Kelola Jambaran-Tiung Biru, Pertamina Usulkan Tambahan Split

Oleh: Duwi Setiya Ariyanti 31 Juli 2017 | 22:42 WIB
Truk pengangkut BBM Pertamina bersiap melakukan distribusi./JIBI-Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA--PT Pertamina (Persero) mengusulkan tambahan split kepada pemerintah karena mengelola Lapangan Jambaran-Tiung Biru.

Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam mengatakan kesepakatan harga dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) terkait pasokan gas dari Jambaran-Tiung Biru telah dicapai. Kendati demikian, pihaknya enggan menyebut berapa harga juga gas yang disepakati Pertamina dan PLN dalam rapat yang digelar di Kementerian ESDM itu. Pastinya, ujar Syamsu, harga yang disepakati masih sesuai dengan keekonomian pengembangan lapangan. Dia pun menyebut perjanjian jual beli gas (PJBG) segera diteken antara Pertamina dan PLN.

Menurutnya, harga yang disepakati ini lebih rendah dari yang telah tertulis dalam rencana pengembangan lapangan. Dalam rencana pengembangan lapangan, harga gas dari Jambaran-Tiung Biru sebesar US$8 per MMBtu dengan eskalasi sebesar 2% per tahun.

"Kesepakatannya udah. Tinggal segera ditandatangan. Dirampungin masalah PJBG-nya," ujarnya di Jakarta, Senin (31/7/2017).

Untuk membuat pengembangan tetap memenuhi skala ekonomi akibat perubahan itu dan rencana mundurnya ExxonMobil Cepu Limited sebagai mitra dalam proyek itu, pihaknya mengusulkan insentif kepada pemerintah. Pada proyek yang berada di Blok Cepu dan aset Pertamina EP tersebut, PEPC yang berperan sebagai operator, bersama EMCL masing-masing memiliki 41,4% hak kelola. Badan usaha milik daerah (BUMD) memiliki 9,2% dan sisanya sebanyak 8% dikuasai Pertamina EP.

Dengan demikian, porsi saham partisipasi PEPC pada proyek unitisasi Jambaran-Tiung Biru nantinya akan bertambah karena EMCL sebagai mitra memilih untuk mengundurkan diri dari kemitraan. Proyek tersebut merupakan unitisasi dua lapangan dari dua wilayah kerja berbeda. Lapangan Jambaran merupakan bagian dari wilayah kerja Cepu yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited dan Lapangan Tiung Biru yang menjadi bagian dari wilayah kerja Pertamina EP.

Adapun, salah satu insentif yang disampaikan yakni penambahan bagi hasil kontraktor. Bila pada kontrak kerja sama Blok Cepu bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor sebesar 65%:35%, pada pengembangan proyek Jambaran-Tiung Biru diharapkan split bisa naik menjadi 40% bagi kontraktor.

"Splitnya berubah. Beberapa insentif yang kita minta salah satunya masalah split," katanya.

Editor: Mia Chitra Dinisari

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer