Temuan Uang Palsu di Sulut Meningkat Hampir 50%

Oleh: Puput Ady Sukarno 19 Oktober 2017 | 20:20 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Soekowardojo (kedua dari kiri) berjabat tangan dengan Kepala Cabang BNI Kota Bitung Syalom Rampengan, usai melakukan Penandatangan Kas Titipan antara Bank Indonesia Sulawesi Utara dengan BNI Wilayah Manado, dan disaksikan oleh Deputi Direktur Bank Indonesia Sulawesi Utara A. Yusnang (paling kiri) serta Dewanta Ary Wardhana, Head Network and Services BNI Wilayah Manado, di kantor BI Sulut, Kamis (19/10).

Kabar24.com, MANADO - Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sulawesi Utara meminta kepada perbankan maupun masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaannya seiring temuan uang palsu di wilayah Bumi Nyiur melambai hingga Oktober 2017 mengalami peningkatan.

Soekowardjojo, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara menyatakan  kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat saat ini juga sudah mendekati hari raya keagamaan yang biasanya peredaran uang dimasyarakat mengalami peningkatan, seiring semakin lihainya oknum pemalsu uang.

"Temuan uang palsu yang diterima BI Sulut hingga Oktober tahun ini, baik dari hasil laporan perbankan, kepolisian, maupun masyarakat saat menukarkan uang di Kantor BI, mencapai sebanyak 534 lembar dengan denominasi bervariasi antara pecahan Rp5.000an hingga Rp100.000an. Mayoritas masih nominal Rp100.000-an," ujarnya di sela-sela penandatanganan Kas Titipan BI dan BNI di kantor BI Sulut, Kamis (19/10/2017).

Pihaknya menjelaskan  jumlah temuan uang palsu  534 lembar itu mengalami peningkatan hingga 48,75%  dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai  359 lembar uang palsu.

"Dari 534 lembar uang palsu itu, yang kita peroleh dari laporan perbankan  365 lembar, diterima dari laporan kepolisian sebanyak 59 lembar, kami juga menemukan dar setoran bank masih ada 84 lembar yang terselip, lalu ada juga dari warga saat penukaran uang  26 lembar.," ujarnya.

Soeko - sapaan akrab Soekowardjojo - menerangkan  dari ratusan lembar uang palsu yang ditemukan tersebut, mayoritas uang yang ditiru adalah pecahan Rp100.000-an, baik emisi 2016, emisi 2014 dan bahkan emisi 2004. "Untuk pecahan yang banyak ditiru Rp100.000-an emisi 2004 sebanyak 358 lembar, lalu emisi 2016 ada 47 lembar, dan emisi 2014 ada 29 lembar," ujarnya.

Setelah itu, lanjut dia, uang dengan pecahan nominal Rp50.000-an tahun emisi 2005 ada  94 lembar, emisi 2016 ada dua lembar, emisi 1999 diperoleh satu lembar, lalu uang pecahan Rp20.000-an dengan tahun emisi 2004 ada  dua lembar, dan juga uang pecahan Rp5000-an tahun esmisi 2001 ada satu lembar.

"Dari Januari - Oktober ini, temuan terbanyak di September  127 lembar dan paling sedikit Agustus 2917 hanya satu lembar. Mungkin karena pada September banyak kegiatan tradisi pengucapan yang mana banyak peredaran uang di masyarakat yang berbelanja untuk pesta, sehingga momennya dimanfaatkan," ujarnya.

Melihat hal tersebut, pihaknya meminta masyarakat untuk lebih hati-hati dan waspada akan peredaran uang palsu. "Selain masyarakat, kita harapkan perbankan juga lebih hati-hati," ujarnya.

Dewanta Ary Wardhana, Head Network and Services BNI wilayah Manado menyatakan bahwa guna menekan potensi peredaran uang palsu di wilayah kerjanya, pihaknya berkomitmen terus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia yang ada di perusahaan dalam mengenali uang palsu.

"Karena kami juga ada audit internal terkait hal itu dan Bank Indonesia pun juga akan melakukan pengecekan. Kami dibelaki kemampuan bagaiamana mengetahui uang palsu atau bukan. Selain itu, kami juga ada mesin scanner dari vendor bonafide yang memiliki kemampuan sensitif untuk mendeteksi uang palsu atau bukan. Jadi berlapis," ujarnya.

Namun, lanjut dia, apabila terdapat oknum pegawai BNI yang sengaja mengedarkan uang palsu, tentu akan ditindak dengan sangat tegas, karena hal itu sudah memasuki ranah pidana.

Deputi Direktur Bank Indonesia Sulawesi Utara A. Yusnang menambahkan  selain meminta kepada perbankan untuk meningkatkan kewaspadaannya, pihaknya juga terus berkomitmen untuk melakukan sosialisai dan edukasi kepada masyarakat itu sendiri.

"Kalau kepada perbankan kita berikan pelatihan, juga edukasi kepada masyarakat, seperti sosialisasi di pasar, selebaran stiker dan kalender yang berisi tentang cara mengenali uang palsu, dan lain sebagainya. dengan demikian diharapkan mereka pun terbentengi dari kerugian," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya akan terus mendorong masyarakat untuk menggunakan transaksi non-tunai dengan uang elektronik, karena selain lebih sederhana dan praktis, juga akan menekan potensi peredaran uang palsu di masyarakat.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya