KREDIT PERBANKAN : Penyaluran Bakal Terus Meningkat

Oleh: Nadya Kurnia 24 Agustus 2017 | 02:00 WIB
Undisbursed loan bank. / Bisnis

BALIKPAPAN — Kendati rasio kredit macet masih tercatat dua digit hingga semester II/2017, bank sentral menyebutkan penyaluran kredit baru di Kota Balikpapan mulai menunjukkan optimisme peningkatan hingga akhir tahun.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia mencatat rasio kredit macet pada periode tersebut mencapai 12,5%, sedangkan pertumbuhan penyaluran kredit mencapai 3% dengan total kredit tersalurkan sebesar Rp23,47 triliun.

Setahun sebelumnya, penyaluran kredit baru mengalami tren penurunan sepanjang tahun yang diikuti dengan penurunan kualitas kredit.

Hingga saat ini, kontribusi kredit macet gross terbesar masih disumbang oleh sektor pertambangan, yakni hingga 65,45%.

"Besaran rasio NPL tak kunjung berkurang bukan berarti perbankan tidak berupaya memperbaiki kualitas kredit. Restrukturasi tidak bisa selesai dengan cepat, apalagi kalau sampai harus melelang agunan pada saat perekonomian belum sepenuhnya pulih," ujar KpwK Bank Indonesia Balikpapan Suharman Tabrani, Rabu (23/8/2017).

Menurutnya, perbaikan kualitas kredit masih berpeluang meningkat hingga akhir tahun seiring dengan membaiknya prospek perekonomian Kaltim. Suharman mengatakan permintaan batu bara dari Afrika Selatan membuka peluang ekspor bagi Kaltim.

Selain itu, investasi swasta juga diproyeksikan akan meningkat dengan adanya proyek pengembangan kilang PT Pertamina (Persero) dan berlangsungnya masa transisi pengelolaan Blok Mahakam.

"Ditambah lagi, ada beberapa pabrik kelapa sawit yang berstatus comissioning sepanjang tahun ini, berkapasitas 885 ton Tbs per jam, sehingga kapasitas produksi CPO di Kaltim akan meningkat juga," sambungnya.

Peluang tersebut sejalan dengan pertumbuhan penyaluran kredit yang didominasi oleh pertumbuhan kredit pada sektor pertanian sebesar 27,79%. Dari sektor tersebut, pangsa kredit didominasi oleh usaha perkebunan sawit sebesar 90%.

Namun secara volume kredit, sektor jasa usaha lainnya masih mendominasi sebesar 36,16% dengan pertumbuhan 6,76%, disusul oleh sektor perdagangan sebesar 21,51% dengan pertumbuhan -0,72%.

Sedangkan pangsa kredit sektor pertambangan mencapai 9,33%, dengan pertumbuhan yang menurun hingga -8,57%.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kpwk Bank Indonesia Balikpapan Thomy Andryas mengatakan realisasi pertumbuhan pada sektor pertanian menunjukkan upaya diversifikasi portofolio kredit yang mulai membuahkan hasil.

"Rasio kredit macet pada sektor pertanian juga sangat kecil, yaitu hanya 0,37%. Ruang diversifikasi ekonomi masih terbuka lebar bagi pengusaha, juga bagi pelaku usaha perbankan selaku penyedia modal kerja," tutur Thomy.

Namun, bank sentral juga mengimbau perbankan untuk mewaspadai risiko pada prospek perekonomian Kaltim. Koreksi harga komoditas unggulan dinilai masih bersifat temporer, dan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dua negara importir batu bara terbesar bagi Indonesia, yakni Cina dan India.

Selain itu, pembiayaan infrastruktur di Kaltim juga dinilai masih terbatas, lantaran pemangkasan anggaran yang akan berimbas pada kemampuan fiskal pemerintahan selama 2017.

BUKA KERAN

Pelaku usaha perbankan juga telah membuka kembali keran penyaluran kredit untuk sektor pertambangan setelah setahun sebelumnya pembiayaan pada sektor tersebut sangat dibatasi, bahkan disetop untuk sementara.

Area Head PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Area Balikpapan Puji Heru Subardi mengatakan penyaluran kredit baru untuk sektor pertambangan memang telah dibuka kembali, namun masih secara selektif.

"Kami buka kembali tidak hanya untuk nasabah eksisting saja, tapi juga untuk nasabah baru yang potensial. Meskipun begitu, kami masih tetap selektif memilih," ujarnya.

Langkah serupa juga dilakukan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Cabang Balikpapan. Sejak industri unggulan Kaltim merosot, bank spesialis pembiayaan KPR itu menyeleksi ketat penyaluran kreditnya.

Kepala Cabang BTN Balikpapan Januardi mengatakan penurunan kinerja industri pertambangan mengakibatkan basis nasabah dari sektor pertambangan berkurang banyak, sejalan dengan banyaknya perusahaan yang berhenti beroperasi dan memulangkan karyawannya.

"Saat harga batu bara jatuh, kami masih menyalurkan ke nasabah dari sektor pertambangan, tapi sesuai profil perusahaan tambang potensial yang diberikan kantor pusat. Jadi penyaluran kreditnya benar-benar hanya untuk nasabah yang bekerja di perusahaan yang sudah ditentukan," tutupnya.

Editor: Abraham Runga

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer