TARGET PEMBANGUNAN : Tingkat Kemiskinan Berpotensi Turun

Oleh: Dewi A. Zuhriyah 13 Juni 2017 | 02:00 WIB
Warga beraktivitas di rumah semi permanen yang berada di kawasan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta, Minggu (11/6)./Antara-Aprillio Akbar

JAKARTA—Tingkat kemiskinan pada tahun ini diperkirakan bisa diturunkan hingga mencapai 10,4% lebih rendah dari target dalam APBN 2017 yang ditetapkan 10,5%.

Selain tingkat kemiskinan, indikator kesejahteraan dan target pembangunan dalam APBN 2017 juga menetapkan tingkat pengangguran 5,6%; indeks pembangunan manusia 70,1, dan rasio gini 0,39.

“Targetnya kan 10,6% tapi kayaknya bisa sampai 10,4%. Kita lihat kenyataan outlook-nya bagus sekarang. Tahun ini jadi 10,4% dan tahun depan bisa nembus di bawah 10% targetnya. Yang penting kemiskinan tetap turun,” ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang P. Brodjonegoro di Jakarta, Senin (12/6).

Bambang mengakui cukup berat bagi Pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan ke bawah 10%. Dia menjelaskan semakin mendekati 10%, penurunan tingkat kemiskinan tersebut cenderung semakin berat dan butuh upaya ekstra.

Menurut Menteri PPN itu, penurunan tingkat kemiskinan dari 15% menjadi 12% relatif lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan menurunkan dari 12% menjadi 10%.

Dalam target pembangunan di Rancangan APBN 2018, Pemerintah menargetkan angka kemiskinan menurun pada kisaran 10%—9% dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dan inflasi, harga komoditas bahan makanan cukup stabil dan program-program afirmasi pengurangan kemiskinan tepat sasaran dan tepat waktu.

Selain itu untuk gini ratio, Pemerintah memprediksi ratio gini menurun menjadi 0,38.

Prediksi tersebut berpatokan dari gini koefisien pada September 2016 sebesar 0,394 yang turun 0,8 poin dari 0,402 pada September 2015 (year-on-year/yoy).

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada 2018 sekira 5,4%-6,1%, yang akan didukung oleh tiga faktor yakni konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah.

“Ini didorong oleh perekonomian global yang membaik seperti Amerika dan Eropa. Konsumsi dengan menjaga inflasi tetap rendah, apalagi persiapan untuk kegiatan Asian Games dan pemilu yang akan ada peningkatan permintaan barang dan jasa,” kata Menkeu.

Sementara itu, untuk sektor investasi, pemerintah akan mengandalkan perbankan dan pasar modal. Hal ini juga didorong oleh rating investment grade yang telah diperoleh oleh Indonesia.

“Untuk bisa capai itu di bidang konsumsi dijaga dengan didorong inflasi rendah. Investasi kunci membuat pertumbuhan tinggi dengan sumber investasi non-pemerintah cukup berarti,”pungkasnya. (Dewi A. Zuhriyah)

Editor: Lutfi Zaenudin

Berita Terkini Lainnya