Dana Bagi Hasil : Kalbar Minta Ekspor CPO Tercatat di BPS

Oleh: Yanuarius Viodeogo 27 September 2017 | 12:47 WIB

Bisnis.com, PONTIANAK – Kalangan pengusaha Kalimantan Barat berharap ekspor crude palm oil ke negeri tetangga Malaysia yang telah berlangsung sejak Februari 2017 lalu, bisa tercatat di Badan Pusat Statistik supaya berdampak terhadap Dana Bagi Hasil dari ekspor CPO tersebut.

Wakil Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Sutaryo Kalbar mengatakan, sampai hari ini BPS belum mencatat transaksi keluarnya CPO dalam komponen ekspor impor padahal ekspor berlangsung secara resmi melalui Pintu Lintas Batas Negara (PLBN) Badau.

“Kita itu kan sudah ekspor tapi BPS belum mencatatnya hingga saat ini. Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, Kadin serta Pemprov Kalbar, sudah rutin rapat untuk mensuarakan pencatatan ekspor CPO,” kata Sutaryo kepada Bisnis, Rabu (27/9).

Potensi komoditas lain yang berpeluang tercatat sebagai transaksi ekspor, menurutnya, tidak hanya dari CPO saja tetapi ada komoditas lain dari daerah ini seperti lada, kopi dan kakao.

BPS mencatat, saat ini ada 10 golongan barang yang merupakan komoditas ekspor dari Kalbar seperti karet, kayu, buah-buahan, tembakau, sisa makanan, ikan dan udang, biji-bijian berminyak, perabot dan penerangan rumah.

Dia mengatakan, malah Kalbar bisa memperoleh DBH lebih besar lagi dari komoditas-komoditas lain yang belum tercatat secara resmi di BPS sebagai produk yang diekspor.

“Gairah pengusaha menjadi tinggi memproduksi hasil-hasil pertanian itu karena tidak perlu lagi ekspor melalui Pontianak bisa langsung ke pintu lintas batas. Kalau lewat darat ke Pontianak itu biaya ongkos sangat tinggi,” tuturnya.

Sebelumnya, Kadis Perkebunan Kalbar Florentinus Anum mengatakan, sepanjang 2016 ekspor CPO Kalbar melalui pelabuhan Pontianak senilai Rp12 triliun tetapi singgah terlebih dahulu ke sejumlah pelabuhan di provinsi lain sebelum ke negara yang dituju.

Kalbar sendiri, menurutnya, mampu menghasilkan 2,27 juta ton CPO per tahun, bahkan tertinggi dalam produksi secara nasional yakni mencapai 56,97%.

“Malah Kalbar bisa mengoptimalkan produksi 4 juta ton per tahun jika mampu meningkatkan kualitas pohon kelapa sawit dan memberikan 20% kebun inti untuk petani plasma,” tuturnya.

 

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya