Langka Tapi Nyata, Warga Hibahkan Berhektar Lahan untuk Rumah Nelayan

Oleh: Newswire 13 Agustus 2017 | 12:25 WIB
Ilustrasi: Nelayan tradisional membersihkan sampah dan lumpur yang menempel pada pukat tarik atau pukat darat di perairan pantai Kampung Jawa, Banda Aceh, Selasa (18/7)./Antara-Ampelsa

Kabar24.com, TERNATE - Ini kejadian langka di masa kini, tapi sungguh-sungguh terjadi.

Sejumlah warga Pulau Hiri di Kota Ternate, Maluku Utara, menghibahkan lahannya seluas tiga hektare untuk lokasi pembangunan rumah bagi nelayan di pulau itu. Selama ini, para nelayan tersebut belum memiliki rumah layak huni.

Akan kesediaan warga menghibahkan lahannya, pemkot setempat pun memberikan apresiasi yang tinggi.

"Pemkot Ternate memberikan apresiasi atas kesediaan warga di Pulau Hiri menghibahkan lahannya untuk lokasi pembangunan rumah nelayan, jarang ada warga sekarang ini yang seperti itu," kata Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Ternate Rizal Marsaoly di Ternate, Minggu (13/8/2017).

Di lahan 3 ha tersebut akan dibangun rumah nelayan sebanyak 52 unit berukuran 36 meter persegi dengan dana Rp5 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2017 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Menurut Rizal Marsaoly, di Kota Ternate masih banyak nelayan yang belum memiliki rumah layak huni. Oleh karena itu Pemkot Ternate akan memperjuangkan agar pada 2018 kembali mendapat alokasi anggaran untuk pembangunan rumah nelayan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Pemkot Ternate telah memprogramkan pembangunan rumah nelayan pada 2018 di Pulau Moti dan Pulau Batang Dua. Pemkot berharap warga dikedua pulau itu dapat pula menghibahkan lahan untuk lokasi pembangunan rumah nelayan.

Anggota DPRD Kota Ternate Mochdar Bailusy mengingatkan kepada Pemkot Ternate agar melakukan pendataan dan seleksi secara cermat terhadap nelayan yang akan mendapat bagian dari pembangunan rumah nelayan di Pulau Hiri tersebut.

Langkah itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan data palsu, misalnya dimasukkan sebagai nelayan padahal sebenarnya yang bersangkutan bukan nelayan. Sebaliknya, mereka yang sebenarnya nelayan justru tidak diakomodir karena permainan oknum tertentu.

"Kasus pembagian bantuan perahu katinting kepada para nelayan, tetapi yang menerimanya bukan nelayan seperti yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Malut diharapkan tidak terjadi dalam pembagian rumah nelayan di Pulau Hiri," katanya.

Sumber : Antara

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer