PENUKARAN UANG: Idham Chalid Jadi Rebutan

Oleh: Siti Munawaroh & Krizia P. Kinanti 22 Juni 2017 | 02:00 WIB
Ilustrasi penukaran uang menjelang Lebaran/Antara-Muhammad Adimaja

Di Lapangan Benteng, Medan misalnya, masyarakat memilih uang pecahan dengan nominal Rp5.000 sebagai persiapan menyambut Lebaran.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatra Utara Arief Budi Santoso mengatakan minat masyarakat yang sangat tinggi terhadap uang pecahan Rp5.000 membuat stok uang emisi 2016 dalam nominal tersebut sudah tandas. Guna memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pecahan Rp5.000, BI menyiapkan uang pecahan yang sama dari tahun emisi 2011 alias uang edisi lama.

Dari tahun ke tahun, permintaan terhadap pecahan uang Rp5.000 memang selalu lebih tinggi. Luctor E. Tapiheru, Kepala Grup Penyelenggara Pengelolaan Uang, Departemen Pengelolaan Uang BI, mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat menilai uang pecahan lima ribuan paling pas sebagai pemberian kepada anak-anak dan handai taulan.

Selain itu, nilai pecahan Rp5.000 juga dinilai paling mudah untuk bertransaksi ritel di warung, pedagang kelontong serta berbelanja sehari-hari.

Secara nasional, uang pecahan senilai nominal Rp5.000 memang menempati posisi kedua yang paling banyak beredar sejak mulai dirilis pada Desember 2016. Posisi pertama ditempati uang pecahan Rp2.000.

Data BI menunjukkan dilihat dari sisi bilyet atau jumlah keping uang, uang yang beredar keluar (outflow) edisi tahun emisi 2016 didominasi oleh uang pecahan kecil. Uang pecahan Rp2.000 telah beredar sebanyak 687 juta bilyet, sedangkan uang pecahan Rp5.000 sebanyak 500 juta bilyet.

Sementara itu, dari sisi nominal, uang emisi baru yang keluar dari BI didominasi oleh uang pecahan besar. Uang pecahan Rp100.000 yang telah beredar tercatat senilai Rp20,3 triliun, disusul oleh uang pecahan Rp50.000 yang telah beredar senilai Rp15,4 triliun.

Deputi Gubernur BI Sugeng mengatakan, seluruh pecahan uang emisi 2016 telah beredar di masyarakat, baik uang pecahan besar maupun uang pecahan kecil. Namun, jika dilihat dari jumlah bilyet, uang pecahan kecil lebih banyak beredar dibandingkan pecahan besar.

Uang emisi baru itu telah diedarkan dan didistribusikan di 45 kantor perwakilan BI di 33 provinsi di seluruh Indonesia.

“Sampai 9 Juni 2017, jumlah outflow uang emisi 2016 telah mencapai Rp46,6 triliun, terdiri dari uang kertas Rp46,4 triliun [2,3 miliar bilyet] dan uang logam Rp0,3 triliun [541 juta keping]," tuturnya kepada Bisnis.

Pengeluaran dan pengedaran uang rupiah tahun emisi 2016 merupakan salah satu pelaksanaan amanat UU Mata Uang. Sesuai undang-undang, persiapan pengeluaran uang emisi baru itu telah dilaksanakan oleh BI berkoordinasi dengan pemerintah.

Uang emisi baru dirilis dalam 11 pecahan, yang terdiri atas 7 pecahan uang kertas dan 4 pecahan uang logam.

Sosok pahlawan yang terpampang di kesebelas pecahan uang baru tersebut yakni Soekarno dan Mohammad Hatta di Rp100.000, Djuanda Kartawidjaja di Rp50.000, Gerungan Saul Samuel Jozias Ratulangi di Rp20.000, Frans Kaisiepo di Rp10.000, Idham Chalid di Rp5.000, Mohammad Hoesni Thamrin di Rp2.000, Tjut Meutia di Rp1.000, I Gusti Ketut Pudja di Rp1.000 logam, TB Simatupang di Rp500 logam, Tjipto Mangunkusumo di Rp200 logam, dan Herman Johannes di Rp100 logam.

Meskipun sempat diwarnai kontroversi tampilan logo BI yang disebut-sebut mirip lambang ‘palu arit’ tapi seri uang baru itu kini menjadi favorit masyarakat karena masih baru dan tidak lecek.

Tardi, penjual sayur di daerah Depok, mengatakan bahwa pembeli senang mendapatkan uang kembalian berupa uang emisi baru. Alhasil, setiap kali mendapatkan uang seri terbaru dari pembeli, uang tersebut segera beralih kepada pembeli lainnya sebagai uang kembalian.

Selain diramaikan oleh aktivitas penukaran uang, momentum Lebaran juga seringkali diwarnai oleh penemuan uang palsu.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri Brigjen Pol. Agung Satya mengatakan meskipun uang palsu masih ada dan beredar di masyarakat, namun dari tahun ke tahun jumlahnya cenderung menurun.

Pada 2015, perbandingan uang palsu yang beredar mencapai 21 lembar dalam setiap 1 juta lembar uang asli. Pada tahun 2016, uang palsu semakin menurun menjadi 13 lembar dari 1 juta lembar uang asli.

“Tahun 2017 memang baru setengah tahun. Dari 1 juta lembar uang asli, hanya ada 2 lembar uang palsu. Kami terus melakukan penetrasi penegakan hukum dengan BI melalui penegakan hukum,” ujarnya.

Guna memberikan efek jera kepada sindikat pembuat dan pengedar uang palsu, Polri senantiasa mempublikasikan kepada masyarakat bahwa ancaman hukuman tindak pidana tersebut sangat berat. Ancaman hukuman bagi pembuat dan pengedar uang palsu adalah penjara 1 tahun-8 tahun.

Pemalsuan uang sangat mudah dideteksi, karena BI terus meningkatkan fitur keamanan yang sulit dipalsukan.

“Kami berharap para pembuat bisa berhenti karena pasti hasilnya jelek, perbedaan sangat nampak," pesan Agung. (Juli Etha Manalu)

Editor: Inria Zulfikar

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer