PIPA GAS CIREBON-SEMARANG : Sarana Pembangunan Cari Pendanaan

Oleh: Anggara Pernando 23 Oktober 2017 | 02:00 WIB
PIPA GAS CIREBON-SEMARANG : Sarana Pembangunan Cari Pendanaan
[ilustrasi] Pipa Gas-1./ANTARA

SEMARANG — PT Sarana Pemba­ngunan Jawa Tengah (SPJT) akan meng­andalkan dukungan pendanaan dari lembaga pembiayaan untuk terlibat dalam pembangunan pipa gas Semarang–Cirebon.

Direktur Utama SPJT Krisdiani Syamsi mengatakan dana pembangunan jalan tol untuk gas ini mencapai US$490 juta dengan pemegang konsesi PT Rekayasa Industri (Rekind). Kepesertaan SPJT, kata dia, ditargetkan sebanyak 10% atau setara dengan investasi US$49 juta.

“Jika 70% dari pinjaman, maka yang menjadi porsi SPJT [sebanyak 30%] se­tara dengan US$14,7 juta atau sekitar Rp199 miliar [kurs Rp13.000],” kata Kris­diani di Semarang, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan untuk porsi SPJT sebesar 30% pihaknya menyiapkan sejumlah skenario dan pembiayaan akan mengandalkan beragam sumber.

Direktur SPJT J. Dwi Kuncoro menga­takan terdapat beberapa skim yang sedang disiapkan untuk merealisasikan partisipasi dalam jalan tol gas ini dapat terwujud, tetapi dia enggan menjelaskan lebih detail.

“Prinsipnya me-leverage modal. Jadi tidak cash keluar, ini dalam proses,” kata­nya.

Meski skema pembiayaan telah disiap­kan, Dwi mengatakan, pihaknya baru akan mengucurkan penyertaan jika hasil kajian proyek itu telah rampung. Ini ter­utama yang terkait dengan sumber gas dan pembeli akhir yang siap menampung.

“Kajian ini akan kami lakukan de­ngan sungguh-sungguh yakni dengan meng­gandeng pihak yang netral dan kompoten. Dari kajian akan terbaca ke­mampuan off-taker [pengguna gas]. Yang membeli dimana dan berapa, setelah itu kita macth-kan dengan suplainya berapa,” katanya.

Dwi mengatakan Rekind sebagai peme­gang konsesi hanya diperpanjang 1 tahun oleh BPH Migas untuk memulai pembangunan setelah 10 tahun belum memulai tahapan konstruksi, pihak SPJT tidak mempermasalahkan. Pasalnya perusahaan baru akan memutuskan mengucurkan investasi setelah syarat dan kelayakan proyek terpenuhi. “Kami harus memastikan semuanya clear dulu, kalau tidak clear kami tidak akan berani,” katanya.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah, Rukma Setyabudi, mengharapkan jalur distribusi gas melalui pipa ini dapat segera terwujud. Pasalnya masyarakat industri di Jawa Tengah telah menunggu sangat lama, yakni mencapai 10 tahun untuk mendapatkan akses gas yang lebih murah dan selalu tersedia.

“Bagi kami, teknis silakan antar perusahaan [SPJT dan Rekind]. Yang terpenting masyarakat terlayani dengan baik. Jangan hanya persoalan teknis membuat masyarakat tidak terlayani dan berlarut-larut. Pelayanan kepada ma­syarakat seharusnya diutamakan, sehingga masyarakat lebih mudah dapat pasokan gas.”

Kehati-hatian

Lebih lanjut, dia mengingatkan meski mengharapkan segera teralisasi, pihaknya juga mengingatkan BUMD Jawa Tengah yang terlibat mengedepankan kehati-hatian. Menurutnya, jangan sampai investasi yang dikucurkan mandek sehingga merugikan warga Jawa Te­ngah karena investasi yang terlanjur di­tempatkan sulit ditarik kembali.

“Bagi kami [dengan hadirnya pipa gas Semarang-Cirebon] semoga masyarakat bisa terlayani dengan baik. [Juga jangan sampai] ada uang [investasi BUMD] macet dan mandek karena merugikan masyarakat,” katanya.

Pipa Cirebon–Semarang merupakan bagian dari proyek integrasi pipa gas TransJawa. Adapun, proyek TransJawa terdiri dari tiga proyek utama yaitu Jawa bagian Barat dengan nilai investasi US$300 juta dengan jalur Cirebon–Kandang Haur Timur (KHT) sepanjang 84 km dan Tegal­gede–Muara Tawar 50 km. Kedua, Jawa bagian Utara senilai US$400 juta dengan jalur Cirebon–Semarang 235 km.

Terakhir, Jawa bagian Timur senilai US$360 juta dengan jalur Semarang-Gresik sepanjang 271 km dan East Java Gas Pipeline (EJGP)–Grati senilai US$58 juta 22,1 km. Pipa Gas Cirebon–Semarang sendiri diharapkan mulai dibangun pada 2018 dan rampung dalam 33 bulan. Target ini setelah Rekind sebagai pemegang konsesi menggandeng Pertagas, serta BUMD Jawa Tengah dan Jawa Barat sebagai mitra strategis.

Gabungan pe­ru­sahaan ini akan mem­bentuk peru­sahaan patungan dengan Rekind sebagai pemegang saham ma­yoritas. Adapun Rekind, anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero), telah me­ngantongi konsesi jalur pipa gas ini sejak 2006.

Dalam rapat dengan komisi energi DPR RI, Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas (BPH Migas) menyatakan memberi perpanjangan waktu 1 tahun kepada perusahaan untuk merealisasikan target jalan tol bagi gas ini.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya