PARIWISATA NEPAL : Geliat dari Negeri Atap Dunia

Oleh: Rezza Aji Pratama 06 Juni 2017 | 02:00 WIB
Pegunungan Everest/Reuters

Industri pariwisata Nepal sempat mengalami mimpi buruk setelah gempa bumi 7,8 Skala Richter mengguncang negeri itu pada April 2015. Setelah dua tahun berlalu, bagaimana negeri ‘Atap Dunia’ itu memulihkan diri?

Saya bertemu Charlie Ropsy pada suatu siang pada pertengahan April 2017. Matahari terik menyengat tetapi suhu udara membuat tubuh menggigil. Saya tidak tahu persis berapa temperatur saat itu, kemungkinan tidak lebih dari 15 derajat Celcius.

Charlie seorang wanita solo traveller asal Belgia. Kami sedang dalam perjalanan yang sama menuju Annapurna Basecamp (ABC), kawasan berselimut salju setinggi 4.130 meter di bawah permukaan laut (mdpl) di jajaran Pegunungan Himalaya. Ini adalah salah satu jalur trekking paling populer di Nepal. Rangkaiannya memiliki beberapa puncak dengan ketinggian di atas 7.000 mdpl. Puncak Annapurna I (8.091 mdpl) juga merupakan gunung tertinggi ke-10 di dunia.

Annapurna Sanctuary, begitu sebutan populernya, menawarkan jalur trekking yang tidak terlalu sulit tetapi punya panorama spektakuler. Pemandangan gunung putih bersalju bisa dinikmati sejak awal perjalanan.

Para pelancong juga tidak perlu repot membawa tenda dan perbekalan makanan sebab setiap pemberhentian terdapat penginapan. Ada beberapa rute yang bisa dipilh bergantung waktu serta tebal dompet yang dimiliki. Saya dan Charlie memiliki rute yang sama ke ABC dengan waktu tempuh 7—10 hari.

Periode Maret—April menjadi masa paling sibuk di kawasan ini. Ratusan trekker dari berbagai negara berkunjung menikmati panorama alamnya. Petugas di pos pemeriksaan Chomrong mencatat tidak kurang dari 250 orang melintas setiap harinya di jalur ini.

Saya dan Charlie sampai harus berbagi kamar akibat jumlah turis yang membeludak. Beberapa yang kurang beruntung bahkan terpaksa tidur di ruang makan penginapan.

Jalur Annapurna Sanctuary memang berhasil menarik siapapun untuk berkunjung. Termasuk seorang lelaki renta berusia 72 tahun asal Jepang. Rambutnya sudah memutih dengan kulit keriput dan gerakan yang tak lagi gesit. Ia pergi ke Nepal seorang diri. Berjalan hanya ditemani seorang pemandu yang tidak kalah tuanya. Keduanya mengingatkan saya pada Morgan Freeman dan Jack Nicholson di film The Bucket List.

Lain waktu, saya juga menyaksikan dua sejoli berumur asal Korea Selatan. Taksiran saya, usia keduanya tidak kurang dari 70 tahun. Mereka berjalan tertaih-tatih dengan tangan yang tegap memegang trekking pole. Hawa dingin dan jalur menanjak yang menguras keringat seperti hiburan belaka bagi sepasang renta itu.

Nepal seperti wahana penyembuh luka bagi banyak orang. Tita Delorenzo misalnya, rela menempuh perjalanan 3 hari dengan beberapa kali transit dari Santiago, Cile. Dia datang dari belahan dunia lain setelah putus dari kekasihnya. Seperti halnya Nepal, Cile sebenarnya juga memiliki jalur trekking yang tidak kalah terkenal.

Namun di Nepal, Tita mengaku menemukan kedamaian. Khusus untuk ‘menyembuhkan diri’ dia bahkan sampai menanggalkan profesinya sebagai dokter demi berkelana.

WISATAWAN MEMBELUDAK

Pada tahun ini Nepal boleh dibilang kebanjiran turis. Saya juga bertemu dengan puluhan wisatawan asal Thailand dalam perjalanan ini. “Warga Thailand sedang libur panjang karena ada momen tahun baru,” ujar Tun, seorang Thai yang saya temui.

Tidak hanya di Annapurna, destinasi lain yang lebih populer juga membeludak oleh wisatawan. Di Everest Basecamp, mengantre 365 pendaki dari 39 tim yang ingin mencicipi gunung tertinggi di dunia tersebut. The Department of Tourism Nepal mencatat ini merupakan jumlah izin tertinggi yang dikeluarkan sejak percobaan pendakian pertama pada 1953.

Ramainya Nepal oleh orang asing juga bisa disaksikan di Pokhara. Kota kedua terbesar di Nepal ini dipenuhi wisatawan berlalu-lalang. Di tengah kota terdapat Danau Fewa, tempat orang bisa berjalan santai mengelilinginya.

Pusat pertokoannya—sebagian besar menjual perlengkapan outdoor—ramai diminati pengunjung karena harganya yang kelewat murah. Pokhara menjadi destinasi utama karena inilah kota terakhir sebelum menuju belantara jalur trekking seperti Annapurna Sanctuary.

Charlie Ropsy juga tinggal di kota ini. Dia menempati sebuah kamar di hotel bertarif 400 rupee—sekitar Rp50.000—per malam di kawasan North Lake. “Saya jatuh cinta dengan kota ini,” tutur Charlie yang sempat menghabiskan tiga pekan di Kathmandu, ibu kota Nepal.

Setiap pagi, Charlie akan berjalan santai di tepi danau. Menikmati rangkaian puncak-puncak putih Annapurna, Himchuli, dan Machhapuchre yang terpampang jelas dari tepian danau saat cuaca cerah.

Wanita ini juga sering menghabiskan waktu dengan yoga dan meditasi. Ia menganggap Pokhara sebagai ‘rumah’ dan bersahabat dengan sebuah keluarga Nepal pemilik rumah makan yang didatanginya setiap jam makan malam tiba.

Nyaris setiap jam makan siang menghampiri Pokhara, saya selalu mampir ke sebuah rumah makan bernama Sherpa Kitchen. Tempatnya tidak terlalu besar tetapi bersih dan menawarkan menu makanan dengan harga yang tidak terlalu berbeda dengan standar hidup di Jakarta.

Pemiliknya seorang lelaki murah senyum bernama Pasang Chyawa. Wajahnya mengingatkan saya kepada pengelola lahan parkir di belakang kantor Bisnis Indonesia. Mirip seperti raut orang Indonesia kebanyakan.

Pasang begitu gembira saat mengetahui saya berasal dari Indonesia. Pada tahun lalu, dia pernah berwisata sepekan di Bali. Dengan antusias, dia menunjukkan foto-fotonya di kawasan Seminyak dan Kuta. “Itu pertama kalinya saat melihat laut,” tutur Pasang sambil tertawa. Wajar saja, Nepal memang tidak punya garis pantai.

GEMPA BUMI

Membeludaknya turis ke Nepal tahun ini juga diakui oleh Pasang. Dia sangat antusias menyambut wisatawan setelah mengalami periode buruk tahun sebelumnya. Pada Sabtu, 25 April 2015, siang, sebuah gempa berkekuatan 7,8 Skala Richter mengguncang Nepal. Ini merupakan gempa bumi terkuat yang menimpa negeri tersebut sejak 1934.

Bencana itu merenggut nyaris 9.000 nyawa, melukai lebih dari 23.000 lainnya serta menghancurkan puluhan ribu infrastruktur penting, termasuk bangunan bersejarah yang dilindungi UNESCO.

Puluhan ribu orang kehilangan rumah sehingga harus menjadi pengungsi. Di kawasan Gunung Everest, 18 orang tertimbun longsor. Menjadikannya sebagai hari terburuk dalam sejarah gunung tertinggi di dunia tersebut.

Sebulan kemudian, tepatnya 12 Mei 2015 gempa susulan kembali terjadi. Kali ini korbannya ‘hanya’ 153 orang karena pusat gempanya terletak lebih jauh di timur. Getarannya juga dirasakan penduduk India bagian utara.

Kathmandu menjadi kawasan terdampak paling parah. Sampai saat ini bahkan masih banyak bangunan yang belum direkonstruksi pascabencana. Pokhara yang terletak 200 kilometer dari Kathmandu selamat dari guncangan. “Kami merasakan getarannya tetapi tidak ada kerusakan parah,” tutur Pasang mengingat kembali bencana tersebut.

Kendati tidak merasakan dampak kerusakan gempa secara langsung, bukan berarti Pokhara tidak berduka. Pokhara adalah kota wisata. Perekonomian kota ini diputar oleh uang dari kantong orang-orang asing yang mengunjunginya. Gempa bumi seperti lonceng kematian bagi industri pariwisata di Pokhara dan Nepal pada umumnya.

Hingga 4 bulan pascabencana, Pasang tidak melihat satu pun turis yang mengunjungi kotanya. Hingga satu tahun berikutnya, jumlah pelancong bahkan merangkak terlalu lambat. Sejumlah agen wisata menyebut angka turis anjlok hingga 99% akibat gempa tersebut. Pasang menyebutnya sebagai ‘tahun penuh kesunyian’.

Dampak gempa terhadap industri pariwisata Nepal diungkap lewat berbagai riset. Salah satunya dilakukan oleh Ramesh Raj Kunwar, pakar pariwisata Nepal sekaligus mantan Dekan Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial Universitas Tribhuvan Kathmandu.

Menurutnya, Nepal sebenarnya termasuk wilayah yang rentan terdampak gempa. Dataran India yang sering disebut ‘Anak Benua Asia’ secara konsisten bergerak ke utara, memicu akumulasi tekanan jauh dalam perut bumi dari waktu ke waktu.

Namun, Nepal tidak pernah siap dengan kondisi ini. Beberapa jam setelah gempa terjadi Pemerintah Nepal mendeklarasikan keadaan darurat serta permintaan bantuan kepada dunia internasional. Ramesh menjelaskan Nepal tidak memiliki kapasitas mumpuni untuk melakukan pencarian dan evakuasi.

India menjadi negara pertama yang mengulurkan bantuan, sebelum diikuti oleh 134 tim SAR dari 34 negara lainnya. PBB menyediakan dana US$422 juta untuk membantu memulihkan keadaan.

Ramesh memperkirakan gempa Nepal menyebabkan kerugian hingga US$7 miliar, yang 11% di antaranya datang dari sektor pariwisata. Sebagai gambaran, angka kerugian ini merupakan sepertiga dari total PDB Nepal untuk tahun fiskal 2013—2014.

Gambaran kerugian sektor pariwisata Nepal dalam berbagai riset ini persis seperti yang dirasakan warga Nepal kebanyakan. Pasang harus bertahan setahun penuh tanpa ada pemasukan seperti tahun-tahun sebelumnya. “Saya beruntung karena masih punya cukup tabungan untuk bertahan,” ceritanya.

Namun tidak demikian dengan masyarakat Nepal lainnya. Demi bertahan hidup banyak warga Nepal yang akhirnya memilih untuk bekerja ke luar negeri. Mereka biasanya memilih Malaysia atau Thailand untuk menjadi buruh di perkebunan.

Nepal sering juga disebut ‘Negeri Atap Dunia’. Wajar saja, delapan dari 10 gunung tertinggi di dunia bercokol di negara ini. Tidak heran jika industri pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Tidak kurang dari 1,2 juta pekerjaan tercipta dari sektor pariwisata.

MANAJEMEN PARIWISATA

Pengelolaan pariwisata Nepal juga cukup tertata. Ada semacam kesepakatan antarpemangku kepentingan untuk tidak ‘memalak’ turis dengan harga selangit. Tarif taksi dalam kota misalnya, dipatok dengan tarif tetap seharga 200—400 rupee.

Soal perizinan ke kawasan taman nasional juga patut dicontoh. Untuk memasuki kawasan Annapurna Sanctuary, pelancong harus memiliki 2 jenis izin. Pertama, Trekking Information Management System (TIMS) yang berfungsi seperti kartu identitas para trekker.

Kedua adalah tiket masuk kawasan Annapurna itu sendiri. Tanpa kedua izin tersebut, Anda bisa ditangkap jika memaksakan diri memasuki kawasan taman nasional.

Di beberapa kawasan yang berbatasan dengan Tibet, izin masuk dibuat sangat sulit. Ini sebenarnya wilayah terlarang bagi warga asing, tetapi menawarkan keindahan alam yang menakjubkan.

Kawasan Upper Mustang misalnya, diperlukan izin khusus dengan biaya lebih dari Rp5 juta untuk bisa menjelajahinya. Dengan kebijakan semacam itu, hanya orang-orang tertentu yang bisa memasuki kawasan terlarang tersebut.

Selain kekayaan alam, Nepal juga memiliki kekayaan budaya yang memikat banyak orang. Ada 125 etnis dengan 123 bahasa yang berbeda di negara ini. Nepal sepertinya memang ditakdirkan sebagai negeri wisata.

Orang-orang Nepal begitu ramah dan terbuka melayani pelancong. Mereka akan melempar senyum dan selalu berusaha membuka percakapan dengan ramah. Tidak semua warganya bisa berbahasa Inggris, tetapi terkadang percakapan hanya butuh isyarat tangan dan mimik wajah yang bersahabat.

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya