PERKEMBANGAN INFLASI : Agustus Deflasi, Desember Perlu Diwaspadai

Oleh: Edi Suwiknyo 05 September 2017 | 02:00 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto menjelaskan pertumbuhan Indeks Harga Konsumen Agustus 2017, di gedung BPS, Jakarta, Senin (4/9)./JIBI-Felix Jody Kinarwan

Kondisi tersebut, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), cukup menggembirakan, karena ditopang oleh administered price atau harga yang diatur pemerintah yang tercatat beberapa diantaranya mengalami penurunan.

"Kalau melihat summary-nya deflasi tersebut ditopang penurunan tarif angkutan udara, bawang merah, dan bawang putih," kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin (4/9).

Kinerja indeks harga konsumen tersebut didapatkan dari laporan harga secara umum dari 82 kota. Dari jumlah itu 47 kota mengalami deflasi, sedangkan sisanya mengalami inflasi.

Kendati tercatat deflasi, Suhariyanto mengingatkan bahwa ada beberapa komoditas yang perlu diperhatikan misalnya cabe merah, garam, biaya sekolah dasar, dan sekolah menengah atas.

"Pengalaman inflasi dari Januari sampai Agustus masih terkendali. Hanya saja bulan Desember harus diwaspadai karena di sana ada Natal dan liburan."

Berdasarakan catatan BPS, IHK selama Agustus tercatat mengalami deflasi 0,07% atau jika dibandingkan tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Agustus) 2017 tumbuh 2,53% serta secara year on year sebesar 3,82%.

Menurut BPS, deflasi terjadi karena penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran yakni kelonpk bahan makanan sebesar 0,67% dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,60%.

Sementara, inflasi inti pada Agustus 2017 sebesar 2,98% mencatatkan posisi terendah sejak tiga tahun terakhir. Angka itu merepresentasikan pelemahan daya beli masyarakat di luar administered price dan volatile food.

Suhariyanto menepis anggapan soal pelemahan daya beli tersebut. Pasalnya, konsumsi rumah tangga masih cukup kuat meski hanya 4,95%.

“Kalau lihat rilis pertumbuhan ekonomi kita, konsumsi rumah tangga masih cukup kuat. Jadi kalau melihat hal itu bukan penurunan daya beli,” paparnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, penurunan inflasi komponen inti tersebut akan tampak apabila membandingkannya dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2015 komponen inflasi inti berada di atas 4,92% dan pada 2016 sebesar 3,32%.

Kepala BPS juga mengemukakan bila dilihat berdasarkan inflasi bulananya, pola tersebut mendekati situasi pada 2015. Pada tahun tersebut lebaran terjadi pada Juli, kemudian baru deflasi dua bulan kemudian. Selain itu, kenaikan harga listrik 900 Kwh belum lama ini juga mempengaruhi inflasi pada bulan-bulan sebelumnya.

“Jadi bukan karena daya beli rendah dan permintaan menurun. Kalau daya beli, konsumsi masyarakat masih cukup baik, secara nominal konsumen perkapita juga naik,” ujarnya.

Dalam kaitan itu data BPS juga menunjukkan, komponen inti pada Agustus 2017 mengalami inflasi 0,28%. Jika dihitung dari Januari hingga Agustus komponen tersebut mengalami inflasi 2,15%.

Namun BPS optimistis target inflasi selama tahun ini bakal dicapai, karena berdasarkan pengalaman Januari hingga Agustus kinerja indeks harga konsumen atau inflasi masih cukup stabil.

Pola inflasi selama 2017 mirip dengan 2015, sehingga jika melihat pengalaman tersebut dirpoyeksikan target 2017 bisa tercapai.

“Saya harap bisa terkendali. Saya yakin akan tercapai target pada 2017.”

Adapun dalam APBN Perubahan 2017, angka inflasi diproyeksikan mencapai 4,3%.

Editor: Inria Zulfikar

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer