KA SEMICEPAT : Menhub Ingin ke Semarang Tuntas 2019

Oleh: Yudi Supriyanto 09 Oktober 2017 | 02:00 WIB
Pemudik kereta api Rajabasa tujuan Bandar Lampung-Palembang tiba di Stasiun Kertapati, Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (29/6)./ANTARA -Nova Wahyudi

JAKARTA—Kementerian Perhubungan menargetkan proyek revitalisasi jalur kereta api utara Pulau Jawa atau lebih sering disebut proyek kereta semicepat untuk jalur Jakarta-Semarang bisa selesai pada 2019.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap kereta api semicepat rute Jakarta-Surabaya bisa beroperasi hingga Semarang pada 2019 untuk mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi ke kereta a[I (KA) ketika memasuki angkutan Lebaran.

“Bayangan saya, Jakarta-Semarang bisa diselesaikan pada tahun 2019, pasti bisa,” katanya dalam siaran pers, Minggu (8/10).

Pada lintas Jakarta-Semarang, dia menargetkan KA semicepat bisa diselesaikan selama 2 tahun. Pada tahap selanjutnya, Menhub memaparkan pihaknya akan berkonsentrasi di lintas Semarang-Surabaya dengan target penyelesaian 2 tahun berikutnya.

“Jadi total 4 tahun kita konsentrasi karena Jakarta-Semarang itu kalau Lebaran masalah paling banyak di Jakarta-Semarang, kalau beralih ke situ kan luar biasa,” tegasnya.

Budi Karya menjelaskan kapasitas moda transportasi berbasis rel pada rute Jakarta-Surabaya akan mengalami kenaikan dua kali lipat jika KA semicepat beroperasi.

Dengan sistem operasi itu, lanjutnya, waktu tempuh antara Jakarta-Surabaya diperkirakan hanya 5 jam dari saat ini mencapai 10 jam.

Dia berharap masyarakat yang sebelumnya menggunakan pesawat untuk melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya atau sebaliknya akan beralih menggunakan KA semi cepat.

Menurutnya, biaya perjalanan menggunakan KA akan lebih murah dibandingkan dengan menggunakan pesawat udara.

“Jepang masih sanggup dengan 120 kilometer per jam, kita ingin 140 kilometer per jam, dengan kecepatan mencapai 140 kilometer per jam apa saja yang dilakukan pasti akan lebih murah,” ujarnya.

Menhub menjelaskan terdapat empat langkah yang harus dilakukan agar KA semicepat pada rute Jakarta-Surabaya yaitu menghilangkan pelintasan sebidang, elektrifikasi, mengurangi tikungan dan tebing.

“Dengan elektrifikasi banyak keuntungan yang kita dapat, industri nasional akan tumbuh, biaya maintenance-nya akan lebih murah, serta eco friendly,” katanya.

BEKERJA SAMA

Terkait pendanaan pembuatan pelintasan tidak sebidang, dia menjelaskan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sepakat akan bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan.

Adapun terkait revitalisasi, dia menandaskan akan menggunakan jalur yang sudah ada atau existing. Hal tersebut sejalan dengan masukan dari Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Dari diskusi yang paling akhir saya dan pak Menteri PUPR dipanggil Wapres dan kelihatannya hasil pembicaraan Presiden dan Wapres menginisiasi agar KA semicepat Jakarta-Surabaya itu menggunakan jalur eksisting,” katanya.

Penggunaan jalur eksisting, dia menilai berdasarkan beberapa pertimbangan seperti waktu lebih cepat, biaya murah, dan menyelesaikan banyak hal.

Dia memaparkan proyek akan lebih cepat dan murah karena pembebasan tanahnya hanya sedikit. Selain itu, aspek murah terkait dengan tidak banyak mengganti fungsi rel. “Jadi rel yang ada bisa dipakai, menyelesaikan banyak hal terutama menyelesaikan 800 pelintasan sebidang yang ada di Surabaya-Jakarta,” ungkapnya.

Dengan melakukan revitalisasi di jalur eksisting, Budi Karya memperkirakan biaya investasi yang diperlukan akan lebih rendah, yakni sekitar Rp60 triliun dari proyeksi awal Rp80 triliun. (Yudi Supriyanto)

Editor: Hendra Wibawa

Berita Terkini Lainnya