Ekspansi Kredit, Bank Artos Indonesia Gandeng Tugu Kresna

Oleh: Kahfi 17 Agustus 2017 | 19:05 WIB
Ilustrasi./Bisnis

Bisnis.com, BANDUNG - PT Bank Artos Indonesia Tbk. atau ARTO meneken perjanjian kerjasama bisnis dengan asuransi PT Tugu Kresna Pratama guna menggenjot penyaluran kredit perusahaan yang dipatok tumbuh 19,07% pada tahun ini.

Direktur Utama ARTO Reinantha Yaputra mengungkapkan menggaet kemitraan merupakan strategi perusahaan dalam menggenjot kredit. Strategi itu akan menjangkau mitra dari bisnis pembiayaan, bank, dan asuransi.

Teranyar, kerjasama dengan PT Tugu Kresna Pratama (TKP), anak usaha PT PLN (Persero) yang mencakup kerjasama pendanaan dan penjaminan. Yaputra menilai lewat kerjasama tersebut, terbuka peluang bagi perusahaan menggarap pendanaan mitra PLN.

“Dengan kerjasama ini, kami dapat membuka kesempatan kepada pendanaan kepada proyek-proyek PLN, juga para mitranya,” ungkap Yaputra kepada Bisnis, Kamis (17/8/2017).

Lewat kerjasama itu, ARTO pun membuka kesempatan buat TKP menggarap penjaminan dari para mitra perusahaan. “Artinya kami juga bisa memberikan produk penjaminan [Asuransi] Tugu kepada para mitra kami,” ungkapnya.

Strategi menggaet mitra itupun dianggap sejalan guna merealisasi target pertumbuhan kredit ARTO mencapai Rp568 miliar pada tahun ini. Tingkat pertumbuhan itu mencapai 19,07% dibandingkan Rp477 miliar pada tahun lalu.

Di sisi lain, ARTO juga memburu tingkat NPL rendah, berkisar 2,95%. Pada tahun lalu, NPL bank yang berbasis di Bandung itu sebesar 4,08%.

Sejalan dengan target tersebut, mematok laba sebesar Rp8,09 miliar pada tahun ini. Acuan laba tersebut terbilang tinggi, mengingat perusahaan mengalami kerugian Rp39,2 miliar pada 2016.

Yaputra mengungkapkan melalui banyak kemitraan, ARTO mempersempit peluang kredit bermasalah ataupun macet. Karena, lanjutnya, para mitra selain membutuhkan kredit dalam jumlah besar, juga mempunyai jaminan kinerja yang baik.

“Kami pun mempelajari para mitra, seperti misal dengan Tugu [TKP], belakangnya sudah jelas PLN, dan kinerja juga baik,” singgung Yaputra.

Di sisi lain, dia mengakui pada tahun ini perusahaan harus lebih berhati-hati menggelontorkan kredit. Menurut Yaputra, kondisi perekonomian belum sepenuhnya pulih, sehingga kendali kredit oleh bank mutlak dibutuhkan.
“Kami menambahkan strategi lain seperti bagaimana restrukturisasi ataupun pencairan aset bagi kredit yang bermasalah,” ungkap Yaputra.

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer