PENYALURAN KREDIT : Perbankan Kalbar Mesti Gencar ke Sektor Ritel

Oleh: Yanuarius Viodeogo 29 September 2017 | 02:00 WIB
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo bersiap menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Selasa (22/8). Bank Indonesia (BI) akhirnya menurunkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate ke level 4,50 persen atau turun 25 bps dibandingkan bulan sebelumnya. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

PONTIANAK – Otoritas Jasa Keuangan mendorong perbankan menyalurkan kredit untuk ekspansi usaha memperbanyak sektor ritel menyusul belum pulihnya harga komoditas karet dan kelapa sawit di Kalimantan Barat.

Kepala Plt OJK Perwakilan Kalbar Muhamad Riezky Fadjar Purnomo mengatakan, selain ritel, perbankan juga mesti mulai menggandeng sektor industri kreatif dalam sektor ritel untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi daerah ini supaya tidak tergantung komoditas hasil alam saja.

“Bapak Presiden (Joko Widodo) minta kita mengembangkan sektor lain terutama ekonomi kreatif dan ritel. Dalam waktu dekatkan akan ada Transmart di sini itu efeknya bagus untuk pertumbuhan ritel di Kalbar,” kata Riezky kepada Bisnis, Kamis (28/9).

Dia mengatakan, momentum ekspansi usaha saat ini sesungguhnya sangat tepat karena Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga kredit yang rendah sehingga diharapkan mendorong kemudahan membayar bunga dengan lancar sehingga membuat masyarakat Kalbar untuk memiliki usaha semakin tinggi.

“Karena suku bunga murah, itu kami mengharapkan memacu pertumbuhan kredit. (Aset) bisa ditingkatkan lagi karena ada penurunan suku bungan secara signifikan,” kata dia.

Data Bank Indonesia, dari sisi pembiayaan tercatat pada kuartal II/2017 kredit di Kalbar mencapai Rp65,86 triliun atau sebesar 8,31%, turun signifikan dari kuartal sebelumnya yang mencapai 14,36% atau senilai 64,12 triliun dan bahkan kuartal II/2016 sebesar 20,70% atau sebanyak Rp63,38 triliun.

Dari sisi jenis penggunaan, kredit produktif mencapai Rp46,96 triliun atau sebesar 71,31% terdiri dari kredit investasi sebesar Rp29,51 triliun atau sebesar 44,80% dan sebesar 26,51% atau sebanyak Rp17,46 triliun dari kredit modal kerja. Adapun penyaluran kredit konsumsi sebanyak Rp18,89 triliun atau sebesar 28,69%.

Untuk tingkat risiko kredit atau rasio non perfoming loans (NPL) masih di bawah batas aman yakni sebesar 2,60% menunjukkan tren penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya yaitu sebesar 3,37%. Dengan rincian, NPL kredit investasi sebesar 1,77%, kredit modal 5,54% dan kredit konsumsi 1,18%.

Kepala Pengawas Eksekutif Industri Keuangan OJK Riswinandi mengutarakan, kendati pada kuartal II/2017 ini aset dari seluruh industri perbankan di Kalbar mencapai Rp71,6 triliun atau tumbuh 11,21% year on year (y-o-y), perbankan di Kalbar mesti merespon ekonomi global dan beradaptasi terhadap dinamisnya industri keuangan secara nasional.

“Perekonomian global dan nasional sekarang bergerak dinamis dan membutuhkan respons cepat. Maka, industri keuangan mesti menyikapi penyesuaian. Sejauh ini program terutama pemberian kredit masih di sektor perdagangan di Kalbar padahal ada sektor pertanian dan peternakan,” kata dia.

Editor: Abraham Runga

Berita Terkini Lainnya