KINERJA BANK OF INDIA : Jatuh Bangun di Bawah Investor Hindustan

Oleh: Surya Rianto 13 September 2017 | 02:00 WIB

Berawal dari sebuah bank pasar bernama Bank Pasar Swadesi yang berdiri pada 1968 di Surabaya. Pada 1984, bank itu diambil alih oleh keluarga Chugani. Setelah diakuisisi, pada 2 September 1989, resmi menjadi bank umum dengan nama PT Bank Swadesi.

Memasuki 1990-an, Bank Swadesi terus ekspansi. Salah satunya merger dengan PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Panti Daya Ekonomi, asal Surakarta. Setelah merger, bank tersebut mulai merambah ke Jakarta.

Dalam buku tahunan perseroan tertulis, Bank Swadesi melakukan penawaran sahan perdana pada 2002. Setelah lima tahun melantai di bursa, perseroan diakuisisi oleh bank asal India, yakni Bank of India. Pada 2011 perseroan mengganti nama menjadi PT Bank of India Indonesia Tbk.

Di bawah kendali Bank of India sejak 2007, kinerja perseroan terus melesat, yakni pada periode 2007 sampai 2014.

Pada 2014 perseroan terhitung mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 1.154% menjadi Rp106,38 miliar dibandingkan dengan pertama kali melantai di bursa pada 2007 yang senilai Rp8,48 miliar.

Sayangnya, setelah 2014 kinerja perseroan mulai goyah seiring dengan lonjakan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross. Pada 2015, NPL gross perseroan naik menjadi 8,9% dibandingkan dengan 2014 yang sebesar 1,17%.

Hal itu pun berimbas kepada perolehan cuan perseroan. Setelah pada 2014 untung lebih dari Rp100 miliar, pada 2015 perseroan merugi senilai Rp44,66 miliar.

Tekanan NPL kian deras pada 2016. NPL perseroan menumpuk hingga 15,82% dan rugi perseroan naik menjadi Rp505 miliar.

Lonjakan pada NPL itu pun membuat perseroan menumpuk rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) pada 2016 menjadi 34,5% dibandingkan dengan 2015 yang sebesar 23,85%.

Di tengah tekanan NPL itu, pemegang saham perseroan yakni PT Panca Matra Jaya dan Prakash Rupchand Chugani mengajukan gugatan kepada 15 pihak, termasuk bank, direksi, dan komisaris yang menjabat pada 2016.

Dalam laporan keuangan tahunan 2016 disebutkan, pihak tergugat termasuk debitur, seperti PT Radi Logam Indonesia, PT Rainbow Metal Indonesia, PT Indovie Minerals Indonesia, PT Maxmoda Indo Global, dan PT Matrix Indo Global.

Dalam gugatan itu, penggugat menyebut adanya miss management dalam pemberian pinjaman dan menyelenggarakan rapat umum pemegang saham luar biasa yang tidak sah serta menunjuk manajemen yang tidak sah juga.

Menurut informasi Bisnis, manajemen sebelumnya sempat memberikan kredit jumbo kepada perusahaan asal India. Nilai kredit yang diberikan mencapai ratusan miliar rupiah untuk tiap perusahaan.

Direktur Bank of India Indonesia Ferry Koswara tak membantah bahwa lonjakan NPL pada 2016 memang disebabkan oleh miss management. Ditambah dengan dominasi debitur bermasalah yang berasal dari India, yakni sekitar 10%.

“Sebagian besar NPL kala itu terjadi pada sektor perdagangan. Untuk skema penyelesaiannya yang sudah dijalankan bermacam-macam seperti pelunasan, lewat PKPU [Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang], dan cessie [pengalihan piutang],” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (5/9).

Dari laporan keuangan sampai Juni 2017, nominal NPL sektor perdagangan menjadi yang terbesar senilai Rp41,11 miliar. Nilai itu pun sudah menyusut 63,45% dibandingkan dengan akhir tahun lalu.

Di sisi lain, nominal NPL gross perseroan pada sektor konstruksi menanjak tinggi sebesar 784,9% menjadi Rp12,48 miliar.

Meskipun begitu, Ferry menegaskan kondisi perseroan sudah semakin membaik. Dari sisi gross, NPL Bank of India Indonesia itu akan ditekan di bawah 5%. “Untuk debitur India pun saat ini sudah di bawah 10%,” ujarnya.

Kinerja perseroan sampai akhir semester I/2017 memang sudah lebih baik, Bank of India Indonesia sudah kembali cuan senilai Rp21,38 miliar, sedangkan NPL gross perseroan sudah menyusut menjadi 4,59%.

Adapun, Bank of India yang saat ini memegang 76% saham perseroan disebut akan melakukan divestasi bertahap hingga menjadi 40%.

Namun, sampai saat ini, Ferry menyebutkan belum ada perkembangan terbaru terkait dengan pencarian mitra strategis yang akan mengambil alih sebagian saham bank milik pemodal asal Hindustan itu.

Editor: Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer