Kreasi Tenun Serba Putih di Bulan Suci

Oleh: Nindya Aldila 09 Juni 2017 | 02:00 WIB
Salah satu koleksi desainer Wignyo Rahadi/Tenun Gaya

Salah satu label kain tenun yang dimiliki oleh desainer Wignyo Rahadi, yakni Tenun Gaya sudah memiliki portofolio yang tidak diragukan lagi. Beberapa kali dirinya diamanahi untuk membuatkan pakaian bagi para petinggi negara seperti mantan Presiden SBY.

Salah satu label kain tenun yang dimiliki oleh desainer Wignyo Rahadi, yakni Tenun Gaya sudah memiliki portofolio yang tidak diragukan lagi. Beberapa kali dirinya diamanahi untuk membuatkan pakaian bagi para petinggi negara seperti mantan Presiden SBY.

Ramadan tahun ini, Wignyo tak mau ketinggalan untuk mengeluarkan koleksi khusus. Kendati Wignyo lebih banyak menerima pesanan sarimbit untuk keluarga, Wignyo mantap dengan konsep serba putih.

Siluetnya cukup sederhana, yakni hanya dress, kaftan, dan setelan kebaya. Dengan efek timbul, kain tenun berwarna off white ini menyelimuti seluruh permukaan. Agar tak terlihat terlalu polos, Wignyo menyisipkan ornamen garis pada tepian kerah dan lengan.

Begitu pula dengan koleksi untuk busana pria.

Selain putih, Wignyo juga memilih warna bernada alami, seperti abu-abu. Dia sengaja memilih warna yang tidak kinclong agar lebih terlihat modern dan nyaman. Selain itu, dengan palet warna yang lembut akan sangat cocok dipakai dari pagi hingga malam di momen Lebaran.

“Dengan menggunakan kain tenun untuk busana hari raya, tidak bertumpuk dan desainnya bersih. Selain baju muslim, bisa menggunakan baju bodo atau kaftan dengan paduan kain tradisonal,” katanya.

Bagi perempuan yang tidak menggunakan hijab, Wignyo memberikan alternatif atasan kebaya yang dipasangkan dengan kain tenun panjang khas Tenun Gaya. Kebaya dengan pinggiran bordir tersebut tampil sangat autentik dan feminin dengan selipan warna ungu dan peach.

Pada bagian bawah, kain dengan motif titik yang membentuk seperti papan catur dan perpaduan motif rang-rang di bagian bawahnya memperlihatkan energi muda karena menggunakan warna oranye.

“Kami bisa buatkan desain khusus atau custom sehingga barangnya eksklusif. Saya punya tim desain yang kreatif. Namun, menjelang puasa kita sudah menutup kesempatan memesan karena harus mengerjakan pesanan baju lebaran yang mencapai 600 pieces,” katanya.

Tenun Gaya memang selalu tampil berbeda. Sisi otentik yang selalu dipegang oleh Wignyo memang harus dibayar mahal dengan kesulitan pada proses pembuatannya.

Dia menceritakan, pada masa awal merintis bisnis ini, banyak pegawainya yang merasa bosan menenun. Bagaimana tidak, dalam satu hari menenun, seorang pekerja hanya bisa menghasilkan 4-5 cm kain. Dengan panjang 150 cm bisa terdiri dari 6.000 benang. Di situlah letak nilai kain tenun. Bahkan untuk satu lembar selendang, pantas saja jika dihargai Rp5 juta – Rp7 juta.

TERUS BERINOVASI

Untuk menjaring pelanggan di pusat Kota Jakarta, kini Wignyo membuka gerai baru di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Maklum, 75% pelanggannya berasal dari Ibukota. Hal ini bertujuan untuk menjalin lagi komunikasi dengan pelanggan lamanya yang tak sempat ke butiknya di Cipete.

Dengan profil pelanggan pencinta kain tradisional, dia sama sekali tidak patah arang untuk terus menggeluti bidang ini. Apalagi, dia semakin senang melihat kenyataan bahwa banyak anak muda yang makin bangga memakai kain tradisional.

Di saat yang sama, dia menyadari bahwa semakin tingginya kesadaran orang Indonesia memakai kain tradisional juga akan memunculkan kompetitor baru. Namun, hal itu tidak lantas membuatnya berkecil hati. Dia memastikan Tenun Gaya akan terus berinovasi mengikuti selera seluruh lapisan masyarakat.

“Salah satunya adalah tenun benang putus di Garut. Namun, saya sudah buat itu 10 tahun yang lalu. Tapi dari segi kualitas bisa dibandingkan, sehingga pelanggan kami tetap loyal,” tuturnya.

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend (11/6/2017)

Editor: Nurbaiti

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer