KAWASAN INDUSTRI KALTARA : Tsingshan Mulai Survei

Oleh: Nadya Kurnia 04 Agustus 2017 | 02:00 WIB
Pekerja di salah satu smelter./JIBI

BALIKPAPAN— Setelah mengumumkan rencana investasi di Kawasan Industri Kalimantan Utara senilai US$28 miliar, Tsingshan Holding Group mulai melakukan survei ke lokasi.

Sejak kemarin dan hari ini, Tsingshan menyambangi Peso, Kabupaten Bulungan dan Kawasan Industri Pelabuhan Internasional Tanah Kuning dan Mangkupadi.

Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie mengatakan Tsingshan memerlukan beragam data, termasuk kondisi lahan, curah hujan, geologi, dan catatan gempa.

Selain itu, perusahaan tersebut juga membutuhkan data kondisi hidrologi yang meliputi topografi bawah laut, arah arus samudera, pasang surut air laut, diagram wind-rose, endapan sedimen, dan data awal geofisika.

"Tsingshan juga perlu data meteorologi, distribusi kelembaban tahunan, grafik angin naik. Lalu persyaratan pembuangan debu dan kotoran, dan sumber bangunan di sekitar proyek," ujar Irianto, Kamis (3/8).

Pemda telah menyiapkan data. Irianto juga meminta agar instansi terkait kooperatif melengkapi data yang dibutuhkan.

Tshingshan berencana menggarap kompleks pemurnian logam terintegrasi dengan membangun sejumlah proyek, di antaranya pabrik ferronickel berkapasitas 1,5 juta ton, ferrochrome 1,2 juta ton, stainless steel 1,2 juta ton, mangan 0,5 juta ton, ferrosilicate 0,2 juta ton, baja karbon 10 juta ton, dan alumina 1 juta ton. Selain itu, perusahaan juga membangun pembangkit listrik 7.200 megawatt.

Kawasan industri Tanah Kuning awalnya diproyeksikan berada di atas lahan seluas 11.000 hektare. Pembebasan lahan industri kemudian bertahap secara bertahap menjadi 25.000 hektare. Kawasan Industri Tanah Kuning tengah memasuki tahap pembangunan dan pembebasan lahan. Adapun target operasi tahap awal dipatok pada 2020.

//Mitra Lokal//

Dihubungi pada kesempatan terpisah, Imam Haryono, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kemenperin, mengatakan pihaknya berharap ke depan akan ada transfer pengetahuan ke pengusaha dalam negeri yang digandeng menjadi mitra lokal.

"Harapan kami [dengan adanya investor baru] ini kan bermanfaat untuk semua. Salah satunya pengusaha-pengusaha nasional bisa mengglobal, baik dari sisi manajemen dan lainnya," ujarnya.

Sebelumnya, Imam menyatakan pengembangan kawasan industri pemurnian logam di Tanah Kuning dapat memperkuat ketahanan struktur industri lain, yaitu seperti industri otomotif dan alat kesehatan.

Pemerintah berusaha menarik lebih banyak investasi ke luar Jawa dengan mengembangkan berbagai kawasan industri. Berbagai insentif fiskal dan kemudahan ditawarkan kepada investor yang hendak menanamkan modal di kawasan industri, misalnya pengurangan pajak penghasilan badan, pembebasan pajak pertambahan nilai, pembebasan pengenaan bea masuk, dan pembebasan pajak penerangan jalan. Di luar itu, pemerintah juga menyediakan fasilitas nonfiskal, seperti pengecualian berbagai perizinan dan rekomendasi pembentukan pusat logistik berikat yang berada di dalam kawasan industri.

Formulasi insentif yang ditetapkan pemerintah juga memperhitungkan risiko investasi di luar Jawa. Alhasil, insentif yang ditawarkan pada pengembangan kawasan di luar Jawa lebih besar ketimbang fasilitas pengembangan kawasan di pulau Jawa.

Realisasi investasi asing langsung di luar Jawa terus mengalami pertumbuhan sejak 2010. Pada 2010, realisasi investasi asing di luar Jawa hanya sebesar US$4,72 miliar. Sementara itu pada 2016, realisasi penanaman modal asing di luar Jawa mencapai US$14,19 miliar. Angka itu hampir sejajar dengan realisasi penanaman modal dalam negeri ke luar Jawa pada periode yang sama, yakni senilai US$14,7 miliar.

Pemerintah sudah menetapkan sebanyak 17 kawasan industri yang masuk ke dalam revisi proyek strategis nasional. Belasan kawasan industri itu diharapkan mampu menarik lebih banyak investasi ke sektor manufaktur, terutama yang berada di luar Jawa.

Editor: Ratna Ariyanti

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer