Bukopin Ingin Tekan NPL Lewat Pengalihan Hak Tagih

Oleh: Ropesta Sitorus 20 Juli 2017 | 02:31 WIB
Bank Bukopin/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Bukopin Tbk. menempuh sejumlah strategi untuk menekan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) yang dinilai masih cukup tinggi, terutama dalam dua tahun belakangan akibat tekanan dari sisi perekonomian.

Sampai kuartal I/2017 posisi NPL gross emiten berkode saham BBKP itu berada pada kisaran 4,07% atau naik dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu yang sebesar 3,3%.

Direktur Komersial PT Bank Bukopin Tbk. Mikrowa Kirana mengatakan ada beberapa strategi penyelesaian kredit bermasalah yang telah dilakukan Bank Bukopin, mulai dari lelang, collection, jual jaminan serta penambahan investor.

"Termasuk juga lewat cessie atau pengalihan hak tagih, sebab dalam perjanjian (pemberian pinjaman) dulu ada pernyataan bahwa bank punya hak untuk bisa mengalihkan hak tagih," katanya di Jakarta, Rabu (18/7/2017).

Dua hari lalu, Bank Bukopin memajang pengumuman di surat kabar yang meminta para debiturnya segera menyelesaikan kewajiban kredit kepada perseroan.

Pengumuman tersebut juga disertai info tambahan bahwa perseroan akan melakukan pengalihan Hak Tagih atas piutang kepada pihak lain apabila dalam batas waktu tujuh hari sejak diiklankan tidak ada tanggapan dari debitur.

Iklan tersebut berbentuk daftar yang berisi sekitar seribu nama debitur. Menurut Mikrowa, para debitur yang telah lama menunggak kewajiban itu berasal dari berbagai sektor.

"Kreditnya sudah macet sudah sejak lama. Ini bukan penjualan aset melainkan pengalihan piutang atau cassie, kami mengalihkan hak tagih kepada investor atau kreditur lain yang berminat," jelasnya.

Dia mengungkapkan pengumuman secara terbuka lewat media massa merupakan salah satu prosedur yang harus dipenuhi dalam pengalihan hak tagih untuk memberikan rasa keadilan kepada nasabah kredit.

Lebih lanjut, dengan pengalihan hak tagih tersebut serta langkah restrukturisasi dan strategi lainnya, rasio kredit bermasalah BBKP diharapkan dapat ditekan terus ditekan.

"Rata-rata aksinya baguslah karena ada jaminannya sehingga masih worth it, mudah-mudahan dengan ini bisa menurunkan NPL," ujarnya.

Khusus untuk segmen bisnis komersial, rasio NPL diproyeksikan masih akan berada di level 3% sampai akhir tahun. Penyumbang kredit bermasalah Bukopin dari segmen komersial antara lain berasal dari sektor perdagangan dan komoditas.

Pada kesempatan sebelumnya, Dirut Bukopin Glen Glenardy menyatakan pihaknya optimistis rasio kredit bermasalah secara keseluruhan dapat ditekan hingga 3,5% pada akhir tahun. Adapun, dalam paruh pertama tahun ini, rasio NPL gross sedikit turun tetapi masih ada di level berkisar 4%.

"Sebenarnya, kami targetkan bisa turun 3,5% pada tengah tahun ini, tetapi ada deal yang tertunda. Selain itu, Juni ini memang pendek juga waktunya, ada libur panjang," ujarnya belum lama ini.

Dia memaparkan, perseroan pun optimistis bisa menekan NPL gross pada kuartal ketiga 2017 karena akan ada deal penjualan aset bermasalah yang sempat tertunda pada kuartal kedua. Pembeli aset bermasalah tersebut antara lain berasal dari sektor tambang.

Editor: Andhika Anggoro Wening

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer