PENDAPATAN BERULANG : INTA Incar Porsi 50%

Oleh: Emanuel B. Caesario 13 September 2017 | 02:00 WIB
Komisaris Independen PT Intraco Penta Tbk Jugi Prajogo (dari kiri), saling bertumpu tangan dengan Direktur Utama Petrus Halim, Komisaris Leny Halim, Direktur Moh. Effendi Ibnoe dan Direktur Fred L, Manibog seusai rapat umum pemegang saham di Jakarta, Kamis (20/4)./JIBI-Dedi Gunawan

BALIKPAPAN — Emiten penjual alat berat PT Intraco Penta Tbk. menargetkan kontribusi pendapatan berulang terhadap total pendapatan tahunan perseroan dapat mencapai 50%.

Fred L. Manibog, Direktur Keuangan Intraco Penta, mengatakan bahwa target tersebut ditetapkan seiring masuknya perseroan ke bisnis pembangkit listrik belakangan ini.

Perseroan mulai merambah bisnis ini sejak 2015 dengan membangun PLTU 2x100 MW di Bengkulu senilai US$360 juta, atau sekitar Rp4,7 triliun dengan kurs Rp13.000 per dolar AS.

Groundbreaking proyek tersebut sudah dilakukan pada tahun lalu dan kini masih melanjutkan konstruksi. Targetnya, proyek ini rampung dan beroperasi komersial pada Februari 2020.

Di sisi lain, emiten dengan kode saham INTA tersebut pada Juni tahun ini telah menuntaskan akuisisi 30% saham PT Petra Unggul Sejahtera, pemilik 90% saham PT TJK Power yang mengoperasikan PLTU di Batam berkapasitas 2x55 MW.

Pembangkit ini sudah beroperasi sejak 2012 dengan tingkat kesiapan pembangkit mencapai rata-rata di atas 90%.

Perseroan sedikitnya akan memiliki dua PLTU hingga 2020, yang mana masing-masingnya masih bisa ditingkatkan kapasitasnya sebab masih ada kecukupan lahan.

INTA juga masih mengincar sejumlah tender pengadaan pembangkit listrik lain, tetapi sejauh ini masih dirahasiakan.

Fred mengatakan, masuknya perseroan ke bisnis pembangkit listrik akan membantu perseroan untuk menjaga kestabilan bisnis pada masa mendatang.

Pasalnya, selama ini bisnis perseroan yang utamanya adalah penjualan alat berat sangat sensitif terhadap kondisi pasar komoditas tambang global, khususnya batu bara.

"Dengan adanya pembangkit ini, kami bisa dapat penghasilan tetap selama 25 tahun dari kontrak penjualan listrik pada PLN, sejauh kami bisa menjaga performa pembangkit kami. Bisnis pembangkit ini related dengan semua bisnis kami yang lain. Jadi, 50% kontribusi recurring income itu mencakup semua lini yang terdongkrak karena adanya listrik ini," katanya dalam acara public expose marathon di Balikpapan, Selasa (12/9).

Editor: Maftuh Ihsan

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer