EFEK BADAI HARVEY : Pasokan Kapas AS Menyusut

Oleh: Hafiyyan 05 September 2017 | 02:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Pasokan kapas dari Amerika Serikat menyusut akibat badai Harvey yang menerjang pada Jumat (25/8). Sentimen ini mengangkat harga kapas ke level US$71,88 sen per pon.

Pada penutupan perdagangan Jumat (1/9) harga kapas kontrak Desember 2017 di bursa ICE New York naik 0,95 poin atau 1,34% menjadi US$71,88 sen per pon. Harga kapas menguat 2,69% sepanjang tahun ini.

Penguatan harga kapas telah berlangsung sejak pekan lalu. Kendati naik 2,69%, pertumbuhan harga kapas belum setinggi capaian sepanjang 2016 sebesar 10,44% dan ditutup pada level US$70,65 sen per pon.

Portfolio manager & commodities analyst Loomis Sayles Alpha Strategies Harish Sundaresh mengatakan, pasar cenderung bersikap skeptis terhadap komoditas kapas karena proyeksi bertumbuhnya pasokan dari produsen utama, yakni China, India, dan Amerika Serikat.

Namun, badai Harvey yang menyebabkan banjir mengurangi prospek suplai baru dari Paman Sam diperkirakan menyebabkan panen kapas menyusut sekitar 700.000 bal atau setara dengan 480 pound (sekitar 218 kilogram). Sentimen ini berhasil mengangkat harga karena berkurangnya pasokan dan meningkatnya permintaan.

“Dampak kerusakan sangat nyata dan berpotensi lebih besar. Namun, kita belum mengetahui angka pastinya,” tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (4/9).

Pada 10 Agustus 2017, Departemen Pertanian AS (USDA) memprediksi panen kapas di Texas pada tahun ini mencapai 8,83 juta bal. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 8,13 juta bal.

Menurut Sundaresh, harga kapas berpotensi mencapai US$75 sen per pon. Pasalnya, kendati bencana banjir sudah teratasi, cuaca hujan masih mengganggu proses panen.

Global Head of Commodities Credit Suisse Asset Management Nelson Louie menyampaikan, kenaikan harga kapas terjadi seiring dengan menyusutnya stok di gudang ICE. Pekan lalu, persediaan anjlok 77% ke level terendah sejak Maret 2015.

Sentimen AS melambungkan harga kapas yang sempat terkoreksi 7% sejak Juni sampai dengan 25 Agustus 2017. Tekanan terhadap harga terjadi akibat prospek bertumbuhnya produksi India dan China.

Menurut Louie, kendati produksi kapas AS diterjang badai, persediaan global masih cukup besar. Selain itu, kerugian panen hanya sekitar 2% terhadap total pasokan Paman Sam.

“Dampak penurunan produksi AS relatif terbatas terhadap pasar global,” ujarnya.

Analis Hightower Report Terry Roggensack menuturkan, kerugian panen kapas akibat badai Harvey mencapai 300 juta bal. Selain itu, cuaca hujan masih melanda sejumlah wilayah seperti Texas dan Carolina Utara.

Dalam waktu dekat, pelaku pasar akan memantau informasi penjualan ekspor dan prospek pertumbuhan permintaan global. Mereka juga memerhatikan volume persediaan kapas AS.

Secara teknikal, harga kapas masih berpeluang menguat terbatas. Target harga berikutnya ialah US$71,99 sen per pon dan US$72,94 per pon. Adapun support kuat berada di posisi US$71,14 sen per pon. Break di bawah level tersebut dapat menekan harga ke US$70,66 sen per pon.

Bank Dunia memaparkan, pada musim 2016—2017, produksi kapas global naik tipis menjadi 22,78 juta ton dari sebelumnya 21 juta ton. Adapun rerata harga pada 2017 diperkirakan meningkat menjadi US$1,85 per kg dari sebelumnya US$1,64 per kg.

"Harga kapas diperkirakan meningkat moderat sampai 2020 menjadi US$1,93 per kg," papar laporan.

Pada musim 2017-2018, produksi kapas global diperkirakan meningkat menuju 23,12 juta ton. Lima negara produsen terbesar ialah India, China, AS, Pakistan, dan Brasil yang menghasilkan kapas secara berturut-turut 5,94 juta ton, 4,81 juta ton, 3,74 juta ton, 1,87 juta ton, serta 1,36 juta ton.

Total ekspor dan impor pada musim depan cenderung seimbang sebesar 8,06 juta ton. Indonesia menjadi importir kapas terbesar kelima di dunia yang menyerap 661.000 ton per tahun. (Bloomberg/Hafiyyan)

Editor: Ana Noviani

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer