BISNIS DIGITELKO : Operator Mulai Limbung

Oleh: Lavinda 10 Juli 2017 | 02:00 WIB
Elevenia/twitter

JAKARTA—Beberapa operator seluler mulai limbung dengan dinamika industri digital yang memiliki skema bisnis berbeda 360 derajat dengan bisnis telekomunikasi nasional.

PT Indosat Tbk. dan PT XL Axiata mengaku akan mengubah strategi bisnis dan menarik diri secara perlahan dari bisnis digital serta kembali berfokus pada bisnis inti penyedia jasa telekomunikasi. Sementara itu, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) masih bertahan dengan skema ekspansi bisnis alternatif tersebut.

Setelah resmi menutup layanan e-commerce miliknya, cipika.co.id, pada 1 Juni 2017 karena dianggap kurang cepat berkembang, kini Indosat mengaku mengurangi aktivitas bisnis layanan finansial elektronik (e-money) Dompetku.

Selama empat tahun beroperasi, aktivitas layanan Dompetku meningkat hanya jika ada program promosi. Polanya serupa dengan bisnis e-commerce. Di sisi lain, operasionalnya berpotensi mengganggu kinerja laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) meski tak lebih dari 1%.

Dalam perkembangan terakhir, Indosat tak lagi berminat menyuntikkan modal kepada anak perusahaan PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa). Alhasil, pihaknya berencana melepas sebagian saham yang dimilikinya demi memperoleh modal kerja untuk mendorong kinerja bisnis Artajasa.

Direktur Utama Indosat Alexander Rusli mengungkapkan, saat ini terdapat empat investor strategis berupa institusi keuangan tradisional asing yang berminat membeli saham Artajasa. Transaksi akan rampung dalam dua bulan ke depan.

“Kami sedang cari partner untuk memegang sebagian saham Artajasa, nanati akan terdiluasi. Maunya dalam waktu dua bulan ini. Saham maksimal 25%,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Alex menjelaskan matriks perhitungan dalam skema bisnis digital berbeda dengan bisnis telekomunikasi yang sudah matang. Bisnis telekomunikasi sudah jelas memberi kontribusi pendapatan dan laba yang signifikan. Sementara itu, aktivitas digital berpotensi mengganggu EBITDA.

Kendati beberapa lini digital sudah menghasilkan banyak pengguna dan memberi kontribusi pendapatan, namun bisnis tak mampu berjalan secara berkelanjutan.

EVALUASI

“Intinya kami akan bisnis back to basic [kembali ke awal], dulu tambahan-tambahan [bisnis digital] itu kan cuma coba, dan akhirnya dipertimbangkan seberapa lama ini bisa bertahan,” paparnya.

Tak berbeda dengan Indosat, Direktur Utama PT XL Axiata Tbk. Dian Siswarini juga mengaku mempertimbangkan berbagai opsi memperoleh tambahan modal untuk perusahan e-commerce miliknya, Elevenia.

Salah satu opsi yang paling kuat terpilih ialah pelepasan sebagian saham miliknya di Elevania kepada investor strategis. Dia mengaku sudah ada beberapa investor strategis yang menyampaikan minatnya, baik perusahaan lokal, maupun asing.

“Sekarang masih fund raising, sedang kami analisa, dua bulan lagi keputusan opsi yang dipilih,” katanya.

Tak hanya Elevania, operator juga akan mengevaluasi kinerja layanan digital aplikasi games Gudang Aplikasi yang dianggap sulit bertarung dengan aplikasi games lain yang lebih besar.

Sejak awal, XL Axiata mencoba terjun di semua layanan digital sebagai upaya diversifikasi usaha. Namun saat ini, operator tengah melakukan evaluasi untuk memilah mana yang akan dihentikan dan dilanjutkan berdasarkan kinerja masing-masing layanan.

“Pada 2012-2013 ada digital advertising, e-commerce, digital money, cloud business, IoT [Internet of Things] dan lainnya. nanti beberapa saat di-review lagi mana yang mesti dilanjutkan atau tidak,” ungkapnya.

Dian juga sependapat dengan Alex terkait adanya perbedaan matriks perhitungan dalam skema bisnis digital dibandingkan bisnis telekomunikasi yang menjadi usaha inti perusahaan.

“Kalau telko diukur dari EBITDA, pendapatan, laba. Sedangkan digital hitungannya performa pengguna dan perolehan labanya tak akan cepat,” tuturnya.

Berbeda dengan kedua operator lain, Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengaku akan tetap gencar berekspansi di bisnis digital. Dia meyakini bisnis tersebut akan menjadi faktor penting dalam mendorong perkembangan bisnis telekomunikasi di masa mendatang.

“Memang karakter bisnis digital beda dengan bisnis inti, memang butuh strategi dan manajemen yang berbeda, tapi kami akan tetap kembangkan semuanya,” tuturnya. (Lavinda)

Editor: Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkini Lainnya