetahui sejauh mana potensinya di Papua.

"Kalau potensi pasti sudah ada sehingga pemerintah yang tentunya dapat data dari Badan Geologi sudah berani melakukan kerja sama dengan India," tuturnya kepada Bisnis, Minggu (14/5).

Sebelumnya, Minister of State for Power, Coal, New & Renewable Energy and Mines India Shri Piyush Goyal mengatakan, pengembangan batu bara kokas tersebut merupakan salah satu dari 11 prioritas pemerintah India dalam kerja sama di sektor energi dengan Indonesia. Adapun selain di bidang pertambangan, kerja sama tersebut juga menyasar bidang minyak dan gas bumi dan energi terbarukan.

Coking coal merupakan batu bara yang khusus dipakai dalam tungku pembakaran pembuatan baja. Oleh karena itu, batu bara tersebut memiliki nilai kalori yang tinggi.

Data cadangan batu bara nasional per 2015 menunjukkan jumlah batu bara berkalori tinggi di Indonesia tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan yang kalori rendah dan sedang.

Total cadangan batu bara kalori tinggi tercatat sebanyak 1,52 miliar ton, terdiri dari 545,2 juta ton cadangan terkira dan 974,33 juta ton cadangan terbukti.

Sementara itu, batu bara dengan kalori sangat tinggi cadangannya sebanyak 924,82 juta ton, terdiri dari cadangan terkira sebanyak 761,51 juta ton dan cadangan terbukti 163,31 juta ton. (Lucky L. Leatemia)

Editor: Sepudin Zuhri

Berita Terkini Lainnya