SUBSIDI KERETA API EKONOMI : Pemerintah Cari Cara Lain Salurkan PSO

Oleh: Yudi Supriyanto 10 Oktober 2017 | 02:00 WIB
Pemudik kereta api Rajabasa tujuan Bandar Lampung-Palembang tiba di Stasiun Kertapati, Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (29/6)./ANTARA -Nova Wahyudi

JAKARTA — Kementerian Perhubungan tengah mencari cara agar subsidi pelayanan publik kereta api kelas ekonomi di Indonesia bisa tepat sasaran.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Ditjen Perkeretaapian Kemenhub Zulmafendi mengatakan kajian pemberian subsidi pelayanan publik (public service obligation/PSO) diperlukan mengingat kemampuan pemerintah terbatas.

Menurutnya, kajian itu untuk menemukan cara agar dana subsidi PSO yang terbatas bisa bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkannya.

“Kemampuan pemerintah juga terbatas, ini membuat kita melakukan kajian, memperhatikan apa yang ada betul-betul bermanfaat bagi masyarakat,” katanya di Jakarta, Senin (9/10).

Dia menjelaskan pemberian subsidi PSO terhadap penumpang kereta api kelas ekonomi merupakan salah satu tugas pemerintah. Oleh karena itu, lanjutnya, perlu ada evaluasi mekanisme pemberian subsidi agar tepat sasaran.

Saat ini, ungkapnya, jumlah penumpang moda transportasi berbasis rel cukup tinggi. Dia mencatat arus penumpang kereta rel listrik (KRL) Commuter Line yang beroperasi di Jabodetabek kini menyentuh jumlah 1 juta orang per hari.

“Untuk Commuter Line sangat signifikan, sudah melampaui 1 juta ditambah angkutan jarak jauh dan sedang,” tegasnya.

Subsidi PSO untuk kereta api diberikan kepada penumpang KA jarak jauh, KA jarak menengah, KA jarak dekat, hingga KRL Commuter Line.

Zulmafendi berharap bisa mengetahui individu yang menerima subsidi PSO. Dia juga berharap pemberian subsidi PSO itu bisa meringankan pengguna angkutan umum massal berbasis rel.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), anak usaha PT Kereta Api Indonesia (KAI), Muhammad Nurul Fadhila menemukan fakta pengguna KRL Commuter Line juga siap mengeluarkan dana lebih.

Dia mencontohkan ada pengguna KRL Commuter Line yang mengeluarkan biaya hingga Rp200.000 saat menggunakan kendaraan pribadi untuk menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Cikarang.

Menurutnya, pengguna KRL Commuter Line tersebut tidak mengeluhkan besarnya biaya yang dikeluarkannya untuk menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Cikarang saat menggunakan angkutan umum berbasis jalan raya.

Umumnya, mereka mengeluhkan kemacetan yang dialaminya ketika melakukan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.

Dengan beralih menggunakan KRL Commuter Line, lanjutnya, penumpang tersebut mendapatkan keuntungan yaitu bisa menghemat biaya cukup besar.

Oleh karena itu, Fadhila menilai sudah waktunya pemberian subsidi PSO ditujukan kepada individu yang memang membutuhkannya. Menurutnya, Kemenhub bisa menyaring calon penumpang KRL Commuter Line agar subsidi PSO diterima secara tepat.

KRL CIKARANG

VP Corporate Communication PT KCI Eva Chairunisa mencatatkan rata-rata jumlah penumpang KRL Commuter Line lintas Bekasi Timur-Cikarang mencapai 23.000 orang pada hari pertama pengoperasian.

Volume pengguna KRL di Stasiun Bekasi Timur, Tambun, dan Cibitung masing-masing mencapai lebih dari 5.000 orang per stasiun.

Untuk volume pengguna KRL di Stasiun Cikarang mencapai lebih dari 8.000 orang pada hari pertama pengoperasian.

“Masyarakat menyambut antusias hadirnya layanan KRL di Lintas Bekasi Timur hingga Cikarang yang mulai beroperasi sejak Minggu 8 Oktober 2017,” kata Eva.

Dia memperkirakan jumlah pengguna KRL Commuter Line hingga Cikarang bakal melonjak mengingat masyarakat mulai memakai KRL untuk beraktivitas secara rutin.

Namun, Eva belum bisa menyampaikan pendapatan yang diperoleh perusahaan dari pengoperasian KRL hingga Cikarang. Dia beralasan varian tarifnya cukup banyak.

Perusahaan, lanjutnya telah menyiapkan berbagai kelengkapan fasilitas pelayanan beserta petugas di stasiun guna mengantisipasi tingginya animo pengguna KRL.

Di seluruh stasiun lintas Cikarang telah tersedia pintu masuk elektronik dan mesin Point Of Sales (POS) di loket.

Khusus di Stasiun Bekasi Timur dan Cikarang, dia mengatakan juga telah tersedia layanan pos kesehatan.

Eva menghimbau pengguna KRL mengutamakan keselamatan dalam menggunakan layanan angkutan massal berbasis rel itu.

“Kami ingatkan juga bahwa seluruh stasiun maupun rangkaian KRL saat ini adalah wilayah bebas dari asap rokok,” katanya.

Editor: Hendra Wibawa

Berita Terkini Lainnya