Inflasi Kalbar Berpotensi Tinggi Pada Akhir Tahun

Oleh: Yanuarius Viodeogo 05 November 2017 | 01:39 WIB
Warga membawa bungkusan berisi bawang putih yang dibelinya saat pasar murah di Pasar Flamboyan, Pontianak, Kalbar, Selasa (30/5)./Antara-Jessica Helena Wuysang

Bisnis.com, PONTIANAK – Bank Indonesia mencermati kondisi peredaran bahan pangan di Kalimantan Barat menjelang akhir tahun ini menyusul terjadi deflasi tertinggi pada Oktober 2017, dalam 3 tahun terakhir ini.

Asisten Direktur Kantor Perwakilan BI Kalbar Adhinanto Cahyono memprediksi hingga akhir tahun ini, bakal terjadi peningkatan tekanan inflasi Kalbar disebabkan tidak adanya komoditas administered prices (AP) yang mengalami deflasi bakal menyebabkan laju inflasi komoditas AP pada Oktober menjadi tidak tertahankan.

“Berdasarkan pemantauan pola histrois selama 4 tahun terakhir (2012-2016), tekanan inflasi November terutama bersumber dari potensi risiko inflasi beberapa komoditas seperti jeruk, sawi hijau, cabai rawit dan tarif angkutan udara,” kata Adhinanto kepada Bisnis, Sabtu (4/11/2017).

Sebagaimana diketahui, Deflasi pada Oktober 2017 ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historisnya dalam tiga tahun terakhir yang tercatat sebesar -0,31% month to month (m-t-m).

Komoditas yang memberikan andil terbesar deflasi adalah komoditas kelompok volatile foods (VF) seperti ikan kembung, sawi hijau, ikan tongkol, cabai rawit dan bawang merah.

Beberapa faktor disebabkan oleh kembali normalnya pasokan ikan tangkap didukunga oleh kondisi cuaca yang membaik di lautan lepas mendorong koreksi harga ikan di pasaran.

Selain itu, melimpahnya pasokan cabaik rawit dan bawang merah dari luas Kalbar membuat pedagang memilih menurunkan harga agar menghindari risiko rusaknya stok barang.

Editor: Fajar Sidik

Berita Terkini Lainnya