Inflasi Manado Meleset dari Prediksi

Oleh: Rivki Maulana 04 Juli 2017 | 07:01 WIB
Suasana pusat perbelanjaan dan hotel di kawasan Boulevard of Business, Jalan Pierre Tendean Manado./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia menilai tingkat inflasi Kota Manado yang mewakili Sulawesi Utara pada Juni 2017 melampaui proyeksi dan rata-rata historis Ramadan. Tomat dan angkutan udara menjadi dua komoditas penyumbang inflasi terbesar.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir, inflasi di Kota MAnado mencapai 1,15% secara bulanan dibandingkan dengan Mei 2017. Adapun, dalam tahun kalender inflasi tercatat 2,49% dan secara tahunan sebesar 3,59%.

Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara, Soekowardojo mengatakan sebelumnya bank sentral memperkirakan inflasi Kota Manado mencapai 0,7%. Inflasi di Kota Manado pada Juni menempati urutan ke-8 dari sebelas kota di Pulau Sulawesi. "Ini juga lebih tinggi dari realisasi inflasi nasional sebesar 0,69%," ujar Soekowardojo dalam keterangan tertulis, Senin (3/7/2017).

Berdasarkan komoditas, inflasi Kota Manado pada Juni 2017 disumbang kenaikan harga tomat sebesar 0,39%, angkutan udara (0,29%), tarif listrik (0,19%), dan beras (0,17%). Adapun, bawang merah dan cabai hanya memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,07% dan 0,04%.

Untuk diketahui, peningkatan konsumsi selama Ramadan, yakni dimulai pada 25 Mei 2017 hingga 25 Juni 2017 dan perayaan Idulfitri 1438 Hijriah yang jatuh pada 26 Juni 2017 diperkirakan tidak akan memberi andil signifikan terhadap inflasi Juni 2017. Pasalnya, harga komoditas yang biasa menyumbang inflasi seperti cabai rawit dan tomat telah turun.

Untuk diketahui, dalam periode April-Mei 2017 Kota Manado mencatat tren deflasi, berbalik dari tren inflasi yang dalam tiga bulan pertama 2017. Tim Pengendali Inflasi Daerah Sulawesi Utara memang tengah fokus meredam inflasi tahun ini karena sepanjang 2016, inflasi Kota Manado hanya mencapai 0,35%.

Editor: Mia Chitra Dinisari

Berita Terkini Lainnya