JELANG PILKADA 2018 : Makna Kunjungan Mega ke Surabaya

Oleh: Peni Widarti & Stefanus Arief Setiaji 13 September 2017 | 02:00 WIB
Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan (kiri) bersama Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri saat makan siang di Rumah Dinas Wali Kota Surabaya, di Jl Sedap Malam, Surabaya, Senin (11/9)./Jawa Pos-Dite Surendra

“Mbak Risma [Tri Rismaharini] tak selamanya menjadi walikota oleh karenanya saya berharap agar pengganti Bu Risma mampu mempertahankan sekaligus meneruskan konsep yang sudah dibuat.”

Kalimat itu disampaikan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat berkunjung ke Surabaya, Jawa Timur pada Senin (11/9).

Megawati bersama dengan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dan Bupati Banyuwangi Azwar Anas sempat berjalan-jalan ke kebun bibit 2, Wonorejo, Surabaya berasama dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Tidak hanya itu, Mega juga menyempatkan diri bertemu dengan mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Dahlan yang juga pemilik kelompok bisnis Jawa Pos Grup merupakan sosok pengusaha dan tokoh politik yang disegani di Jawa Timur.

Pertemuan Mega dan Dahlan Iskan juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf alias Gus Ipul.

Pertemuan tersebut dari kacamata politik, apalagi menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 menjadi sarat makna. Jatim merupakan salah satu provinsi yang akan menggelar pemilihan gubernur (pilgub).

Gus Ipul merupakan satu tokoh yang digadang-gadang bakal maju sebagai calon gubernur lewat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Satu sisi, PDIP yang dianggap ‘merajai’ Jatim sejauh ini masih mengunci rapat-rapat calonnya.

Jika merujuk pada pernyataan Megawati soal Risma yang tak selamanya menjadi walikota, bisa jadi PDIP menyiapkan Risma sebagai bakal calon. Hanya saja, Risma yang dikenal keras seperti batu ini sudah berkali-kali menegaskan pilihannya untuk mengabdi di Surabaya.

Maka, pertemuan Mega dengan Dahlan boleh jadi menjadi bagian untuk merancang peta politik di Jatim menghadapi Pilkada 2018.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menuturkan bahwa Mega meminta masukan dari Dahlan terkait dengan kontestasi Pilkada 2018..

"Pak Dahlan Iskan adalah tokoh penting dan berpengaruh di Indonesia maupun Jatim sehingga pandangan beliau sangat dibutuhkan," ujarnya.

Bahkan, Hasto menggarisbawahi banyak yang tidak mengetahui hubungan emosional seorang Megawati dengan Dahlan Iskan selama ini.

"Secara pribadi, Bu Mega mengenal Dahlan Iskan sangat baik, bahkan saat Dahlan sakit pun diberikan perhatian khusus. Meski dikenal memiliki pandangan berbeda, tapi aspek persaudaraan itulah yang menguatkan diiringi dengan semangat bergotong royong," ucapnya.

Pengamat politik dari Fakultas Fisip Universitas Trunojoyo, Mochtar W. Oetomo mengatakan hingga hari ini belum ada partai yang menyatakan bakal mengusung calonnya. Hanya PKB yang secara resmi mendukung Gus Ipul untuk maju, tetapi itupun hanya sebatas pernyataan ketua umum.

"Sedangkan partai lain masih terus menjaring, termasuk adanya rencana koalisi PKB-PDIP di Pilgub Jatim ini bagaimana," katanya kepada Bisnis, Selasa (12/9).

Akan tetapi, tegas Mochtar, ada satu faktor penting yang mempengaruhi ada tidak adanya koalisi tersebut yakni kepastian Khofifah Indar Parawansa untuk maju kembali di Pilkada Jatim.

"Khofifah sampai sekarang belum jelas. Mau atau tidak. Kalau tidak maju, koalisi akan cenderung mengarah ke PKB-PDIP mengusung Gus Ipul dan calon dari PDIP. Kalau Kofifah maju, itu bisa akan berubah peta. Jadi saya rasa mema g belum final," katanya.

Sementara itu, menurut Mochtar, safari politik Megawati di Jatim untuk mengumpulkan kepala daerah dari PDIP untuk meminta masukan-masukan termasuk kepada para kiai-kiai.

Khusus Risma, Mochtar memperkirakan akan dipersiapkan untuk Pemilu 2019 oleh PDIP dan bukan untuk dipertarungkan dalam Pilkada Jatim 2018. "Dalam beberapa kesempatan, Bu Risma mengatakan tidak pernah mau maju ke Pilgub Jatim. Mungkin untuk 2019," imbuhnya.

Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Airlangga Pribadi menyatakan kedatangan Megawati ke Jatim merupakan proses konsolidasi politik untuk melihat pasangan dan memanaskan mesin partai.

"Safari politik Megawati ini juga sebagai komunikasi politik Bu Mega dengan para elite yang akan maju, dan sepertinya yang maju adalah orang'orang politik yang dekat dengan PDIP dan Presiden Jokowi," katanya.

Menurut Airlangga, Megawati masih melihat bagaimana konstelasi politik berlangsung agar jangan sampai politik memanas dan memecah kekuatan politik.

"Paling akhir tahun ini baru bisa mengerucut nama-nama yang akan diusung oleh partai tersebut. Saya kira Megawati tidak mungkin mengambil tindakan yang terburu-buru," katanya.

Apalagi, lanjutnya, PDIP di Jatim memiliki kekuatan yang sangat signifikan dan sangat menentukan sehingga Jatim menjadi prioritas bagi PDIP. Kalau sampai salah strategi, bisa-bisa tidak hanya posisi cagub-cawagub Jatim saja yang kehilangan. Kemenangan Pemilu 2019 dari kandang banteng di Jatim bisa tinggal kenangan. (Antara)

Editor: Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer