ATLET BALAP SEPEDA: Langkah Angel Raih Prestasi Lebih Tinggi

Oleh: Rezza Aji Pratama & Dika Irawan 15 Juli 2017 | 02:00 WIB
ATLET BALAP SEPEDA: Langkah Angel Raih Prestasi Lebih Tinggi
Pebalap melintas di jalan raya Bangsal saat memulai etape kedua Tour De Lombok Mandalika (TDLM) 2017, di Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB. Jumat (14/4)./Antara-Ahmad Subaidi

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitulah yang terjadi pada Liontin Evangelina Setiawan atau akrab disebut Angel. Terlahir dari pasangan atlet balap sepeda nasional Nurhayati dan Henry Setiawan, gadis kelahiran 13 Juli 1999 ini, kini mencuat sebagai salah satu atlet muda di cabang olahraga gowes itu.

Prestasi orang tua Angel pun tidak dapat dipandang sebelah mata. Sejarah mencatat bahwa Nurhayati adalah atlet balap sepeda yang sukses menyabet enam medali emas di perhelatan Sea Games 1997 di Jakarta.

Mengukir prestasi di dunia balap sepeda juga dilakukan oleh ayah Angel yakni Henry Setiawan, yang merebut dua medali emas dalam perhelatan yang sama.

Pascamenikah, keduanya memutuskan untuk pindah dari Ibu Kota ke Yogyakarta. Di kota Gudeg ini, keduanya mendirikan tempat pelatihan balap sepeda dan melatih para atlet muda berbakat, termasuk putri mereka, Angel.

Nama Angel menjadi buah bibir setelah berhasil meraih medali perunggu dalam ajang Asian Cycling Championship di Bahrain, Februari 2017. Di usia 17 tahun, Angel berhasil meraih posisi ketiga pada nomor Women Junior Individual Time Trial dengan catatan waktu 19 menit 50,8 detik.

Prestasi ini membuat Angel dinilai sebagai the rising star di dunia balap sepeda. Dia diharapkan dapat menyabet medali emas dalam Sea Games 2017 di Malaysia pada Agustus.

Guna memperkuat Tim Indonesia dalam ajang tersebut, Angel bersama dua atlet lainnya yakni Ayustina Delia Priatna dan Magfirotika Marenda berangkat ke Belanda. Sejak Mei silam, ketiganya secara intensif mengikuti pelatihan balap sepeda.

Nurhayati menuturkan, suaminya, Henry Setiawan mengawal ketiga atlet muda itu di Belanda. “Mereka berlatih di bawah pengawasan dari pensiunan pembalap sepeda asal Belanda Iris Slappendel,” tuturnya.

Selama berkarier di dunia balap sepeda, Slappendel berhasil merebut lima kemenangan balap sepeda tingkat dunia yang digelar oleh The Union Cycliste Internationale (UCI).

Salah satu yang paling diingat khalayak adalah saat Slappendel berhasil menjadi pemenang dalam ajang Open de Suede Vagarda, UCI Women’s Road World Cup 2012 di Swedia.

Nurhayati mengatakan, selain berlatih ketiganya juga mengikuti berbagai pertandingan balap sepeda. “Indonesia tadinya diremehkan tetapi ternyata anak-anak [ketiga atlet] memberikan perlawanan. Jadi mereka simpati juga akhirnya,” ujar Nurhayati.

BEASISWA UCI

Kendati pelatihan di Belanda terkait persiapan untuk menghadapi Sea Games 2017, Angel sepertinya harus absen di perhelatan itu.

Prestasinya yang dianggap luar biasa itu menarik perhatian manajemen Union Cycliste Internationale (UCI), untuk mengundangnya mengikuti pelatihan tingkat internasional di World Cycling Center, Aigle Swiss.

Tempat ini merupakan pusat pelatihan bergengsi bagi para atlet balap sepeda dari seluruh dunia untuk meningkatkan kemampuannya.

Nurhayati mengatakan, waktu pelatihan di Swiss ini bertepatan dengan penyelenggaraan Sea Games yakni pada 3 Agustus--28 September.

“Setelah berkonsultasi dengan para pihak termasuk pak Subronto Laras [Team Manager Atlet Balap Sepeda Sea Games 1997], pihak keluarga memutuskan agar Angel memenuhi undangan UCI itu. Angel merupakan atlet Indonesia pertama yang mendapatkan kehormatan untuk diundang mengikuti pelatihan tanpa harus membayar,” katanya.

Nurhayati mengatakan, bakat menjadi atlet sepeda balap telah terlihat dalam diri Angel. Pada 2012, dia sempat mengikuti balap sepeda di Wonosari, Yogyakarta tanpa persiapan apapun. Dia berhasil mencapai garis finish walaupun tidak juara. Dari situlah, dia serius untuk terjun menjadi atlet balap sepeda.

“Dia itu pantang menyerah. Sebelum meraih juara ketiga di Bahrain, dia mengikuti ajang serupa di Jepang pada 2016. Dia sempat terjatuh dan pingsan tetapi memutuskan untuk melanjutkan perlombaan,” ungkapnya.

Meskipun sempat jatuh dan pingsan, Angel tetap mampu mencapai garis finish diurutan ke-6.

ATLET BERBAKAT

Masih segar dalam ingatan seorang Soebronto Laras, Komisaris Utama PT Indomobil Sukses Internasional Tbk itu, bagaimana tim yang dipimpinnya tampil trengginas dalam balap sepeda di Sea Games 1997. Aksi sapu bersih medalipun berhasil dilakukan oleh tim pembalap sepeda Indonesia.

Ya, pada waktu itu Soebronto merupakan tim manajer dari atlet balap sepeda yang berlaga di Sea Games. Dua atlet yang ikut berlaga di ajang bergengsi itu kini memiliki anak yang berbakat luar biasa di bidang balap sepeda, Liontin Evangelina Setiawan.

Soebronto melihat bakat Angel tidak lepas dari pembinaan secara intensif yang dilakukan oleh orang tuanya. “Saya melihat bahwa potensi dan bakatnya sangat luar biasa. Hal seperti ini yang harus didorong agar olahraga dapat maju,” tuturnya.

Dia mengkhawatirkan, kurangnya perhatian kepada calon atlet maupun atlet membuat olahraga di Indonesia sekarang justru mundur.

Menurutnya, hubungan mulai dari pemerintah, pengusaha, tim manajer, pelatih, hingga atlet harus selaras. Dengan demikian, maka atlet dapat berkonsentrasi untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Soebronto menuturkan, keberhasilan di olahraga adalah membentuk karakter atlet. “Karakter itu mesti dibentuk. Atlet itu harus disiplin dan punya kemauan. Kalau program itu tinggal bagaimana menyusunnya,” ujarnya.

Ketua Umum PB ISSI (Ikatan Sepeda Sport Indonesia) Raja Sapta Oktohari menyatakan dengan segala keterbatasan baik administrasi maupun lainnya, pembinaan atlet merupakan prioritasnya.

“Saat ini, anggaran merupakan tantangan untuk pembinaan atlet. Namun, pembinaan tidak akan berkurang. Yang penting regulasi pemerintah jangan berubah terus, sehingga memberatkan pembinaan. Semua harus fokus dengan proses pembinaan dan prestasi atlet,” tegasnya.

Editor: Diena Lestari

Berita Terkini Lainnya