Perkebunan Sawit Diminta Waspadai Hama

Oleh: Sri Mas Sari 16 Agustus 2017 | 21:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia (Maksi) meminta petani maupun perusahaan untuk mewaspadai serangan Oryctes (kumbang tanduk) dan ganoderma di perkebunan sawit.

Ancaman oryctes muncul akibat teknik underplanting untuk kegiatan peremajaan tanaman sawit.

Teknik underplanting praktik penanaman kembali (replanting), di mana tanaman muda ditanam di bawah tegakan sawit lama yang masih hidup.

Teknik itu bertujuan menghemat biaya replanting dan memberikan pendapatan kepada petani paling tidak satu tahun pertama setelah tanam, dari panen yang masih bisa dinikmati dari tanaman tua.

Setelah berumur satu tahun, tanaman tua kemudian dimatikan yang bertujuan supaya tanaman muda dapat tumbuh dengan baik.

Namun dalam jangka menengah dan panjang, praktik underplanting justru mengancam perkebunan sawit petani. Ancaman tersebut ditemukan oleh tim Maksi di Bengkulu, yang berasal dari Universitas Bengkulu.

Supanjani, ahli agronomi, menyampaikan tegakan batang tanaman lama ternyata menjadi sarang Oryctes. Dari sampel sepanjang 50 cm batang, ditemukan larva Oryctes sebanyak 293 ekor.

Karena berbagai instar larva ditemukan, dapat dipastikan monumen Oryctes menjadi sumber hama kumbang tanduk yang berkelanjutan.

"Karena serangga dewasa dapat terbang jauh, keberadaan monumen-monumen Oryctes dapat menjadi ancaman serius bagi kebun sawit tetangga. Oryctes mengakibatkan banyak pelepah sawit berlubang-lubang, bahkan dapat merusak titik tumbuh tanaman," kata Supanjani, Rabu (16/8/2017).

Ketua Umum Maksi Darmono Taniwiryono mengatakan ancaman lain datang dari Ganoderma sp., yakni patogen penyakit busuk pangkal batang dan busuk batang.

Di banyak kesempatan, ahli ganoderma ini melarang keras sistem underplanting, terutama di daerah-daerah endemik ganoderma.

"Mengingat besarnya ancaman hama Oryctes dan Ganoderma, Maksi mengimbau agar model underplanting tidak diterapkan dalam pelaksanaan replanting, baik kebun plasma maupun kebun mandiri," tuturnya.

Kontribusi kebun rakyat di Bengkulu mencapai 64% dari total pengusahaan sawit.

Darmono menambahkan replanting sangat mendesak karena kebun sawit rakyat umumnya dari bibit yang tidak bersertifikat atau bibit asalan.

Untuk meyakinkan para pelaku usaha, Maksi Bengkulu sedang melakukan kajian ilmiah yang lebih dalam terhadap fenomena itu.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer