Satgas Perusahaan Didorong untuk Penyelamatan Orangutan di Kaltim

Oleh: Muhamad Yamin 14 November 2017 | 17:09 WIB
Satgas Perusahaan Didorong untuk Penyelamatan Orangutan di Kaltim
Suasana Penyusunan Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK)Orangutan Indonesia di Hotel Grand Victoria Samarinda, Selasa(14/11/2017)/Bisnis.com

Bisnis.com, SAMARINDA - Satuan Tugas (Satgas) konservasi orangutan perusahaan-perusahaan di Kalimantan Timur didorong untuk berperan menyelamatkan orangutan yang berkonflik dengan masyarakat. Karena, orangutan kerap masuk ke pemukiman dan kebun warga untuk mencari pakan. 

“Satgas-satgas perusahaan konservasi orangutan sudah ada hampir merata di Kaltim. Tinggal perlu membangun komunikasi antara perusahaan dan pemerintah. Agar, warga desa mudah mau melapor kemana ketika ada konflik dengan orangutan,” jelas Peneliti orangutan dari Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Yaya Rayadin, Selasa (14/11/2017).

Yaya Rayadin menjelaskan di wilayah Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kartanegara terdapat Satgas Perusahaan Konservasi orangutan dari PT Surya Hutani Jaya dan Sumalindo Hutani Jaya. Dua perusahaan ini bisa diandalkan mampu melakukan konservasi orangutan sampai wilayah Kecamatan Muara bengkal dan Muara ancalong Kabupaten Kutai Timur.

"Sedangkan di Kecamatan Bengalon, terdapat satgas perusahaan dari Teladan Prima Group yang bisa mencakup wilayah Karangan. Ada juga perusahaan tambang KPC (Kaltim Prima Coal) dan Indominco untuk konservasi orangutan sekitar sungai santan,” kata Yaya.

Terbatasnya pengawasan dari petugas pemerintah untuk melakukan konservasi, maka satgas perusahaan yang berada terdekat konflik orangutan di desa, bisa membantu.

Diperkirakan sekitar 6.000 individu orangutan hidup dalam ancaman di Bentang Alam Kutai, seluas 3 juta hektar  berada di beberapa kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Kutai Barat.

“Melihat kondisi kritis mamalia besar ini, sebenarnya sudah banyak pihak yang menyadarinya. Forum Multipihak sudah didirikan atas mandat SRAK (Strategi Rencana Aksi Konservasi),” kata Yaya saat menghadiri Penyusunan SRAK di Hotel Grand Victoria Samarinda.

Sementara itu, Fasilitator dari Forum Orangutan Indonesia (Forina) Pahrian Siregar menjelaskan SRAK Orangutan Indonesia periode 2007-2017, sudah berakhir. 

“SRAK sebagai dokumen negara yang ditetapkan menjadi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, diharapkan mampu menjaga dan menyelamatkan orangutan di Indonesia. Hasil Pertemuan penyusunan SRAK tahun 2017-2027 di Kalimantan Timur hari ini menyusun akan digabungkan dengan pertemuan serupa se-Kalimantan dan se-Sumatra untuk merumuskan SRAK nasional,” katanya.

Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Ekosistem Kalimantan Timur Sunandar Trigunajasa Nurochmadi mengatakan kemajuan Kalimantan Timur cukup luar biasa dalam penanganan satwa liar. 

"Konflik berkurang dan sudah sedikit laporan satwa liar yang dipelihara masyarakat,” kata Sunandar juga menghadiri penyusunan SRAK.

Balai Konservasi yang awalnya menerima laporan konflik setiap minggu bisa tiga kali, sekarang rata-rata hanya sekitar dua pekan sekali. 

Sunandar mengatakan komitmen para pemangku kepentingan (pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat) di Kalimantan Timur ini sudah membaik. Secara populasi, menurut Sunanda ada kecenderungan penurunan kepadatan orangutan. 

Namun, ia mengingatkan, untuk menghitung populasi satwa liar itu sulit. Sehingga tidak ada angka pasti untuk populasi orangutan Kalimantan Timur, perkiraannya ada di kisaran 54 ribu individu.

 

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya