MEGAPROYEK INVESTASI DI KALBAR : Bank Harus Lebih Bertaji

Oleh: Yanuarius Viodeogo 08 September 2017 | 02:00 WIB
Uang rupiah./JIBI-Abdullah Azzam

Sejumlah proyek infrastruktur skala besar dan penghiliran sumber daya alam bakal hadir di Kalimantan Barat. Sudah semestinya peluang investasi ini dilirik oleh para pemain di industri perbankan ataupun lembaga pembiayaan lainnya guna menangguk tumpukan cuan di daerah potensial.

Pada September ini, tahap awal konstruksi Pelabuhan Internasional Kijing seluas 200 Hektare di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar) segera dibangun. Pelabuhan ini adalah sebuah proyek strategis nasional yang digarap oleh Indonesia Port Corporation (IPC) dan dirancang mampu menampung peti kemas hingga 2 juta TEUs.

Bumi Khatulistiwa juga bakal menyambut lagi pembangunan Pintu Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang dan PLBN Jasa di Kabupaten Sintang. Sebelumnya, di tempat itu sudah berdiri megah PLBN Entikong Sanggau, PLBN Aruk Sambas dan PLBN Badau Kapuas Hulu.

Pembangunan PLBN menjadi target serius Presiden Joko Widodo di wilayah perbatasan. Selain dinilai dapat mencerminkan wajah lebih baik Indonesia, pembangunan ini sekaligus sebagai sarana untuk menggarap aneka potensi ekonomi lokal di sekitar PLBN, seperti hasil pertanian dan perkebunan.

Pembangunan lain yang tak kalah prestisius adalah rel kereta api. Apabila sesuai dengan rencana, perlintasan rel kereta api Pontianak—Sambas sepanjang 268 kilometer (km) bakal rampung pada 2018. Pada tahun berikutnya, proyek rel dilanjutkan lagi untuk membuka akses Pontianak—Sanggau sepanjang 143 km dan Sanggau—Palangkaraya 587 km.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalbar Dwi Suslamanto mengatakan, kereta api untuk sementara waktu diprioritaskan oleh pemerintah pusat mengangkut hasil panen SDA. Dengan demikian, proyek belum dapat dimanfaatkan sebagai transportasi publik lintas-Kalimantan yang meliputi Pontianak—Banjarmasin—Palangkaraya—Samarinda.

“Jadi nanti, [kereta api] diprioritaskan untuk memobilisasi hasil-hasil tambang, perkebunan dan pertanian. Kereta api adalah solusi yang efisien karena dapat langsung mengantarkan [komoditas] ke pabrik [tanpa hambatan jalan raya],” kata Dwi, baru-baru ini kepada Bisnis.

Lantas, di mana peran perbankan dalam sejumlah megaproyek infrastruktur ini? Dwi mengatakan, sebelum semua infrastruktur itu hadir, bank mesti sudah mulai mengubah konsep berpikir. Dengan demikian, perbankan tidak melulu mengambil kue konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi primadona tetapi bergeser ke arah pembiayaan investasi dan ekspor.

Pasalnya, lanjut Dwi, Kalbar dewasa ini tengah memproduksi bauksit, minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), karet dan lada. Komoditas-komoditas tersebut, menurutnya, memiliki peluang bisnis luar biasa besar apabila ditingkatkan nilai tambahnya.

Dengan begitu, harga jual produk menjadi lebih tinggi. Apalagi jika disertai dengan kemudahan akses pinjaman ke perbankan dalam rangka investasi pendirian pabrik hilir untuk produk seperti alumunium, kosmetik dan makanan, ban atau produk lain dari karet.

STATISTIK BERBICARA

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), penggerak ekonomi Kalbar menurut lapangan usaha pada kuartal II/2017 mulai disumbang oleh sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh 12,80% terhadap produk domestik regional bruto (PDRB).

Adapun, administrasi pemerintahan berkontribusi 12,55%, pertambangan-penggalian sebesar 11,76%. Sementara itu, kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan terkontraksi 20,19% sedangkan sektor konstruksi sebesar 9,37% terhadap PDRB.

Masih ada lapangan usaha lainnya yang ikut terakselerasi seperti industri pengolahan, pengadaan listrik dan gas, pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil serta sepeda motor.

Penggerak ekonomi Kalbar juga disumbang oleh sektor transportasi dan pergudangan, akomodasi, makanan dan minuman, keuangan dan asuransi, real estate, jasa perusahaan, pendidikan dan kesehatan, serta kegiatan sosial.

Data dari Statistik Perbankan Indonesia (SPI) menyebutkan, penyaluran kredit bank umum di Kalbar pada Juni 2017 mencapai Rp11,65 triliun. Angka tersebut dihitung berdasarkan jenis penggunaan dan orientasi penggunaan tertinggi untuk kepemilikan peralatan rumah tangga.

Lantas, angka penyaluran ini disusul oleh sektor pertanian, perburuhan dan kehutanan senilai Rp10,64 triliun; perdagangan besar dan eceran Rp10,21 triliun.

Kemudian, penyaluran rumah tangga untuk kepemilikan rumah tinggal senilai Rp4,2 triliun; industri pengolahan Rp1,37 triliun; transportasi, pergudangan dan komunikasi sebanyak Rp1,23 triliun; konstruksi Rp1,20 triliun.

Selanjutnya, perantara keuangan Rp922 miliar; penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum Rp675 miliar; real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan Rp592 miliar; jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya sebanya Rp536 miliar.

Sektor perikanan mendapatkan kucuran Rp138 miliar; jasa kesehatan dan kegiatan sosial Rp137 miliar; jasa pendidikan Rp61 miliar; pertambangan dan penggalian Rp56 miliar; administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib Rp12 miliar; terakhir jasa perorangan yang melayani rumah tangga mencapai Rp11 miliar.

Dwi melihat bahwa bank-bank di Kalbar harus berani mengambil risiko untuk menyasar masyarakat, tidak hanya dalam penyaluran kredit tetapi juga diminta kian gencar mengejar potensi menghimpun dana pihak ketiga (DPK) hingga ke daerah-daerah pedalaman.

Harapannya adalah perbankan dapat berperan lebih dalam memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat tentang pentingnya menabung.

“Tingkat inklusi masyarakat Kalbar masih rendah 14%. Artinya, masih banyak masyarakat yang menyimpan uang di bawah bantal. Memang kendalanya pada infrastruktur telekomunikasi. Namun, kan ada bank yang sudah memiliki satelit,” tuturnya.

Bila dilihat dari komposisi DPK bank umum pada Juni 2017, giro mencapai Rp7,63 triliun, tabungan sebanyak Rp25,16 triliun, deposito Rp15,59 triliun, yang secara keseluruhan baru 0,97% atau senilai Rp48,39 triliun.

Pencapaian DPK pada Juni 2017 di Kalbar memang menunjukkan peningkatan lebih baik dibandingkan dengan DPK pada 2016 yang mencapai Rp46,25 triliun. Pada 2015 menyentuh Rp43,73 triliun dan 2014 sebanyak Rp39,50 triliun.

Adapun, total jumlah kantor cabang di provinsi ini mencapai 74 buah atau menurun dibandingkan dengan jumlah kantor cabang pada pada 2015 sebanyak 75 buah.

BAKAL BERSINAR

PT Bank Mandiri Tbk. memandang bahwa potensi ekonomi Kalbar bakal bersinar pada beberapa tahun ke depan menyusul masuknya arus investasi yang hadir di daerah ini.

Area Head Bank Mandiri Kalbar Ahadi Subri optimistis pihaknya akan mendapatkan banyak cuan dengan kehadiran bisnis-bisnis skala besar tersebut ke Kalbar.

Dengan demikian, situasi ini membuat mereka berencana menghadirkan gerai serta peningkatan status kantor. “Untuk outlet dalam waktu dekat akan dibangun money changer di PLBN Aruk Sambas dan sedang diusulkan outlet yang sama di PLBN Badau,” kata Ahadi.

Adapun, kenaikan status kantor akan terjadi di Kota Ngabang, Kabupaten Landak, dari kantor mikro ke cabang mikro sehingga bisa melayani seluruh produk DPK.

Status sejumlah kantor cabang di kota-kota seperti Putussibau, Sekadau, Nanga Pinoh juga bakal meningkat jadi Kantor Cabang Mikro plus. “Ini menunjukkan kami optimistis dengan potensi ekonomi Kalbar yang terus oke, bagus,” katanya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Kalbar Asep Ruswandi menjelaskan bank tak semata-semata sebagai tempat bagi masyarakat menabung dan menerima dana untuk menyicil kebutuhan tertentu.

Namun, lanjutnya, perbankan juga diharapkan mampu mendorong atau menghidupkan perputaran ekonomi suatu daerah. Masyarakat dikenalkan tempat menabung yang aman dan supaya mereka bisa lebih tenang berusaha mengisi kebutuhan hidup mendasarnya.

Kendati demikian, Asep memberikan saran agar bank tidak hanya menghadirkan gerai fisik tetapi perlu beradaptasi dengan teknologi telekomunikasi mutakhir yang bisa menjangkau lapisan masyarakat paling jauh melalui agen Laku Pandainya.

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor: Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer