PRODUKSI ALAT BERAT : Tren Positif Berlanjut

Oleh: Muhammad Khadafi 06 Juni 2017 | 02:00 WIB
Petugas mengoperasikan alat berat saat pengaspalan di Jalur Pantura kawasan Gemuh, Kendal, Jawa Tengah, Minggu (28/5)./Antara-Hafidz Mubarak A

JAKARTA – Tren pertumbuhan alat berat berlanjut hingga kuartal I/2017. Setelah dihantam kondisi perkenomian global yang berdampak pada harga komoditas, tahun ini produksi alat berat pertambangan dan konstruksi diprediksi bangkit.

Berdasarkan data Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi), capaian produksi alat berat konstruksi dan pertambangan pada kuartal pertama tahun ini naik hampir 50% atau dari sekitar 600 unit menjadi 1.153 unit dibandingkan periode yang sama 2016.

Hydraulic Excavator memberikan kontribusi tertinggi dengan 1.029 unit, diikuti bulldozer 82 unit, dump truck 22 unit, dan motor grader 20 unit.

Ketua Umum Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) Jamaludin mengatakan permintaan alat berat pertambangan meningkat sejak akhir 2016. Awal tahun ini masih merupakan carry over pemesanan alat berat dari tahun lalu.

“Sebenarnya sempat khawatir pertumbuhan hanya sampai di kuartal I/2017, tetapi nyatanya tidak. Sampai Mei itu demand [permintaan] masih ada,” katanya kepada Bisnis, Senin (5/6).

Sektor pertambangan adalah penyumbang terbesar penjualan alat berat. Sebab, tidak seperti untuk keperluan konstruksi, alat berat pertambangan perlu dilakukan peremajaan setidaknya satu tahun sekali.

Masa pakai alat berat untuk pertambangan berkurang drastis dibandingkan untuk pembangunan infrastruktur. Para pengusaha konstruksi juga sering kali tidak membeli alat berat, melainkan menyewa.

Jamaludin sempat pesimis perbaikan harga komoditas tidak mampu mengkerek jauh industri alat berat. Dia hanya memprediksi volume produksi alat berat konstruksi dan pertambangan tumbuh 5% dibandingkan tahun lalu.

Pada 2016 untuk pertama kalinya produksi alat berat merangkak naik setelah tergerus sepanjagn lima tahun sebelumnya. Volume naik 4,05% atau dari 3.535 unit menjadi 3.678 unit.

Namun, melihat capaian kuartal I/2017, Jamaludin optimistis tahun ini bisa ditutup dengan di kisaran 4.400 unit atau naik hampir 19,63%. “Karena kami kan terkontaminasi dengan ahli keuangan, makanya target kami pesimistis. Kalau lihat kuartal pertama begini dan sampai Mei permintaan masih baik, target bisa lebih besar,” kata Jamaludin.

PT United Tractors, distributor alat berat, juga mencatatkan capaian positif hingga empat bulan pertama tahun ini. Perusahaan membukukan kenaikan penjualan sebanyak 72,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, atau dari 689 unit menjadi 1.186 unit.

Sektor pertambangan memberikan kontribusi paling besar 48%. Kemudian diikuti oleh konstruksi 23%, dan sisanya dari forestry dan plantation.

Menurut Corporate Secretary PT United Tractor Sara Loebis, tahun ini merupakan momentum bagi industri alat berat untuk pemulihan bisnis, setelah mengalami penurunan 20% per tahun sejak 2012. “Kami lihat lonjakan demand [permintaan] tinggi. Tahun ini estimasi kami penjualan bisa mencapai 2.500 –3.000 unit.”

Senada dengan Hinabi, Sara juga mengatakan banyak permintaan akhir tahun lalu yang baru dapat terpenuhi pada awal tahun ini. Meski begitu, dia optimistis tren positif akan tetap terjaga hingga akhir tahun. Akan tetapi para pelaku usaha diharapkan tidak gegabah, karena sekotor pertambangan masih harus dipantau dengan seksama. ()

PRODUKSI ALAT BERAT

Tahun_ Unit

  • 2011_ 7.353
  • 2012_ 7.947
  • 2013_ 6.127
  • 2014_ 5.172
  • 2015_ 3.535
  • 2016_ 3.678
  • 2017*)_ 1.153

Sumber: Hinabi, 2017

Ket: *Jan-Mar

Editor: Fatkhul Maskur

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer