PLN : Tidak Ada Impor Gas dari Singapura

Oleh: Gemal AN Panggabean 11 September 2017 | 20:05 WIB
Liquefied Natural Gas (LNG)./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA-- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) tidak akan mengimpor gas dari Singapura. Namun, PLN akan melakukan kerja sama dengan perusahaan singapura untuk membangun infrastruktur gas.

Direktur Bisnis PLN Jawa Bagian Tengah Amir Rosidin mengatakan, PLN bersama perusahaan Singapura Pavilion Energy dan Keppel Corporation akan membangun kilang LNG skala kecil di Natuna dan Tanjung Pinang yang berdekat dengan lokasi hub terminal LNG di Singapura.

"Tidak ada impor gas dari Singapura. Ini hanya kerja sama untuk pembangun infrastruktur gas. Namun, Kita belum menentukan soal harga dan nilainya. Karena ini masih dalam tahap studi kelayakan," katanya kepada bisnis, Senin (11/9).

Kerja sama itu untuk pembuatan konsep kerangka kerja untuk mendistribusikan LNG milik PLN dari kontrak eksisting PLN dengan sumber domestik Indonesia ke pembangkit listrik di Tanjung Pinang dan Natuna.

Menurutnya, kerja sama ini untuk melakukan efisiensi demi membantu menurunkan biaya produksi listrik. Pemanfaatan dekatnya lokasi dinilai dapat mengifisiensikan biaya operasional sehingga dapat menurunkan biaya pokok produksi (BPP) di Sumatra.

PLN dan kedua perusahaan itu telah menandatangani Head of Agreement (HoA) di Singapura. Isi HoA tersebut meliputi penyusunan studi kelayakan yang lebih mendalam terkait distribusi LNG untuk wilayah Tanjung Pinang dan Natuna.

Dia menjelaskan, kerja sama tersebut didasari atas kesetaraan saling menguntungkan kedua belah pihak serta dilakukan selama 6 bulan sejak ditandatangani.

Bila hasil studi yang dibuat tidak memberikan manfaat, maka studi tersebut tidak dilanjutkan menuju tahap perjanjian.

Sebelumnya, PLN menyatakan belum ada rencana impor gas alam cair dalam waktu dekat. Ini mengacu pada kondisi lapangan migas yang ada di dalam negeri.

Direktur Pengadaan Strategis I PLN Nicke Widyawati mengatakan dengan kondisi lapangan yang ada saat ini, kemungkinan impor tidak dilakukan hingga 2022.

“Setelah 2022 kelihatannya sudah harus mulai impor. Tapi nanti kan tergantung proses pembangunan hulu di Indonesia seperti apa," katanya.

Dari data Kementerian ESDM, tahun itu prediksi pasokan gas dalam negeri hanya 7.651 juta kaki kubik per hari (mmscfd), sedangkan permintaan mencapai 9.323 mmscfd.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya