STRATEGI USAHA : Smartfren Fokus pada Bisnis Inti

Oleh: Lavinda 13 Juli 2017 | 02:00 WIB
Smartfren 4G/Ilustrasi

JAKARTA — PT Smartfren Telecom Tbk. memastikan tetap berfokus pada pengembangan bisnis inti sebagai penyedia jasa telekomunikasi, sedangkan bisnis digital dilakukan melalui skema kemitraan saja.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama PT Smartfren Telecom Merza Fachys menanggapi perkembangan kondisi serta upaya perombakan strategi bisnis digital oleh beberapa operator seluler lain.

“Di mana kami yakin punya kompetensi, di sana kami kembangkan. Bukannya enggak mau [kembangkan bisnis digital], tapi Smartfren masih tetap fokus mengunggulkan layanan data, voice, dan pesan singkat,” katanya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Pihaknya mengaku ingin lebih fokus mengembangkan kualitas dan memperluas cakupan jaringan data 4G long term evolution (LTE) yang baru mereka miliki sejak 2 tahun silam.

Berkaitan dengan layanan digital, operator milik Grup Sinar Mas itu masih berminat mengelola layanan yang terkait erat dengan jasa telekomunikasi, seperti musik, video, dan pembayaran digital. Namun, di luar itu, Smartfren mengaku sangat berhati-hati untuk berekspansi pada lini bisnis baru, mempertimbangkan potensi, dan kemampuan perusahaan.

“Totalitas pada industri digital jangan dibayangkan semua ada di satu badan usaha. Tidak harus dari hulu sampai hilir dikuasai, tapi bisa juga berpartner,” paparnya.

Merza menilai seleksi pengembangan usaha perlu dilakukan agar tak menciptakan beban pada kinerja keuangan.

Dari sisi makro, dia berpendapat, pemerintah memiliki visi untuk menumbuhkan pemain ekonomi baru, dan pemain ekonomi yang diharapkan tumbuh pesat ialah ekonomi digital.

Oleh karena itu, para pemain besar harus memberi kesempatan pelaku usaha baru tumbuh dan berkembang.

//Ekspansi Telkomsel//

Berbeda dengan Merza, Direktur Utama PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Ririek Adriansyah mengaku, akan tetap gencar berekspansi di bisnis digital.

Dia meyakini bahwa bisnis tersebut akan menjadi faktor penting dalam mendorong perkembangan bisnis telekomunikasi pada masa mendatang.

“Memang karakter bisnis digital beda dengan bisnis inti, memang butuh strategi dan manajemen yang berbeda, tapi kami akan tetap kembangkan semuanya,” tuturnya.

Sebelumnya, beberapa operator seluler mulai limbung dengan dinamika industri digital yang memiliki skema bisnis berbeda 360 derajat dengan bisnis telekomunikasi nasional.

PT Indosat Tbk. dan PT XL Axiata Tbk. mengaku akan mengubah strategi bisnis dan menarik diri secara perlahan dari bisnis digital serta kembali berfokus pada bisnis inti penyedia jasa telekomunikasi.

Sementara itu, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) masih bertahan dengan skema ekspansi bisnis alternatif tersebut.

Setelah resmi menutup layanan dagang-el (e-commerce), cipika.co.id, pada 1 Juni 2017 karena dianggap kurang cepat berkembang, kini Indosat mengaku mengurangi aktivitas bisnis layanan finansial elektronik (e-money) Dompetku.

Tak berbeda dengan Indosat, Direktur Utama PT XL Axiata Tbk. Dian Siswarini juga mengaku mempertimbangkan berbagai opsi memperoleh tambahan modal untuk perusahan dagang-el miliknya, Elevania.

Salah satu opsi yang paling kuat terpilih ialah pelepasan sebagian saham miliknya di Elevania kepada investor strategis.

Dia mengaku sudah ada beberapa investor strategis yang menyampaikan minatnya, baik perusahaan lokal, maupun asing. (Lavinda)

Editor: Zufrizal

Berita Terkini Lainnya