INDUSTRI ALAT BERAT : Penjualan Naik

Oleh: N. Nuriman Jayabuana 02 Juni 2017 | 02:00 WIB
Alat berat dioperasikan di area Power House proyek PLTA Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Kamis (6/4).Antara-Aprillio Akbar

JAKARTA—Penjualan alat berat pada kuartal pertama melonjak signifikan seiring dengan kenaikan harga batu bara.  Pengusaha alat berat yakin penjualan bakal melampaui target pada akhir 2017.

Ketua Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) Jamaludin optimistis penjualan alat berat bisa melampaui angka penjualan tahun lalu sebanyak 4.000 unit. Hinabi yakin unit yang terjual pada tahun ini setidaknya naik 5% menjadi 4.200 unit. “Untuk tahun ini kami optimistis karena tren permintaan dari sektor pertambangan mulai naik tajam,” ujar Jamaludin kepada Bisnis, Kamis (1/6).

Penjualan alat berat pada kuartal pertama tahun ini mencapai 1.153 unit. Kinerja penjualan alat berat tumbuh 88% dibandingkan dengan realisasi penjualan pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 619 unit. Adapun, penjualan alat berat pada 2016 mencapai 4.066 unit.

Permintaan alat berat bergantung kepada dua sektor utama, yaitu konstruksi dan pertambangan. Kedua sektor itu menyumbang sekitar 80% dari keseluruhan permintaan alat berat. Sementara itu, sisa permintaan berasal dari sektor logistik dan agrobisnis.

Menurut Jamaludin, kinerja penjualan alat berat selalu sejalan dengan pergerakan harga komoditas dan belanja infrastruktur pemerintah. Bisnis alat berat melihat tren kenaikan harga batu bara sebagai gejala perbaikan pada pasar alat berat. Tak heran jika produsen alat berat menggenjot produksi alat berat untuk sektor pertambangan ketika harga komoditas naik. “Dengan begitu sector mining bisa menyumbang sekitar 40% dari total penjualan.”

Sementara itu, Presiden Direktur GM Tractors Tjandi Mulyono menyatakan penjualan unit masih ditopang permintaan alat berat untuk konstruksi. Permintaan dari sektor pertambangan masih mengalami pertumbuhan yang moderat.

“Memang coal mining sedang rebound, pengaruhnya di industri cukup signifikan. Tetapi penjualan kami masih lebih banyak didorong unit untuk konstruksi, terutama wheel loader,” ujar Tjandi.

Menurutnya, lembaga pembiayaan masih berhati-hati sebelum menyalurkan pembiayaan untuk pembelian alat berat. “Umumnya mereka masih ragu apakah kenaikan harga coal itu bertahan lama atau cuma siklus temporer,” ujar dia.

Tjandi menyatakan prospek penjualan alat berat ini masih positif. Penjualan pada kuartal kedua diyakini masih melanjutkan pertumbuhan. GM Tractors optimistis dengan target kenaikan 30% untuk penjualan tahun ini. “Banyak yang bilang puasa dan lebaran membuat proses pengerjaan konstruksi slowing down. Namun, justru kami tak merasakan dampak negatifnya terhadap penjualan.”

Sementara itu, produsen alat berat PT XCMG Indonesia menargetkan penjualan alat berat senilai US$4juta pada 2017. Presiden Direktur XCMG Asia Pacific Ltd. Hu Xiangyang menyatakan geliat proyek infrastruktur dan bangkitnya sektor pertambangan menjadi faktor utama kenaikan permintaan alat berat. Penjualan alat berat XCMG ditargetkan naik 30% dari realisasi penjualan 2016 sebesar 150 unit. “Target penjualan di Indonesia untuk tahun ini sebanyak 200 unit,” ujar Hu, Selasa (30/5).

Menurutnya, produk alat berat yang paling banyak diminati di pasar Indonesia adalah wheel loader. Umumnya, produk itu digunakan untuk kebutuhan konstruksi jalan. Kontribusi penjualan wheel loader di Indonesia mencapai 50% dari keseluruhan nilai penjualan alat berat.

XCMG juga menjual berbagai jenis produk alat berat seperti excavator, mobile crane, crawler crane, tower crane, mounted crane, motor grader, dan heavy duty truck. Hu menyatakan produk alat berat pabrikan XCMG berbeda dengan produk China pada umumnya, yaitu produk berlabel murah dengan kualitas rendah. Dia mengklaim harga alat berat XCMG lebih kompetitif dan berkualitas baik.

Setiap unit alat berat XCMG dipasarkan di rentang harga Rp500 juta—Rp3miliar. Umumnya, berbagai jenis wheel loader dibanderol dengan harga Rp500 juta—Rp700 juta per unit.

Editor: Ratna Ariyanti

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer