Kinerja Kredit Bank Mestika Dharma Melorot 12%

Oleh: Siti Munawaroh 18 Mei 2017 | 19:51 WIB
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, MEDAN - Penyaluran kredit PT. Bank Mestika Dharma, Tbk sepanjang 2016 melorot sekitar 12% menjadi Rp 6,28 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, akibat melemahnya kinerja sektor industri pengolahan seiring kondisi perlambatan ekonomi pada tahun lalu.

Presiden Direktur PT. Bank Mestika Dharma, Tbk Achmad S. Kartasasmita mengatakan sejalan dengan kondisi perekonomian pada tahun lalu yang mengalami perlambatan, jumlah pemberian pinjaman oleh perseroan menurun 12%, dari Rp7,1 triliun pada 2015 menjadi Rp 6,28 triliun.

“Ini disebabkan karena bank lebih selektif di dalam mengucurkan kredit baru. Langkah memperketat seleksi debitur ini dilakukan karena bank mengalami peningkatan NPL gross dari 2,26% (2015) menjadi 3,90% pada tahun lalu, atau NPL nett 1.36% (2015) menjadi 2,18% pada tahun lalu,” ujar Achmad S. Kartasasmita dalam jumpa pers Paparan Publik Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis (18/5/2017).

Dia menuturkan pihaknya melakukan pengetatan pemberian kredit karena melihat penurunan kemampuan bayar debitur-debitur besar, menengah dan kecil, yang bergerak di sektor-sektor industri pengolahan, rumah tangga, real estate, persewaan dan jasa lainnya.

“Jadi secara umum kami melihat penurunan kemampuan bayar para debitur kami. Maka tindakan yang diambil adalah memberikan kredit baru yang lebih selektif agar tidak mengalami kenaikan NPL. Mau tidak mau kami harus memperketat pemberian kredit agar kami tidak terpeleset lebih jauh,” papar Achmad.

Seiring kondisi tersebut, laba bersih perseroan pada tahun lalu mengalami penurunan dari Rp240,7 miliar menjadi Rp179,2 miliar, turun sekitar 24%. Namun, pada saat yang sama, Bank Mestika Dharma mampu membukukan peningkatan dana pihak ketiga (DPK) sekitar 11%, dari Rp6,98 triliun menjadi Rp 7,7 triliun.

“Ini menandakan likuiditas di market cukup tinggi, salah satunya adanya dana-dana dari tax amnesty. Kami melihat peningkatan yang cukup signifikan untuk DPK,” tukasnya.

Dalam RUPST tersebut menghasilkan beberapa poin keputusan a.l; persetujuan laporan tahunan direksi dan dan pengesahan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2016, penetapan penggunaan laba perseroan untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2016.

Sebanyak lebih kurang sebesar Rp60 miliar laba perseroan akan digunakan untuk pembagian deviden kepada pemegang saham sebanyak 4.090.090.000 lembar saham. Dengan demikian pembagian lembar saham tersebut adalah Rp 14,67 per lembar saham. Selanjutnya, menyetujui sisa laba perseroan untuk keperluan memperkuat rasio modal, memperkuat pengembangan jaringan kantor, renovasi gedung, perlengkapan dan peralatan kantor yang dianggap perlu, peningkatan IT dan biaya promosi produk dan kebutuhan penambahan tenaga kerja.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya